Pahlawan dan Teladan Indonesia 2016 - Kompas.com

Pahlawan dan Teladan Indonesia 2016

Kompas.com - 14/11/2016, 09:58 WIB
Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati Arsana (5) sedang menaburkan bunga di Taman Makam Pahlawan Wisma Raga Satria Banyuwangi Rabu (31/8/2016)

Bulan November, bulan pahlawan. Bulan yang sungguh pas untuk kita mengilas-balik masa lalu dan berpikir tentang apa yang sudah kita lakukan untuk hidup ini.

Untuk saya, pahlawan adalah teladan. Setiap kali bulan ini datang, maka saya sempatkan berjalan ke lemari buku saya dan mencari kisah-kisah dalam buku yang bisa saya jadikan teladan.

Indonesia dengan sejarah panjangnya, tidak pernah sepi dari kisah-kisah keteladanan. Semoga tulisan singkat saya juga bisa mengajak kita untuk mencari teladan kita masing-masing. Inspirasi untuk kita dan anak keturunan.

Saya menemukan buku ini: Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru Menuju Kemakmuran (Prabowo Subianto, et.al., Institut Garuda Nusantara, 2009). Buku ini terbit tidak lama setelah Partai Gerindra berdiri.

Dalam halaman pengantarnya, Bapak Prabowo menulis renungannya atas makna pahlawan dalam hidupnya. Demikian kutipannya,

Paman saya, Subianto Djojohadikusumo terlibat langsung bersama kelompok-kelompok pemuda lainnya, aktif ikut mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan tanpa menunggu persetujuan dari pihak Jepang pada tahun 1945.

Ia kemudian menjadi perwira pertama dalam BKR/TKR yang menjadi Tentara Republik Indonesia dan cikal-bakal bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Ia gugur pada 25 Januari 1946 bersama adiknya, Suyono Djojohadikusumo,... Dua kakak-beradik yang gugur dalam hari yang sama, bersama puluhan kadet lainnya dalam Pertemuran Lengkong 1946.

... Dalam suasana seperti inilah saya lahir pada tahun 1951. Dalam kesadaran saya yang pertama, saya ingat selalu dibawa ke Taman Makam Pahlawan Tangerang.

... Mungkin dari situlah timbul rasa cinta tanah air yang mendalam pada diri saya. Cerita di meja makan selalu tentang keberanian para pemuda Indonesia melawan Belanda. Kisah-kisah heroik itulah yang sering saya dengar dari kakek dan orang tua saya...”                            

-Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru Menuju Kemakmuran (Institut Garuda Nusantara, 2009:viii-ix).

Saya ingin gunakan kutipan tulisan itu sebagai penggugah kita. Sebuah fokus kecil. Bagaimana sebuah cerita keteladanan pahlawan begitu merasuk dan membentuk karakter seseorang sejak ia kanak-kanak hingga dewasa. Sudah banyak kisah hidup seorang tokoh yang membuktikannya.

Tulisan pengalaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tentang masa kecilnya yang dimuat dalam buku Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru Menuju Kemakmuran tersebut adalah salah satunya.

Keteladanan lewat kisah-kisah kepahlawanan kedua pamannya, yang namanya melekat sebagai nama tengah dua bersaudara Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Hashim Suyono Djojohadikusumo.

Kisah yang terus-menerus diceritakan ini membuatnya eling akan jati dirinya. Bapak Prabowo di masa remaja sampai dewasa, telah terbangun rasa cinta kepada tanah airnya, rasa keinginan untuk mengangkat harkat bangsanya dan keyakinan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar.

Beliau lalu dengan yakin memilih hidup di masa dewasanya sebagai seorang militer. Sama dengan kedua paman yang dikaguminya.

Pahlawan dan Teladan

Pengalaman saya yang masih sangat tipis dalam dunia politik, kemudian membawa saya pada satu kesimpulan: keteladanan adalah hal utama dalam jejak kehidupan seseorang.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Fragmen pertempuran antara arek Suroboyo dengan Tentara Inggris saat Parade Surabaya Juang di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Minggu (8/11/2015). Parade Surabaya Juang dilakukan untuk menyambut Hari Pahlwan dengan rute Tugu Pahlawan melintasi Jalan Tunjungan dan berakhir di Balaikota Surabaya.
Tokoh-tokoh seperti Bapak Subianto dan Bapak Suyono, pahlawan pertempuran Lengkong, Bapak AURI Marsekal Soeriadi Suryadarma, Panglima Besar Jenderal Soedirman, tokoh infanteri Jenderal Pranoto Reksosamodra, tokoh pemikir militer Jenderal AH Nasution, tokoh perempuan Ibu SK Trimurti adalah sedikit diantara ratusan insan Indonesia yang hidupnya penuh keteladanan yang bisa dan perlu dicontoh generasi selanjutnya.

