Menajamkan Komunikasi Dakwah Daring dalam Ramadhan 1438 H

Kompas.com - 05/06/2017, 19:18 WIB
Umat muslim menjalankan shalat tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (26/5/2017). Pemerintah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1438 Hijriah jatuh pada Sabtu (27/5/2017). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOUmat muslim menjalankan shalat tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (26/5/2017). Pemerintah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1438 Hijriah jatuh pada Sabtu (27/5/2017). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
EditorLaksono Hari Wiwoho

Ada fenomena baru yang menarik, manakala penggagas dan pembentuk opini (opinion leader) di masyarakat, kian hari kian banyak berasal dari pengguna biasa media sosial. Hal yang terasa tak mungkin dalam 10-15 tahun silam, ketika media massa konvensional masih sangat dominan.

Jika sebelumnya harus memiliki jejak rekam panjang akademik atau pergerakan, barulah bisa memengaruhi via legacy media massa, rumus serupa tak terjadi di new media. Bahkan anak baru gede (ABG) pun bisa menjadi rujukan publik setelah tulisannya menuai viralitas.

Sifat dasar media baru yang anonimitas, emosional, dan cukup menafikan jejak rekam, juga membuat opinion leader tak lagi "terkungkung" aneka aturan main karena siapa pun bisa memengaruhi khalayak dengan aturan cair dan luwes.

Situasi ini pula yang membuat antara lain memunculkan banyak para pembentuk opini yang kental spirit Islam dan dakwah, tanpa kita sebenarnya pernah mengenal lekat jejak rekamnya dalam literatur maupun organisasi keislaman.

Tentu, sekalipun kondisinya demikian dan bahkan jadi banyak bercampur konten politik praktis, situasi ini tetap harus disyukuri. Sebab, sejatinya proses berdakwah, bukanlah domain ulama dan asatidz semata, namun kewajiban seluruh Muslim.

Semakin banyak sesama Muslim mengingatkan kebaikan sekaligus mencegah hal munkar (amar ma'ruf nahi munkar) adalah kondisi ideal pada komunikasi Islami --sekalipun komunikan dan komunikator terikat kondisi anonim, emosional, dan belum lama membangun relasi jejak rekam.

Tantangannya kemudian, kehadiran pelbagai komunikator dakwah "dadakan" ini haruslah tetap hanif, amanah, dan nyata membangun kebermanfaatan bagi umat. Dalam parameter sederhana, audiens new media akan lebih baik berlaku dan bersikap setelahnya.

Sekalipun tak saling mengenal satu sedari awal, tapi paparan komunikasi dakwahnya membuat yang paling mudah tampak adalah akhlaq menjadi lebih baik. Jadi, bukan masalah besar dengan kehadiran opinion leader Islami di medium siber tadi.

Selama konten yang disampaikan berada dalam koridor Al Quran dan hadis sahih, komunikator "baru" ini sesungguhnya kian memunculkan oase fungsi platform media daring di tengah berbagai kehadiran cybercrime dan hatespeech yang kian marak.

Itulah sebabnya, penulis berikhtiar menajamkan komunikasi dakwah daring pada Ramadhan 1438 Hijriah ini dengan berpijak pada dua kerangka pemikiran.  

Pertama, mari simak hadis riwayat Bukhari bahwa, "Inna ba’dha al-bayani lasihrun (Sesungguhnya dalam kemampuan berbicara yang baik terdapat kekuatan sihir)."

Status komunikator dakwah yang viral, baik di media sosial maupun grup pesan instan, adalah manifestasi ucapan Baginda Rasul SAW tersebut. Pidato kita terjemahkan tak lagi dalam medium konvensional berupa berbicara di podium depan ribuan khalayak.

Pidato kekinian jelas menggunakan sarana komunikasi mutakhir, termasuk di dalamnya adalah media sosial dan pesan instan tersebut. Dengan kemampuan menyihir khalayak tadi, rasanya sudah cukup jika viralitas konten semrawut seperti pada Pilkada Jakarta 2017 lalu, kekentalan politik praktis lebih tebal terasa daripada paparan nasehat amar ma'ruf nahi munkar serta watawa soubil haq watawa soubil sobri.  
 
Kedua, parameter komunikasi Islami antara lain tercirikan enam hal: Qaulan Sadida (perkataan benar dan tegas), Qaulan Baligha (perkataan tepat, lugas), Qaulan Ma’rufa (perkataan baik dan pantas), Qaulan Karima (perkataan mulia dan hormat), Qaulan Layinan (perkataan lemah lembut, enak didengar), dan Qaulan Maysura (perkataan ramah, dapat menyetuh hati).

