Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 25/08/2016, 05:28 WIB
Bayu Galih

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar kini menghitung hari untuk bisa menghirup udara bebas dan keluar dari Lapas Tangerang.

Antasari yang merupakan terpidana kasus pembunuhan bos PT Putra Rajawali Bantaran, Nasrudin Zulkarnain, akan bebas setelah mendapat sejumlah remisi, setelah menjalani vonis 18 tahun pada 2009 silam.

Meski begitu, Antasari masih dapat mengingat sejumlah kejanggalan yang membuat dia yakin ada rekayasa dalam kasusnya. Setidaknya ada tiga kejanggalan yang diingat Antasari.

Pertama, Antasari menilai ada dua tim eksekutor dalam penembakan yang menewaskan Nasrudin Zulkarnain. Adapun, tim kedua yang menembak dan mengeksekusi pembunuhan hingga saat ini tidak pernah terungkap ke publik.

"Yang dipenjara 17 tahun itu cuma menodong pistol. Yang menembak yang di belakang. Saya tahu semua, Allah yang akan buka," kata Antasari, dalam acara "Mata Najwa" yang ditayangkan Metro TV, Rabu (24/8/2016) malam.

Meski begitu, kehadiran adanya dua tim eksekutor itu sudah dibantah oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Muhamad Iriawan, yang saat itu masih berpangkat Komisaris Besar.

"Kedua, adanya keterangan Williardi," ucap Antasari.

Antasari menduga keterangan yang disampaikan Williardi Wizard dalam persidangan sebagai penguat ada rekayasa dalam kasusnya.

Williardi, mantan Kapolres Jakarta Selatan yang juga jadi terpidana dalam kasus pembunuhan berencana itu, pernah membantah semua keterangan dalam berita acara pemeriksaan.

Tidak hanya itu, bahkan Williardi dalam persidangan pernah menyebut rekayasa itu dibuat dengan Antasari sebagai sasaran.

Adapun, kejanggalan ketiga adalah soal barang bukti peluru yang digunakan dalam penembakan. Peluru yang ditemukan adalah 9 milimeter, sedangkan barang bukti yang diajukan dalam pengadilan adalah kaliber 38.

"Mana bisa masuk?!" kata Antasari.

Bahkan, dalam persidangan ahli forensik Mun'im Idris mengaku ada pihak yang mendatanginya dan meminta untuk mengubah keterangan soal peluru yang ditemukan. Hal ini juga diungkap pengacara Antasari, Maqdir Ismail.

"Tidak menyebut nama, tapi dia menyebut pangkat. Kombes," kata Maqdir, juga dalam acara "Mata Najwa".

Atas sejumlah kejanggalan itu, Antasari pun yakin banyak rekayasa dalam kasusnya.

"Pada akhirnya yang tidak ada, diada-adakan, rekayasa kan?" ujar Antasari.

Kompas TV Antasari: Lebih Berat Menjadi Pimpinan KPK
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Berduka atas Kecelakaan Kereta di Bandung, Cak Imin Ingatkan Pembenahan Manajemen Transportasi

Berduka atas Kecelakaan Kereta di Bandung, Cak Imin Ingatkan Pembenahan Manajemen Transportasi

Nasional
Prabowo: Saya Menyatu dengan Pak Jokowi Bukan karena Bekas Saingan, tapi Satu Visi

Prabowo: Saya Menyatu dengan Pak Jokowi Bukan karena Bekas Saingan, tapi Satu Visi

Nasional
Ferdy Sambo Disebut Tak Tidur di Sel Lapas, Yasonna: Tidak Benar, Asal Ngomong Saja

Ferdy Sambo Disebut Tak Tidur di Sel Lapas, Yasonna: Tidak Benar, Asal Ngomong Saja

Nasional
Singgung Ekspor Pasir Laut Era Jokowi, Anies: Saya Membatin, Memang Toko Material?

Singgung Ekspor Pasir Laut Era Jokowi, Anies: Saya Membatin, Memang Toko Material?

Nasional
KNKT Bentuk Tim Usut Penyebab Kecelakaan Kereta di Bandung

KNKT Bentuk Tim Usut Penyebab Kecelakaan Kereta di Bandung

Nasional
TPN Ganjar-Mahfud: 'KTP Sakti' Ada karena Sekarang Terlalu Banyak Kartu

TPN Ganjar-Mahfud: "KTP Sakti" Ada karena Sekarang Terlalu Banyak Kartu

Nasional
Potong Rambut Massal di Garut, Cak Imin Dipangkas Rambutnya oleh Tukang Cukur SBY dan Jokowi

Potong Rambut Massal di Garut, Cak Imin Dipangkas Rambutnya oleh Tukang Cukur SBY dan Jokowi

Nasional
Ganjar-Mahfud Targetkan Raup 33 Persen Suara di Sumatera Selatan

Ganjar-Mahfud Targetkan Raup 33 Persen Suara di Sumatera Selatan

Nasional
Ketua TPN Ganjar-Mahfud Sindir Bansos Jokowi Tak Tepat Sasaran dan Harus Pakai Banyak Kartu

Ketua TPN Ganjar-Mahfud Sindir Bansos Jokowi Tak Tepat Sasaran dan Harus Pakai Banyak Kartu

Nasional
Meretas Jalan Visioner Pemimpin Nasional Indonesia

Meretas Jalan Visioner Pemimpin Nasional Indonesia

Nasional
3 Kriteria Anies Memilih Menteri jika Menang Pilpres 2024

3 Kriteria Anies Memilih Menteri jika Menang Pilpres 2024

Nasional
Anies Sebut Jokowi Akui Tol Laut Gagal Tekan Biaya Pengiriman Logistik

Anies Sebut Jokowi Akui Tol Laut Gagal Tekan Biaya Pengiriman Logistik

Nasional
TKN Dengar Ada Kubu yang Mau Berkoalisi untuk Hadapi Isu Satu Putaran Prabowo-Gibran

TKN Dengar Ada Kubu yang Mau Berkoalisi untuk Hadapi Isu Satu Putaran Prabowo-Gibran

Nasional
Kenaikan Gaji dan Penataan Manajemen ASN

Kenaikan Gaji dan Penataan Manajemen ASN

Nasional
Ganjar Jalani Kegiatan Internal Hari Ini, Mahfud Kunjungi Demak

Ganjar Jalani Kegiatan Internal Hari Ini, Mahfud Kunjungi Demak

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com