Lewat keteladananlah sebuah etos kerja keras, jujur, bangga pada prestasi sendiri, ditularkan tanpa paksaan. Nilai-nilai luhur ini kemudian dengan sendirinya menjadi milik generasi muda bangsa.

Lewat keteladanan pula, nilai-nilai luhur Pancasila, karya adi luhung para Bapak Bangsa kita, dapat dibumikan dan dicontoh dengan mudah.

Pancasila dan butir-butir pengamalannya kemudian tidak cuma menjadi barang sakral yang hanya dihafal dan diteriakan keras-keras dalam berbagai seremoni. Pancasila kemudian begitu mudah dikerjakan dalam praktek sehari-hari.

Ketuhanan, kemanusiaan, kejujuran, toleransi, persatuan, kerakyatan, cinta keberagaman,  dan keadilan, akhirnya menjadi milik setiap insan muda Indonesia, dari generasi ke generasi.

Kemudian sebagai lanjutannya, transformasi bangsa ke arah cita-cita bangsa yang dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 sebagai berikut ini.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

Saya memberi penebalan huruf pada frasa “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Frasa yang jelas memberi bukti betapa berpihaknya para pendiri bangsa kita kepada pendidikan dan upaya mencerdaskan bangsa di masa yang akan datang.

Sebuah etos kerja yang juga jelas ditujukan kepada upaya para pendiri bangsa Indonesia untuk membuat generasi masa depannya menjadi generasi cemerlang yang mumpuni dan siap bersaing.

Menggugat Pelajaran Sejarah di Sekolah Formal

Kini telah 71 tahun berlalu dari saat 10 November 1945 dan Pertempuran Arek Suroboyo yang dipimpin Bung Tomo, yang menjadi tanda peringatan Hari Pahlawan.

Kembali kepada keteladanan. Di manakah itu bisa ditularkan dan akhirnya menjadi milik dan melekat pada karakter setiap anak muda Indonesia?

Saya yakin menjawab: lewat pembelajaran sejarah yang memuat pewarisan nilai-nilai keteladanan.

Sayangnya, di bangku sekolah formal pelajaran sejarah disampaikan dengan kaku lewat hafalan peristiwa-peristiwa dan angka tahun peristiwa serta tempat kejadian.

Terkecuali dibawakan oleh guru yang memahami makna di balik sebuah peristiwa sejarah, sedikit sekali cerita keteladanan yang dapat ditularkan dari peristiwa sejarah yang dipelajari di sekolah formal.

Itulah yang membuat sedikit sekali yang kita ingat tentang sejarah nasional Indonesia, pada masa-masa di bangku sekolah dasar sampai menengah.

Generasi Muda Pembaca Buku

Bagaimana kita memperbaikinya? Salah satu yang saya usulkan adalah mengenal kembali pemikiran para tokoh bangsa kita.

TRIBUNNEWS/HERUDIN Veteran TNI memberi hormat kepada makam kerabatnya yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (10/11/2014). Peringatan Hari Pahlawan Nasional diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain upacara, ziarah, dan membersihkan makam pahlawan.
Siapa Raden Ajeng Kartini? Kita hanya tahu bahwa beliau pejuang hak perempuan, tetapi sedikit sekali yang tahu bahwa beliau adalah pejuang pendidikan untuk pribumi, baik laki-laki maupun perempuan. Padahal, RA Kartini meninggalkan banyak sekali tulisan.

Itu hanya salah satu contoh. Belum lagi Bapak Bangsa kita: Bung Karno dan Bung Hatta, yang sedikit sekali diketahui pemikirannya, karena memang jarang ada yang membaca tuntas buku-bukunya. Kecuali memang ia peminat sejarah dan pemikiran beliau-beliau.

