Padepokan Dimas Kanjeng dan "Tangan Ajaib" Taat Pribadi

Kompas.com - 30/09/2016, 09:14 WIB
Taat Pribadi dibawa ke ruang pemeriksaan Mapolda Jatim, Rabu (28/9/2016). Kontributor Surabaya, Achmad FaizalTaat Pribadi dibawa ke ruang pemeriksaan Mapolda Jatim, Rabu (28/9/2016).
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - Di zaman serba modern sekarang ini, ternyata masih banyak yang percaya dengan kemampuan spiritual untuk melipatgandakan uang.

Di Probolinggo, ada padepokan bernama Dimas Kanjeng milik Taat Pribadi yang tak pernah sepi dari keramaian. Padepokan ini menarik perhatian dalam sepekan terakhir.

Mereka yang datang ke padepokan tak hanya ingin berguru ilmu agama.

Sebagian dari mereka kepincut janji Taat Pribadi yang dipercaya bisa mengeluarkan uang dari tangannya secara tiba-tiba.

Tak hanya itu, dia dipercaya bisa menghadirkan peti berisi uang dan ruangan yang penuh uang kertas.

Korbannya tak hanya warga sekitar padepokan, tapi juga dari berbagai daerah, termasuk luar Pulau Jawa.

Pengikutnya juga beragam latar belakang. Ada yang cendekiawan, pengusaha, bahkan pensiunan Polri dan TNI.

(Baca: Marwah Daud: Dimas Kanjeng Punya Ilmu Pindahkan Uang atau Tiba-tiba Ada Peti Isi Uang)

Salah satu pengikut setianya adalah Marwah Daud Ibrahim yang kini dipercaya sebagai pucuk pimpinan Yayasan Padepokan Kanjeng Dimas.

Marwah merupakan doktor komunikasi internasional lulusan American University Washington DC dan pernah menduduki kursi anggota DPR RI selama tiga periode.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Agus Andrianto mengaku heran mengapa banyak kaum terpelajar yang justru percaya dengan kemampuan magis seperti itu.

"Saya juga kurang tahu kenapa, karena yang direkrut bukan orang-orang bodoh tapi juga orang-orang terpelajar juga yang bisa dipengaruhi," ujar Agus, Rabu (28/9/2016). 

Figur Taat Pribadi

Taat Pribadi merupakan orang terpandang di daerahnya. Ilmunya terkenal hingga seluruh penjuru negeri.

Bahkan, dia dianugerahi gelar Sri Raja Prabu Rajasa Nagara oleh Asosiasi Kerajaan/Kesultanan indonesia.

(Baca: MUI Investigasi Padepokan dan Ajaran Dimas Kanjeng Taat Pribadi)

Taat pun "menjual" padepokannya dengan memajang foto-foto bersama Presiden Joko Widodo dan sejumlah pejabat negara lainnya.

Sosiolog dari Universitas Gajah Mada Sunyoto Usman mengatakan, warga meyakini kuatnya sosok Taat Pribadi itu.

Citra yang ditampilkan selama ini membuat para korbannya percaya bahwa uangnya bisa digandakan pimpinan padepokan itu.

"Dimas Kanjeng kan padepokan yang cukup punya pengaruh, sehingga menjadi legitimasi mereka untuk bergabung," kata Sunyoto.

Umumnya, kata Sanyoto, yang menggandakan uangnya kepada Taat Pribadi adalah mereka yang tak memiliki kemampuan berinvestasi.

Mereka ingin menghasilkan uang secara instan tanpa mau bersusah payah bekerja maupun memanfaatkan peluang bisnis. 

Akhirnya, mereka memilih jalan pintas dengan menggandakan uang tersebut.

"Ketika yang menjanjikan penggandaan uang adalah figur, punya pengaruh, legitimasi, mereka seperti tergiur untuk menyerahkan itu," kata Sunyoto.

KOMPAS.com/AHMAD FAISOL Dimas Kanjeng saat berdemonstrasi mendatangkan uang kepada wartawan dengan tangan kosong. Ia juga bisa mendatangkan barang-berharga, mulai emas hingga jam tangan Rolex.
Tipu korban hingga miliaran rupiah

Sejak 2015 hingga 2016, setidaknya ada tiga laporan terkait Taat Pribadi ke Polda Jawa Timur atas dugaan penipuan.

Pertama, dengan kerugian Rp 800 juta, kemudian Rp 900 juta, dan terakhir Rp 1,5 miliar.

Ada pula laporan yang masuk ke Bareskrim Polri.

Korban mengaku tertipu hingga Rp 25 miliar.

Setelah adanya laporan itu, Bareskrim Polri melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan memanggil sejumlah saksi, yakni pihak pelapor dan beberapa warga Probolinggo.

Ternyata, modus operasinya seperti jaringan Multilevel Marketing. Korban yang direkrutnya menyetorkan uang kepada Taat Pribadi.

(Baca: Dimas Kanjeng Pernah Diajak ke Istana Temui Presiden)

Jika ingin uangnya berlipat ganda, korban tersebut harus mengajak beberapa orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Agar korbannya percaya, setelah uang disetor, Taat Pribadi memberikan satu kotak berisi baju, dan cincin yang disebut bisa berubah menjadi emas.

Selanjutnya, akan muncul uang jika korban ikhlas dan meyakini bahwa uang itu bisa berlipat ganda.

"Ini kan susah membuktikannya. Tapi mereka setelah sadar menjadi korban penipuan, mereka lapor," lanjut Agus Andrianto.

