Hanura Anggap Isu Agama Batu Sandungan Utama Kekalahan Ahok

Kompas.com - 21/04/2017, 11:05 WIB
Terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengikuti sidang lanjutan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Dalam sidang yang beragendakan pembacaan tuntutan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan Ahok bersalah dan dipidana penjara 1 tahun. POOL / ANTARA FOTO / MUHAMMAD ADIMAJATerdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengikuti sidang lanjutan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Dalam sidang yang beragendakan pembacaan tuntutan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan Ahok bersalah dan dipidana penjara 1 tahun.
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab kekalahan pasangan Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat pada kontestasi Pilkada DKI Jakarta.

Wakil Sektetaris Jenderal Partai Hanura Dadang Rusdiana menilai isu agama menjadi hal utama yang menjegal langkah pasangan petahana untuk kembali memimpin ibukota.

"Saya melihat memang isu agama terutama dugaan penistaan agama adalah faktor utama yang membuat Ahok-Djarot kalah," ujar Dadang melalui pesan singkat, Jumat (21/4/2017).

(Baca: Politisi PDI-P: Banyak Faktor Ahok Kalah, Salah Satunya Keluhan Birokrat)


Dadang mengaku hasil Pilkada DKI putaran pertama sudah menunjukkan bahwa perjuangan Ahok-Djarot ke depan akan berat.

Hasil rekapitulasi KPU DKI dalam Pilkada DKI putaran pertama, pasangan Ahok-Djarot memperoleh 2.364.577 suara atau 42,99 persen.

Sedangkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno memperoleh 2.197.333 suara atau 39,95 persen.

Bagaimana pun juga, kata Dadang, masalah agama merupakan isu yang sangat sensitif di Indonesia. Posisi pun menjadi sulit dengan head to head bagi petahana ditambah dengan persoalan berat tersebut.

(Baca: Pil Pahit Kekalahan Ahok dan Rano Karno Sinyal untuk PDI-P)

Di samping itu, partai politik yang baru bergabung mendukung Ahok-Djarot pada putaran kedua dinilai kurang maksimal dalam membantu kerja pemenangan Ahok-Djarot.

"(Mesin partai) pada putaran pertama optimal. Di putaran kedua parpol yang baru bergabung belakangan enggak berdampak," tutur Dewan Pengarah Tim Pemenangan Ahok-Djarot itu.

Namun, ia mengapresiasi sikap legawa Ahok-Djarot yang berhati besar menerima kekalahan tersebut.

"Kami apresiatif dengan jiwa besar Ahok-Djarot. Contoh baik dalam demokrasi. Bersumbu panjang, tidak bersumbu pendek," tuturnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X