Dalam amatan penulis, dua parameter awal yang baru dirasakan sementara empat parameter terakhir relatif belum kuat atau massif terlaksana secara keseluruhan. Artinya, dampak dakwah cenderung belum seluruhnya efektif efisien di masyarakat.

Justru, karena itulah, terutama lemahnya pelaksanaan parameter Qaulan Maysura, imaji yang kemudian terbangun seolah-olah komunikator dakwah media daring banyak yang sekedar politisasi ayat, kapitalisasi dalil, hingga Islam yang "pemaksa."

Dalam spirit sepuluh hari pertama Ramadhan ini, dan terutama selepas bulan puasa ini, penulis menyodorkan sejumlah strategi perancangan komunikasi dakwah daring yang lebih kokoh serta mampu merangkul lebih banyak warganet.

Yang utama secara prinsip adalah merancang dengan matang konten yang akan dirilis. Namun, di sisi lain tetap memperhitungkan kecepatan penggunggahan, ketepatan momentum, hingga dampak krisis komunikasi yang akan muncul.

Sifat irreversible communication menuntut komunikator dakwah daring jangan pernah merilis konten yang mentah dan tak benar dikuasainya. Alih-alih niat baik mengajak warganet dalam kebaikan, yang terjadi adalah respon negatif yang dieksploitasi.

Terutama untuk komunikasi dalam bentuk lisan, tidak bisa didasarkan pada spontanitas dan improvisasi materi dakwah secara terus menerus. Hal ini karena jelas lebih mungkin memunculkan krisis komunikasi daripada ketepatan efek komunikasi.

Demikian pula yang memilih dalam bangun rupa tulisan dan multimedia. Pikirkan dan rancang sedari awal dengan tepat tapi cepat, karena jika kemudian misalnya postingan tersebut dihapus, ini adalah afirmasi desain komunikasi yang jelek dan otomatis akan kontraprodutif.

Ingat, kemudahan penyebaran informasi pada era konvergesi media saat ini adalah anugerah yang selalu harus dibantengi agar jangan jadi musibah dengan penguatan peran dan fungsi profesionalisme para pegiat dakwah Islam.

Ide Ronald Deibert (1997) bahwa hypermedia/cybermedia sudah semakin sahih karena demikian mudahnya dan luwesnya pergerakan informasi digital antar berbagai media melalui perantaraan gawai. Telepon genggam, tweets, surel, media sosial, pesan teks, kamera digital, video online, hingga surat kabar elektronik, demikian mudahnya membentuk lingkungan yang komunikatif.

Selain perancangan matang, patut juga dipikirkan tentang kemampuan pengelolaan arus komunikasi yang berlangsung beberapa arah. Peran produsen dan penerima informasi pada hari ini bukan saja saru, tapi bahkan diacak, sehingga lebih banyak masyarakat yang mampu berperan membentuk pesan komunikasi. Ini membuat proses timbal balik kian kental dan intens dalam budaya digital masyarakat Indonesia saat ini.

Namun sekali lagi, dalam hemat penulis, timbal balik yang tak betul dikelola ini dapat dengan mudah tercipta kondisi chaos informasi di masyarakat saking tergagap dan rusuhnya proses penyebaran dan respons informasi.

Last but not least, penguatan peran nyata para komunikator dakwah tersebut dalam wujud civic journalism yang bermartabat. Yakni, pendakwah daring tak sebatas berkutat dengan kata, namun menyitir WS Rendra, juga mampu melakukan "perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata".

Inilah era yang kian mendorong komunikator dakwah new media tak sekadar menyampaikan berita, opini, hingga kritik sosial semata. Lebih jauh dari itu, berupaya menciptakan dan mendorong kemajuan secara konkret, sekaligus memotivasi semangat masyarakat dalam memberikan kiprah terbaik bagi negeri ini.

Spirit inilah yang harus kita jaga bersama. Tekad turun tangan langsung dengan gigih guna menciptakan solusi dan medium atas kemajuan bangsa. Bangsa ini memerlukan individu dan kelompok yang bersama mencarikan solusi konkret, alih-alih sekadar kritik tidak konstruktif. Semuanya tak berhenti dalam tataran wacana, namun jauh dari itu, bisa menggerakkan kebaikan dan produktivitas publik.

Pada akhirnya, semoga Ramadhan 1438 H ini mampu kita isi dengan enam parameter spirit komunikasi Islami tersebut. Agar apa pun bentuk medianya (legacy/new media) kita tak terus berkutat dalam adu wacana tak bertepi, seraya lupa peluang emas mendulang lautan pahala di bulan langka ini. Wallahu a'lam.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X