Polisi menemukan bungker yang diduga kuat berisi uang kertas hasil penipuan di padepokan Dimas Kanjeng.

Untuk menyelidiki keaslian uang tersebut, polisi akan menggandeng ahli dari Bank Indonesia.

Diduga dalang pembunuhan dua mantan santri

Tak hanya dianggap melakukan penipuan, kasus utama yang menjerat Taat Pribadi yakni dugaan pembunuhan dua mantan anak didiknya di padepokan.

Taat Pribadi dianggap sebagai otak pembunuhan keduanya untuk membungkam praktik penipuan yang dilakukannya.

Salah satu mantan santrinya itu bernama Abdul Ghani. Dia pernah menjadi pengikut setia Taat Pribadi, termasuk berperan dalam proses penggandaan uang itu.

Seorang korban yang melapor ke Bareskrim Polri itu mengaku menyetorkan uang tersebut kepada Ghani.

Kemudian, Ghani akan menyerahkan uang tersebut kepada Taat Pribadi secara bertahap.

Namun, berselang dua bulan sejak laporan masuk ke polisi, Ghani tewas dibunuh.

Polisi pun kehilangan saksi kuncinya untuk mengusut dugaan penipuan ini.

Taat Pribadi bahkan memberi bonus khusus kepada pelaku pembunuh Ghani sebesar Rp 320 juta.

Uang itu dibagi-bagi sesuai peran para pelaku. Ada yang bertugas membunuh, membawa jasad, dan merencanakan aksi pembunuhan.

Pada hari pembunuhan yaitu 13 April 2016, sedianya Ghani menjadi saksi di Mabes Polri atas laporan penipuan oleh pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng.

"Saksi kunci kami ini dipanggil beberapa kali enggak pernah datang. Kami tanya orang di Probolinggo ternyata saksi itu meninggal dunia," kata Agus.

Ada sembilan pelaku yang ditetapkan tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.

Selain Dimas Kanjeng sebagai otak pembunuhan, juga ada delapan orang lain dan empat di antaranya masih buron.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekjen MUI Imbau Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan Terkait Covid-19

Sekjen MUI Imbau Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan Terkait Covid-19

Nasional
Meski Ada Wabah Corona, Pemerintah Tak Bisa Larang WNI Kembali ke Tanah Air

Meski Ada Wabah Corona, Pemerintah Tak Bisa Larang WNI Kembali ke Tanah Air

Nasional
Penjelasan Polri soal Calon Perwira Polisi yang Positif Covid-19 Seusai Rapid Test

Penjelasan Polri soal Calon Perwira Polisi yang Positif Covid-19 Seusai Rapid Test

Nasional
Pemeriksaan dengan Mesin TB-TCM Diprioritaskan untuk Daerah yang Banyak Kasus Covid-19

Pemeriksaan dengan Mesin TB-TCM Diprioritaskan untuk Daerah yang Banyak Kasus Covid-19

Nasional
PBNU: Jangan Tolak Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19, Tak Boleh Ada Penghinaan

PBNU: Jangan Tolak Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19, Tak Boleh Ada Penghinaan

Nasional
Wacana Yasonna Bebaskan Koruptor untuk Cegah Covid-19 di Penjara

Wacana Yasonna Bebaskan Koruptor untuk Cegah Covid-19 di Penjara

Nasional
Pemerintah Sebut Tidak Punya Data Pemeriksaan Harian dari Spesimen Covid-19

Pemerintah Sebut Tidak Punya Data Pemeriksaan Harian dari Spesimen Covid-19

Nasional
Ampuhkah Masker Kain Cegah Penularan Covid-19?

Ampuhkah Masker Kain Cegah Penularan Covid-19?

Nasional
Update per 1 April: Total 1.667 Kasus Covid-19, Pemerintah Siapkan Metode Pemeriksaan Baru

Update per 1 April: Total 1.667 Kasus Covid-19, Pemerintah Siapkan Metode Pemeriksaan Baru

Nasional
Jokowi Akhirnya Blak-blakan soal Alasan Tak Mau Lockdown...

Jokowi Akhirnya Blak-blakan soal Alasan Tak Mau Lockdown...

Nasional
PP Pembatasan Sosial Berskala Besar Dibuat agar Pemerintah dan Gugus Tugas Bisa Lebih Tegas dan Disiplin

PP Pembatasan Sosial Berskala Besar Dibuat agar Pemerintah dan Gugus Tugas Bisa Lebih Tegas dan Disiplin

Nasional
Kasus Jiwasraya, Kejagung Minta Keterangan Ahli Asuransi Irvan Rahardjo

Kasus Jiwasraya, Kejagung Minta Keterangan Ahli Asuransi Irvan Rahardjo

Nasional
Polisi Tangani 18 Kasus Penimbunan Masker dan Hand Sanitizer

Polisi Tangani 18 Kasus Penimbunan Masker dan Hand Sanitizer

Nasional
Komisi IV DPR: Kebijakan Pemerintah Kendalikan Penyebaran Covid-19 Kurang Efektif

Komisi IV DPR: Kebijakan Pemerintah Kendalikan Penyebaran Covid-19 Kurang Efektif

Nasional
Alissa Wahid Nilai Perlu Kepastian Sarana dan Prasarana Kesehatan dalam Hadapi Corona

Alissa Wahid Nilai Perlu Kepastian Sarana dan Prasarana Kesehatan dalam Hadapi Corona

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X