Kompas.com - 22/08/2016, 14:59 WIB
|
EditorKrisiandi

Aliran Dana

Soal aliran dana pun berubah. Sebelum tahun 2010, kelompok teroris mendapatkan sokongan dana penuh dari Al-Qaeda.

Namun, medio 2011-2015, teroris Indonesia lebih independen dalam hal mencari sumber dana. Pada periode tahun 2011 sampai 2013 misalnya, dikenal kelompok Fa'i.

Mereka merampok bank atau orang. Uang hasil rampokan itu digunakan untuk pembiayaan 'amaliyah' (aksi teror).

(Baca: Twitter Sudah Blokir 360.000 Akun Berbau Terorisme)

Mereka juga mengandalkan sumbangan dari simpatisan. Catatan Sholahudin, pernah ada dokter yang menyumbang Rp 300 juta dan pengusaha menyumbang Rp 200 juta untuk membiayai pelatihan militer di Aceh.

Fabian Januarius Kuwado Peneliti Darul Islam/ Negara Islam Indonesia (NII) Sholahudin.

Tahun 2016, pola aliran dana kembali lagi seperti dahulu. Karena ada warga negara Indonesia yang telah menetap di Suriah dan menjadi salah satu tokoh penting di ISIS, mereka menyokong dana bagi kelompok di Indonesia.

"Contohnya bom di Thamrin dan Mapolres Solo. Bom di Thamrin itu dananya Rp 200 juta dari Suriah. Bom di Solo juga dananya dari ISIS di Suriah," ujar Sholahudin.

Kualitas Serangan

Dari sisi kualitas serangan teror, Sholahudin juga mencatat semakin ke sini semakin berkurang jauh.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.