Muhammad Sufyan
Dosen

Dosen Digital Public Relations Telkom University, Mahasiswa Doktoral Agama dan Media UIN SGD Bandung. Salah seorang pemenang call for paper Konferensi Nasional Tata Kelola Pemilu Indonesia KPU RI 2019.

Berkomunikasi ala Sunan Gunung Jati, Berterima Kasih kepada Orang Arab

Kompas.com - 03/03/2017, 07:02 WIB
Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al Saud bersama Presiden Joko Widodo mendatangi Masjid Istiqlal, Jakarta, yang merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan di Indonesia, Kamis (2/3/2017). Di Masjid Istiqlal Raja Salman dan Presiden Joko Widodo melakukan shalat tahiyatul masjid didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. TRIBUNNEWS / HERUDINRaja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al Saud bersama Presiden Joko Widodo mendatangi Masjid Istiqlal, Jakarta, yang merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan di Indonesia, Kamis (2/3/2017). Di Masjid Istiqlal Raja Salman dan Presiden Joko Widodo melakukan shalat tahiyatul masjid didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar.
EditorLaksono Hari Wiwoho

Ingar bingar kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud (81) nyata sudah, bahkan ketika kakinya belum menginjakkan Tanah Air tercinta. Masyarakat Indonesia, terutama netizen, seolah terbelah sikap untuk sesuatu yang belum pasti.

Sikap cinta berlebihan dan benci berlebihan (hater and lover) membuat air kebijaksanaan tak lagi jernih. Ada hal yang sulit disambungkan menjadi relevan, padahal kenyataan belum terjadi. Sebaliknya, yang realistis menjadi kabur dalam penghayatan.

Yang pasti, kunjungan gigantik raja dari Bani Saud ini sebetulnya hal realistis yang ada jejak rekamnya. Masuk akal karena dengan usia sepuhnya, maka perjalanan kenegaraan harus seefektif mungkin karena raga tak mungkin sering bepergian. Maka itu, sekaligus ada wisatanya--dan Indonesia patut tersanjung karena hanya plesiran di Bali dari tujuh negara yang dikunjungi sepanjang akhir Februari sampai dengan akhir Maret nanti.

Ada jejak rekamnya, karena seperti disebut harian Kompas edisi 27 Februari 2017, saat melakukan kunjungan kenegaraan Mesir dan Turki April 2016 lalu, Raja Salman juga masing-masing membawa rombongan raksasa 1.000 orang disertai ratusan mobil mewah seperti sekarang.

Bahkan, dengan tradisi mayoritas orang Arab Saudi berlibur di musim panas, raja yang naik tahta per 23 Januari 2015 ini juga membawa sekitar 1.000 orang saat berlibur ke Maroko dan Perancis pada musim panas tahun tersebut. Thus, nothing special with its number.      

Yang pasti (pula), alangkah lebih produktifnya jika kita menjadikan kunjungan ini sebagai refleksi. Bahwa orang Arab adalah saudara dekat bangsa Indonesia sejak lama (bahkan sebelum merdeka), yang dengan kemampuan komunikasinya yang akulturatif, Indonesia tercatat sebagai negara Muslim terbesar di dunia sejak lama hingga sekarang.  

Bahwa orang Arab adalah pendatang yang selalu mampu menyesuaikan diri dengan bumi tempat mereka berpijak, sehingga terutama bagi umat Muslim, karunia nikmat iman dan Islam bisa dirasakan sekaligus sulit diingkari atas peran mereka selama ini.

Mari berkaca pada Sunan Gunung Jati, seorang habib (keturunan langsung ke-21 Nabi Muhammad SAW dari silsisah cucu kesayangan, Sayid Husein), yang secara empirik berjasa menyebarkan agama Islam, terutama di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

Habib (Seikh) Muhammad Syarif Hidayatullah, nama asli Sunan Gunung Jati, adalah sejatinya komunikator andal. Ia mampu melakukan persuasi dengan cara soft power guna mengubah keyakinan lama ke ajaran Islam pada tiga provinsi primer di Indonesia tersebut.

Mereka yang tinggal di Bandung Raya, termasuk penulis, sulit menafikan sejarah bahwa keyakinan sekaligus berkah iman di kawasan ini disebarluaskan oleh Eyang Dalem Abdulmanaf dari Kampung Mahmud, yakni keturunan ketujuh Sunan Gunung Jati. Bagi Muslim Bandung, maka sulit untuk tidak berterima kasih kepada orang Arab.

Lalu, bagaimanakah Sunan Gunung Jati berbicara di ruang publik? Apa metode komunikasi yang dilakukannya? Siapa saja peer group komunikasi yang dilibatkannya saat menerapkan komunikasi massa pada masanya?

Komunikasi Sunan Gunung Jati 

Khususnya bersumber dari Sunardjo dan EH Unang dalam bukunya "Selayang Pandang Sejarah Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon" terbitan Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon tahun 1996, ada beberapa catatan penting terkait cara komunikasi massa Sunan Gunung Jati.

