#RIPIntan, Maafkan Kami Nak... Maafkan...

Kompas.com - 14/11/2016, 15:54 WIB
Salah satu kiriman gambar dengan tagar #RIPIntan dari akun Twitter ANSOR Cyber Media ?@ansor_jatim yang mengekspresikan duka mendalam atas meninggalnya Intan Marbun (3), balita korban ledakan bom molotov di Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur. TWITTER/ANSOR Cyber Media ?@ansor_jatimSalah satu kiriman gambar dengan tagar #RIPIntan dari akun Twitter ANSOR Cyber Media ?@ansor_jatim yang mengekspresikan duka mendalam atas meninggalnya Intan Marbun (3), balita korban ledakan bom molotov di Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur.
EditorWisnubrata

KOMPAS.com — "Adik kami akhirnya meninggal. Pagi ini masih di ruang jenazah RS AW Sjahranie," ujar Nopi, kerabat dari keluarga balita Intan Marbun (3).

Senin (14/11/2016), dukacita terasa di linimasa media sosial. Tagar #RIPIntan langsung menjadi topik tren di Twitter. Rasa pilu terasa begitu menyesap perih di sanubari para netizen.

Intan Marbun, balita mungil nan cantik itu mengembuskan napas terakhir pada Senin (14/11/2016) dini hari di RS AW Sjahranie. Ia tak lagi mampu menahan dampak ledakan bom molotov yang dilemparkan ke Gereja Oikumene pada Minggu (13/11/2016).

Baca: Seorang Bocah Korban Bom Molotov di Samarinda Meninggal Dunia

Kejengkelan netizen yang selama ini mengendap-endap di dalam hati, sebagian tampak ditumpahkan di media sosial. Kejengkelan itu terutama ditujukan kepada para elite politik dan figur publik yang selama ini hanya sibuk berebut kekuasaan dengan segala cara, lupa memelihara kebinekaan dan inklusivisme.

Gegap gempita perebutan kekuasaan di berbagai daerah memang sedang memanas jelang Pemilihan Kepala Daerah. Kabar pilu yang datang dari Kelurahan Sengkotek, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, itu seolah menyadarkan kita bahwa betapa kita makin permisif dengan berbagai sikap dan aksi intoleransi di berbagai daerah.

Ekstremisme pada akhirnya akan tumbuh subur pada lahan masyarakat yang terus memelihara api intoleransi. Propaganda politik yang memperdagangkan "ketakutan" dan "kemarahan" marak digunakan oleh segelintir elit.

Intan merupakan satu dari empat anak yang menjadi korban teror yang dilakukan seorang pemuda bernama Juhanda alias Jo bin Muhammad Aceng. Juhanda merupakan mantan narapidana kasus bom buku dan pernah mendekam di Lapas I Tangerang, yang kemudian belajar aliran ISIS di dalam lapas.

Baca: Pelaku Bom Samarinda Pernah Akan Bunuh Istrinya demi Masuk Surga

Melihat isi media sosial di Twitter dengan tagar #RIPIntan, tampak percakapan ini berasal dari berbagai kalangan yang terpukul dengan kejadian bom Sengkotek, Samarinda. Dhika, dengan akun Twitter @kakazifana, seolah mewakili suara kita sebagai warga negara yang merasa bersedih sekaligus bersalah.

Allahumaghfirlaha. Ananda, maafkan kami yg gagal melindungimu dr kebiadaban manusia2 yg mengatasnamakan agama di atas kebencian. #RIPIntan,” tulis Dhika.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X