Berkah Kebahagiaan untuk Lansia di Panti Jompo - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Garda Oto

Berkah Kebahagiaan untuk Lansia di Panti Jompo

Kompas.com - 27/05/2017, 04:11 WIB
Dok Garda Oto Ilustrasi menularkan senyum pada lansia.

KOMPAS.com- Di Indonesia, jumlah lansia tercatat data Badan Pusat Statistik (BPS) 2014 mencapai 20,24 juta jiwa atau setara dengan 8,03 persen seluruh penduduk di Indonesia pada tahun itu.

Saat ini, sebagian besar lansia tinggal bersama dengan keluarga besarnya. Diketahui, sebanyak 42,32 persen lansia tinggal bersama tiga generasi dalam satu rumah tangga.

Kemudian, 26,80 persen lansia lain tinggal bersama keluarga inti. Sementara yang tinggal hanya bersama pasangannya sebesar 17,48 persen.

Hal yang patut mendapat perhatian adalah mereka yang tinggal sendirian dalam satu rumah atau rumah tangga tunggal lansia.

Sebanyak 9,66 persen lansia tinggal sendirian dan harus memenuhi kebutuhan makan, kesehatan, dan sosialnya secara mandiri.

Sedangkan, lansia yang tinggal di panti jompo tak diketahui jumlahnya. Meski demikian, salah satu hal positif yang bisa dimunculkan dari panti jompo adalah menjadi tempat berbagi kebahagiaan—dimana para lansia tetap bisa interaksi satu sama lain.

Myanmar punya cerita. Tin Tin, perempuan gaek berusia 87 tahun, menunjukkan wajah tersenyum tatkala petugas panti jompo Twilight Villa di East Dragon Township, Yangon, Myanmar membolehkan dirinya membawa boneka tinggal bersamanya.

Boneka berbentuk bocah lelaki berukuran tinggi satu meter itu bak punya "roh" yang mengisi kesepiaan hidup nenek tersebut. Laman worldofbuzz.com, per Februari tahun ini, menuliskan kisah yang membuat netizen pun baper—ungkapan terbawa perasaan.

Kesepian, tulis seorang blogger yang berprofesi sebagai dokter di laman Kompas.com pada 29 November 2012, adalah pemicu kematian. Apalagi, bila kesepian itu menjangkiti warga lanjut usia.

(Baca: Pasien Ini Meninggal karena Kesepian!)

Berbagi bahagia

Meski, menjadi tua adalah keniscayaan, masih cukup banyak dijumpai pengalaman bahwa justru di masa tua, seseorang justru seperti tercerabut dari ingar-bingar kehidupan.

Dr Samlee Plianbangchang, Direktur Regional WHO kawasan Asia Tenggara, dalam laman web satuharapan.com, Selasa (20/1/2015), berpandangan bahwa berada dekat keluarga adalah tempat terbaik bagi seseorang menghabiskan masa tua.

Namun, karena tak semua lansia bisa tinggal dekat dengan keluarga, panti jompo adalah alternatifnya.

Dok Garda Oto Ilustrasi lansia di panti jompo.

Di luar cerita Tin Tin, pada dasarnya tempat itu dibuat agar lansia bisa dirawat tanpa merasa kesepian. Walaupun sebenarnya, tugas bagi mereka yang masih berada dalam usia produktif lah untuk membuat para lansia berbahagia.

Wali Kota Bandung, Rdwan Kamil pernah mengungkapkan program yang ia rencanakan untuk lansia di Kota Bandung, Sabtu (25/2/2017) sebagai bentuk perhatian.

Sebagai langkah awal, ia memulainya dengan membuat Kongres Lansia di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum. Cara itu dipakai untuk mengumpulkan aspirasi para lansia untuk landasan program.

Usut punya usut, ide itu datang karena ia terkesan dengan penghargaan pada lansia di beberapa negara yang pernah ia singgahi saat mengenyam pendidikan di luar negeri.

“Waktu di Amerika, saya lihat tiap Sabtu di Alun-alun New York penuh lansia. Ternyata, di sana ada tradisi bahwa alun-alun hanya didedikasikan untuk lansia, hari itu saya cukup terperangah," ucap Emil sebagaimana ia akrab disapa.

Singapura juga. Sebagai bentuk penghargaan pada lansia, negara ini tetap mempekerjakan mereka, tetapi di bidang yang tak banyak menguras tenaga.

“China berbeda lagi. Pernah saya dengan suara musik dari suara belokan (tikungan jalan). Ternyata kakek-kakek dan nenek-nenek sedang joget. Semua senyum bahagia. Ya, diperlukan ruang kota yang bisa mereka nikmati,” tambahnya.

Tiga pengalaman itu yang menginspirasi Emil untuk membuat program bagi lansia. Keluarannya adalah agar mereka berbahagia dan tidak kesepian.

(Baca: Ini Upaya Ridwan Kamil agar Orang Lansia di Bandung Bahagia)

Berbagi kebahagiaan yang paling dasar dan mudah, sebetulnya, tulis Nohan Arum dalam laman nohanarum.com, adalah dengan tersenyum.

"Saya pribadi merasa sangat bahagia ketika bisa berbagi senyum," tulis Nohan Arum.

Dok Garda Oto Pada dasarnya, tugas mereka yang berusia produktif lah untuk menularkan senyum dan kebahagiaan pada lansia.

Ulasan soal senyum juga pernah dibahas oleh Kompas.com, Rabu (10/2/2015). Seulas senyum, sebut artikel tersebut, akan membuat kegembiraan muncul baik dari dalam mau pun luar diri seseorang.

Dijelaskan pula bahwa ada sebelas alasan mengapa senyum amat baik dilakukan meskipun seseorang tak merasa perlu.

Di antaranya, senyum dapat memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, dan memudahkan orang saat berinterakasi. Hal penting lainnya diebutkan bahwa senyum itu menular.

Marco Lacoboni, seorang ahli neurosains menjelaskan bahwa maunsia memiliki sesuatu yang disebut cermin neuron.

“Sel-sel premotor cortex dan inferior parietal cortex aktif ketika kita bertindak, serta saat menyaksikan orang lain melakukan sesuatu,” ucapnya.

Nah, ketika tersenyum, cermin neuron menanggapinya. Itu yang bisa membuat orang yang melihat senyuman dari orang lain merespons.

Senyum, sebagaimana banyak orang mafhum, adalah cara paling murah mendatangkan berkah. Cara itu juga yang kemudian dipakai Asuransi Astra untuk mengajak para netizen menyebarluaskannya melalui kampanye sosial #BerkahSenyum sejak 22 Mei 2017 sampai dengan 19 Juni 2017.

Keikutsertaan pada program yang bisa dilihat secara komplet pada berkahsenyum.asuransiastra.com bakal berujung pada berkah bagi para lansia di 23 kota termasuk Banjarmasin, Denpasar, Palembang, Padang, Jambi, Makassar, Manado, dan Batam, serta Jakarta.

Pastikan sekarang juga senyum Anda membawa berkah!     

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorSri Noviyanti