Paling utama adalah pola komunikasinya yang kuat, yakni memandu dengan menjadi ulama sekaligus memimpin masyarakat dengan menjadi raja atau susuhunan.

Sunan Gunung Jati memimpin di Carbon--sebutan asli Cirebon--antara 1479 M dan 1568 M atau selama 89 tahun. Wilayah kedaulatan Carbon hingga 1530 M, hampir separuh lebih Provinsi Jawa Barat sekarang.

Penduduknya saat itu kurang lebih 600.000 orang dan sebagian besarnya beragama non-Muslim. Pelabuhan-pelabuhan penting di wilayah pantai utara Jawa Barat, seperti Banten, Sunda Kelapa, Lemah Abang, dan Muara Jati, seluruhnya dapat dikuasai oleh Carbon.

Pencapaian tersebut antara lain karena dalam kapasitasnya sebagai susuhunan, Sunan Gunung Jati memberlakukan pajak yang jumlah, jenis, dan besarnya disederhanakan sehingga tidak memberatkan rakyat yang baru terlepas dari kekuasaan kerajaan Sunda Galuh Pakuan Pajajaran (Sunardjo, 1996: 31-32).

Dalam posisinya sebagai raja ini pula, pengembangan agama Islam melalui komunikasi dakwah diprioritaskan dengan menyediakan sarana ibadat keagamaan dengan memelopori pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa serta masjid-masjid jami di wilayah bawahan Carbon.

Selain itu, tradisi pengiriman pajak terasi kepada kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang biasanya diserahkan setiap tahun (sebagai bukti pengakuan Carbon akan kedaulatan Kerajaan Sunda) dihentikan Sunan Gunung Jati sebagai simbol pernyataan berdirinya Kasunanan Carbon.

TRIBUNNEWS / HERUDIN Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al Saud melakukan shalat tahiyatul masjid di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (2/3/2017). Raja Salman berada di Masjid Istiqlal bersama Presiden Joko Widodo dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kenegaraan Raja Salman di Indonesia.

Selain itu, tercatat pula pertempuran melawan Portugis, Rajagaluh, dan Talaga, yang seluruhnya representasi agama non-Muslim. Jadi, dalam posisinya sebagai susuhunan inilah, kerajaannya (Keraton Pakungwati) intens dikomunikasikan ke masyarakat luas sebagai pusat pemerintahan kerajaan Islam di Pulau Jawa bagian barat kala itu.

Dari sinilah, syiar Islam ke daerah-daerah di Jawa Barat yang belum memeluk agama Islam, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Ia bahkan berhasil menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam tahun 1525 dan menyerahkan Kesultanan Banten kepada anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin, yang kemudian menurunkan raja-raja Banten.

Dengan makin kecilnya pengaruh kerajaan Sunda kala itu, komunikasi massa Islam yang dilakukannya kian menemukan titik terang dalam proses penyebarannya.

Akbarudin Sucipto, Koordinator Bidang Kepustakaan dan Kepurbakalaan Kraton Kaprabonan Cirebon, menulis bahwa sekalipun terdapat informasi sejarah bahwa Islam telah menembus Sunda sejak abad ke-7 M, namun proses islamisasi secara massal baru pada abad ke-16 M dengan hadirnya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati pada periode 1448-1568 tersebut.

Kerajaan Pajajaran pun akhirnya dikuasai dan rakyatnya di-Islam-kan. Bahkan, Syarif Hidayatullah menginvansi Sunda Kelapa (wilayah Jakarta saat ini). Penyerangan dipimpin Fatahillah, seorang Panglima Angkatan Perang Kerajaan Demak, yang kemudian menjadi menantu Syarif Hidayatullah.

Di lain pihak, dalam kapasitas ulama, Sunan Gunung Jati pada tahun-tahun pertama memulai tugas dakwahnya di Carbon. Dengan berperan sebagai guru agama menggantikan kedudukan Syeikh Datuk Kahfi yang mengambil tempat di Gunung Sembung, Pasambangan (dekat Giri Amparan Jati), hingga mendapat sebutan atau gelar Syeikh Maulana Jati/Syaikh Jati, lalu diteruskan mengajar di Dukuh Babadan (sekitar tiga kilometer dari dukuh Sembung) hingga akhirnya medan dakwahnya diperluas sampai ke Banten.

Dalam periode tersebut, segala tindak-tanduk maupun tutur katanya menekankan perilaku arif dan suri teladan cenderung tawadu. Ada beberapa petatah-petitihnya yang alih-alih menggunakan bahasa Arab karena beliau habib, tetapi menggunakan pendekatan lokal atau bahasa Jawa khas Cirebonan.

Terkait perilaku, misalnya, ada den Welas asih ing sepapada (harus menyayangi sesamanya) dan pemboraban kang ora patut anulungi (yang salah jangan ditolong).

Ada pula singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik), duwehna sifat kang wanti (miliki sifat yang baik), amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup), serta angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran).

Sementara terkait laku Islami sendiri, antara lain yen sembahyang kungsi pucuke pnah (jika shalat harus khusyuk dan tawadu seperti anak panah yang menancap kuat).

