Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyintas Setahun Setelah Bom Thamrin

Kompas.com - 16/01/2017, 18:24 WIB

KOMPAS - Inspektur Dua Denny Mahieu (48) berjalan pelan-pelan dari kursinya di bagian belakang menuju ”podium”, Sabtu (14/1) siang. Ada bekas luka bakar terlihat di siku kanannya.

”Kepala saya masih suka sakit,” kata penyintas bom di depan pos polisi di Jalan MH Thamrin, Jakarta, itu.

Denny merupakan petugas Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya yang menjadi salah satu korban selamat dalam ledakan bom di Jalan MH Thamrin pada 14 Januari 2016.

Hanya dalam hitungan puluhan menit sejak bom meledak, menjelang pukul 11.00 pada 14 Januari 2016, foto Denny menyebar di media sosial. Di salah satu foto, Denny tengah dievakuasi menggunakan mobil. Kepalanya berdarah, juga lengan dan kaki kanannya.

Setahun berlalu, di depan penyintas serangan teroris yang berkumpul atas inisiasi Aliansi Indonesia Damai (Aida) di Gedung Dewan Pers di Jakarta, Denny perlahan-lahan menceritakan ulang kejadian yang dialaminya menjelang ledakan bom itu.

Dia juga menuturkan, bagaimana dia berjuang memulihkan diri, lalu melepaskan diri dari rasa trauma. Dia merasa begitu terbantu oleh nasihat guru spiritualnya yang menenangkan.

Setahun lalu, dua ledakan di kedai kopi Starbucks dan pos polisi di Jalan MH Thamrin yang berjarak puluhan meter, yang diikuti tembakan, menyebabkan 7 orang tewas, terdiri dari 5 terduga teroris dan 2 warga sipil. Selain itu, 24 orang terluka.

Pada saat bom pertama meledak di Starbucks, John Hansen (34), karyawan swasta, tengah rapat dengan rekanan perusahaannya di gerai kopi itu. Ia menyatakan isi hatinya, selama setahun terakhir, dia memendam dendam, malu, dan takut. Ia kerap menyembunyikan identitasnya sebagai penyintas.

”Setelah bertemu dengan penyintas lain dan bertukar pikiran, saya menyadari untuk apa malu,” kata John, yang hingga kini pendengarannya terganggu akibat ledakan bom itu.

Penyintas ledakan bom di Hotel JW Marriott tahun 2003 dan penyintas ledakan bom di depan Kedubes Australia tahun 2004 juga membagikan pengalamannya menjalani kehidupan setelah teror itu terjadi. Saling tukar pengalaman dan menguatkan satu sama lain merupakan upaya penyintas terorisme ini untuk membantu rekannya.

Direktur Aida Hasibullah Satrawi menuturkan, organisasi yang dipimpinnya berusaha membantu penyintas bangkit melalui pendampingan penyembuhan ataupun konseling. Selain itu, penyintas diajak ”berdamai” dengan rasa dendam. Bagi penyintas yang sudah ”siap”, Aida memfasilitasi pertemuan penyintas dengan mantan teroris.

Aida bersama penyintas terorisme berharap pemerintah memasukkan klausul kompensasi ini dalam revisi UU Pemberantasan Terorisme. (GAL)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Januari 2017, di halaman 15 dengan judul "Penyintas Setahun Setelah Bom Thamrin".

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

KemenPPPA Minta Polri Pastikan Polwan Pembakar Suami Didampingi Psikolog Klinis

KemenPPPA Minta Polri Pastikan Polwan Pembakar Suami Didampingi Psikolog Klinis

Nasional
Katering Haji Disebut Bermasalah, Timwas DPR RI: Kami Ingin Memanusiakan Jemaah

Katering Haji Disebut Bermasalah, Timwas DPR RI: Kami Ingin Memanusiakan Jemaah

Nasional
Laporkan Hasil KTT Gaza ke Jokowi, Prabowo Singgung Strategi Jika Gencatan Senjata Tak Terwujud

Laporkan Hasil KTT Gaza ke Jokowi, Prabowo Singgung Strategi Jika Gencatan Senjata Tak Terwujud

Nasional
Prabowo: Afrika Memandang Indonesia sebagai Contoh Negara Berkembang yang Berhasil

Prabowo: Afrika Memandang Indonesia sebagai Contoh Negara Berkembang yang Berhasil

Nasional
Investor Asing Diyakini Tetap Tertarik Jika IKN Sesuai 'Master Plan'

Investor Asing Diyakini Tetap Tertarik Jika IKN Sesuai "Master Plan"

Nasional
KPK Tahan Pejabat Balai Teknik Perkeretaapian Jateng yang Tangani Puluhan Proyek Jalur Kereta

KPK Tahan Pejabat Balai Teknik Perkeretaapian Jateng yang Tangani Puluhan Proyek Jalur Kereta

Nasional
Soal Kasus 'Vina Cirebon', Mahfud: Menurut Saya Memang Ada Permainan

Soal Kasus "Vina Cirebon", Mahfud: Menurut Saya Memang Ada Permainan

Nasional
Muhadjir: Korban Judi Online Bukan Hanya Kalangan Bawah, Tapi Kalangan Atas dan Intelektual

Muhadjir: Korban Judi Online Bukan Hanya Kalangan Bawah, Tapi Kalangan Atas dan Intelektual

Nasional
Anak Buahnya Dilaporkan Hasto ke Dewas sampai Bareskrim, Direktur KPK: Kami Sambut Baik

Anak Buahnya Dilaporkan Hasto ke Dewas sampai Bareskrim, Direktur KPK: Kami Sambut Baik

Nasional
Staf Hasto PDI-P Mau Laporkan Penyidik KPK ke Bareksrim, tapi Ditolak

Staf Hasto PDI-P Mau Laporkan Penyidik KPK ke Bareksrim, tapi Ditolak

Nasional
Sita Hp Hasto, Direktur KPK Sebut Penyidik Sudah Siapkan Diri dan Tidak Asal

Sita Hp Hasto, Direktur KPK Sebut Penyidik Sudah Siapkan Diri dan Tidak Asal

Nasional
Klaim Sudah Bantu Korban Judi Online, Menko PMK: Mereka Dimasukkan Jadi Penerima Bansos

Klaim Sudah Bantu Korban Judi Online, Menko PMK: Mereka Dimasukkan Jadi Penerima Bansos

Nasional
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan, Kementerian KP Oper Kewenangan Sertifikasi AKP ke BPPSDM KP

Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan, Kementerian KP Oper Kewenangan Sertifikasi AKP ke BPPSDM KP

Nasional
Capaian Pertamina pada 2023: Berhasil Jalankan Program Unlock Value Pengembangan Usaha

Capaian Pertamina pada 2023: Berhasil Jalankan Program Unlock Value Pengembangan Usaha

Nasional
Prabowo: Kalau Tak Mau Gencatan Senjata, Israel Akan Sangat Terkucil di Dunia

Prabowo: Kalau Tak Mau Gencatan Senjata, Israel Akan Sangat Terkucil di Dunia

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com