Generasi muda pembaca buku, sebetulnya adalah satu langkah kemajuan bagi bangsa Indonesia ke depan.

Saya ingat, dalam salah satu wawancara panjang dengan salah satu stasiun televisi nasional kira-kira setahun silam, Bapak Prabowo Subianto menceritakan kebiasaannya yang selalu membaca buku terbaru di waktu luangnya. Buku, diakuinya selalu memberikan inspirasi.

Lalu bila ditarik lagi ke belakang, betapa eratnya pergaulan para pendiri bangsa Indonesia dengan buku. Bahkan Bung Hatta pernah berkata, tak takut dipenjarakan di mana saja, asalkan bersama buku-bukunya.

Jadi, kita lahir dan besar (sesungguhnya) sedari awal sebagai bangsa yang cinta literasi. Cinta membaca dan menulis. Bila kita kembali seperti itu dan itu telah terjadi, maka tak salah kalau dengan bangga saya katakan, “Generasi Masa Depan Bangsa, kami titipkan Indonesia kepadamu!”


EditorWisnubrata
Komentar

Terkini Lainnya

Jaksa Agung Minta Tommy Soeharto Serahkan Gedung Granadi Terkait Kasus Supersemar

Jaksa Agung Minta Tommy Soeharto Serahkan Gedung Granadi Terkait Kasus Supersemar

Nasional
Sandiaga Tak Ingin Gerakan OK OCE Ada di Bawah Pemprov DKI

Sandiaga Tak Ingin Gerakan OK OCE Ada di Bawah Pemprov DKI

Megapolitan
Din Syamsuddin: Cawapres Jokowi dan Prabowo Masih Misterius

Din Syamsuddin: Cawapres Jokowi dan Prabowo Masih Misterius

Regional
KPK Ingatkan ASN Perkuat Integritas Agar Terhindar dari Pusaran Korupsi

KPK Ingatkan ASN Perkuat Integritas Agar Terhindar dari Pusaran Korupsi

Nasional
Jokowi Akui Mahfud MD, TGB, dan Airlangga Masuk Bursa Cawapresnya

Jokowi Akui Mahfud MD, TGB, dan Airlangga Masuk Bursa Cawapresnya

Nasional
Pj Gubernur Jabar Lihat Kesiapan Stadion Patriot Bekasi untuk Asian Games

Pj Gubernur Jabar Lihat Kesiapan Stadion Patriot Bekasi untuk Asian Games

Megapolitan
Siswi Sekolah di Wilayah Australia Ini Boleh Pakai Celana Pendek

Siswi Sekolah di Wilayah Australia Ini Boleh Pakai Celana Pendek

Internasional
Bea Cukai Ngurah Rai Gagalkan Penyelundupan 600.000 Butir Pil Bahan Baku Sabu

Bea Cukai Ngurah Rai Gagalkan Penyelundupan 600.000 Butir Pil Bahan Baku Sabu

Regional
Pasca Bom Surabaya, Polri Tangkap 197 Terduga Teroris, 20 di Antaranya Tewas

Pasca Bom Surabaya, Polri Tangkap 197 Terduga Teroris, 20 di Antaranya Tewas

Nasional
Kapolri: Kasus di Yogya dan Indramayu Bukan Serangan, tetapi Perlawanan Teroris

Kapolri: Kasus di Yogya dan Indramayu Bukan Serangan, tetapi Perlawanan Teroris

Nasional
MA Batalkan Peran Paralegal dalam Memberi Bantuan Hukum

MA Batalkan Peran Paralegal dalam Memberi Bantuan Hukum

Nasional
Italia Izinkan Migran Berlabuh di Sisilia

Italia Izinkan Migran Berlabuh di Sisilia

Internasional
Identitas Mayat Perempuan Dalam Karung Mengapung di Sungai Terungkap

Identitas Mayat Perempuan Dalam Karung Mengapung di Sungai Terungkap

Regional
Dinas Lingkungan Hidup Kerahkan 1.000 Pasukan Oranye Saat Asian Games

Dinas Lingkungan Hidup Kerahkan 1.000 Pasukan Oranye Saat Asian Games

Megapolitan
Anggota Damkar Meninggal Setelah Padamkan Kebakaran di Sunter Agung

Anggota Damkar Meninggal Setelah Padamkan Kebakaran di Sunter Agung

Megapolitan

Close Ads X