Demikian pula yen puasa den kungsi tetaling gundewa (jika puasa harus kuat seperti tali gondewa), ibadah kang tetap (ibadah itu harus terus-menerus), manah den syukur ing Allah (hati harus bersyuklur kepada Allah), dan kudu ngahekaken pertobat (banyak-banyaklah bertobat).

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (2/3/2017). Kunjungan Raja Salman ke Indonesia setelah 47 tahun lalu dalam rangka kerjasama bilateral Indonesia - Arab Saudi.
Semuanya itu tidak instan. Komunikasi massa yang teguh hasilnya hingga kini jelas memerlukan proses tak sebentar. Sunan Gunung Jati melakukan dalam kurun waktu sangat panjang.

Maka itu, posisinya sebagai seorang ulama mendapat gelar Waliyullah, dan gelar Sayidin Panatagama atau dalam tradisi Jawa disebut sebagai wakil Tuhan di dunia (Lasmiyati, 1995: 33-34).

Kesimpulannya, komunikasi massa sang penyebar Islam di Jawa Barat, Banten, dan sebagian Jakarta ini dilakukan dengan persuasif sekaligus intrusif pada saat tertentu secara konsisten dan berkesinambungan. Prinsip dakwah yang menekankan akhlak baik sangat ditonjolkan di kebanyakan momen dalam durasi waktu lama, namun tak segan membela kalam Allah SWT dengan pertempuran jika situasi menghendaki.

Akhir kata, mengutip petatah Sunan Gunung Jati, terkait kedatangan Raja Salman di Indonesia mulai 1 Maret 2017, maka marilah den bisa megeng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu) sekaligus aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anak Eks Pejabat Ditjen Pajak Diduga Turut Cuci Uang: Beli Jam Tangan Senilai Hampir Rp 900 Juta

Anak Eks Pejabat Ditjen Pajak Diduga Turut Cuci Uang: Beli Jam Tangan Senilai Hampir Rp 900 Juta

Nasional
KSP: Pengambilalihan Pengelolaan Wilayah Udara di Kepri Tegaskan Integritas Teritorial NKRI

KSP: Pengambilalihan Pengelolaan Wilayah Udara di Kepri Tegaskan Integritas Teritorial NKRI

Nasional
Indonesia Ambilalih FIR di Kepri, KSP: Selanjutnya Pastikan Kesiapan Infrastruktur

Indonesia Ambilalih FIR di Kepri, KSP: Selanjutnya Pastikan Kesiapan Infrastruktur

Nasional
Kronologi Perubahan Nama Satuan Elite TNI AU Korps Paskhas Jadi Kopasgat

Kronologi Perubahan Nama Satuan Elite TNI AU Korps Paskhas Jadi Kopasgat

Nasional
Johan Budi 'Ceramahi' Pimpinan KPK: Tak Ada Gunanya Ajari Orang, kalau Anda Tak Berintegritas

Johan Budi "Ceramahi" Pimpinan KPK: Tak Ada Gunanya Ajari Orang, kalau Anda Tak Berintegritas

Nasional
Ketum PBNU Tegur PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo karena Dugaan Terlibat Politik Praktis

Ketum PBNU Tegur PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo karena Dugaan Terlibat Politik Praktis

Nasional
Ketua DPR Harap Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura Kuatkan Komitmen Penegakan Hukum

Ketua DPR Harap Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura Kuatkan Komitmen Penegakan Hukum

Nasional
Eijkman Jelaskan Efektivitas Vaksin Booster Lawan Varian Omicron

Eijkman Jelaskan Efektivitas Vaksin Booster Lawan Varian Omicron

Nasional
Kerangkeng Manusia di Langkat, Pimpinan Komisi III Minta Penegak Hukum Tak Pandang Bulu

Kerangkeng Manusia di Langkat, Pimpinan Komisi III Minta Penegak Hukum Tak Pandang Bulu

Nasional
Airlangga Sebut Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Mesin Penggerak Perekonomian

Airlangga Sebut Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Mesin Penggerak Perekonomian

Nasional
Aliran Dana Pencucian Uang Mantan Pejabat Ditjen Pajak Diduga Sampai ke Eks Pramugari Siwi Widi Purwanti

Aliran Dana Pencucian Uang Mantan Pejabat Ditjen Pajak Diduga Sampai ke Eks Pramugari Siwi Widi Purwanti

Nasional
PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo Penuhi Panggilan PBNU di Jakarta

PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo Penuhi Panggilan PBNU di Jakarta

Nasional
KPK Tahan Eks Bupati Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa

KPK Tahan Eks Bupati Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa

Nasional
TNI AD Segera Bangun Kodim Hingga Satuan Zeni Baru di Awal Kepindahan Ibu Kota Negara

TNI AD Segera Bangun Kodim Hingga Satuan Zeni Baru di Awal Kepindahan Ibu Kota Negara

Nasional
Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat, Penyelenggara Negara yang Terlibat Perdagangan Orang Bisa Dikenai Pidana Tambahan

Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat, Penyelenggara Negara yang Terlibat Perdagangan Orang Bisa Dikenai Pidana Tambahan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.