Ren Muhammad

Pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain membidani kelahiran buku-buku, juga turut membesut Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin di Pelabuhan Ratu, sebagai Direktur Eksekutif.

Indonesia Menggugat Dunia

Kompas.com - 18/08/2016, 11:04 WIB
Lukisan wajah Soekarno atau Bung Karno menghiasi salah satu sudut Kota Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (22/3/2016). KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASALukisan wajah Soekarno atau Bung Karno menghiasi salah satu sudut Kota Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (22/3/2016).
EditorWisnubrata

Negara Indonesia yang baru 15 tahun ia pimpin, memang bukan negara Islam. Tapi pidatonya yang fenomenal itu, ia buka dengan (QS. al-Hujurat [49]: 13), "Hai, sekalian manusia, sesungguhnya aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsabangsa dan bersukusuku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah yang lebih takwa kepada-Ku."

Nukilan ayat al-Quran itulah modal utama terbesar baginya untuk menelanjangi kepongahan bangsa Barat. Usai membongkar kegalatan Declaration of Independence dan Manifesto Komunis yang gasal, ia mengajukan tawaran menarik tentang adicita baru berkelas dunia, Pancasila. Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan Global, Musyawarah Mufakat, dan Keadilan Dunia.

Sepotong ayat al-Quran itu pula yang lantas membuat para raja negeri berasas Islam kebakaran jenggot. Setidaknya, sejak era moderen dibingkai PBB dengan sekian pembakuan terorganisir, tak satu pun pemimpin Arab yang mengutip al-Quran dalam pidato mereka dan menggelorakannya dalam perjuangan melawan kolonialisme. Sukarno yang tak berdarah Arab itulah pemimpin pertama sebuah negara, yang cergas membacakan ayat al-Quran di forum internasional.

Seakan tak puas menguliti dunia Barat, Sukarno yang berbicara atas nama 92 juta rakyatnya, memungkasi pidato legendaris itu dengan kalimat yang bahkan hingga hari ini belum juga berani dilontarkan oleh para pemimpin Asia:

"Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal, kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik.

Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai.

Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaan yang penuh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Telah dikatakan bahwa kita hidup di tengah-tengah suatu revolusi harapan yang meningkat. Ini tidak benar! Kita hidup di tengah-tengah revolusi tuntunan yang meningkat.

Mereka yang dahulunya tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemerdekaan. Mereka yang dahulunya tanpa suara, kini menuntut agar suaranya didengar. Mereka yang dahulunya kelaparan kini menuntut beras, banyak-banyak dan setiap hari.

Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh, kuat, dan sehat! Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita umat manusia.

Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, karena fajar sedang menyingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan diri terhadap masa depan."

Atas keberanian yang luar biasa itu, setahun kemudian di Kairo, Mesir, Sukarno dinobatkan sebagai Pahlawan Islam oleh para pendiri-pembangun bangsa di seantero Asia-Afrika. Penobatan itu pula yang lantas menginspirasinya membentuk gerakan Non-Blok. Sebuah gerakan yang dengan penuh perhitungan matang, merangkul masyarakat dunia guna menyadari betapa kita semua setara di bawah kaki langit. Sama mencintai perdamaian. Sama menginginkan kebahagiaan.

Kini, 71 tahun sudah Indonesia merdeka. Namun wajah dunia hanya bersalin rupa. Sekadar merias diri dengan tampilan baru. Bedanya sedikit saja. Amerika tak lagi bisa mengendalikan dirinya. Keluarga bankir Rockefeller, Morgans, Warburgs, Rothschild, adalah biang kerok di balik kebrutalan Amerika pascaPerang Dunia I yang mereka gelorakan sendiri.

Perang demi perang, teror demi teror, terus diciptakan secara sengaja. Agar kemiskinan merajalela dan perbudakan moderen kian sulit dilawan. Utang pun digelontorkan atas nama penggusuran tirani demi mendirikan sebuah negara demokrasi. Padahal semua itu semata mengukuhkan hasrat Rockefeller cs membangun one world government (satu pemerintahan dunia).

Soviet yang kini menjadi Rusia, sudah tak lagi komunis. Mereka aktif berdagang senjata di medan pertempuran mana pun yang pecah di seantero dunia. Mereka tak benar-benar menjadikan Amerika sebagai rival secara politis. Melainkan murni urusan pengaturan dunia, ekonomi, dan bisnis global.

Seperti Obama, Putin juga dikendalikan mafia yang terdiri dari para baron minyak dan senjata. Tak heran bila negara-negara di bawah kendali Rusia saat ini sedang bersusah payah melepaskan diri dari jeratan kebangkrutan dan bubar jalan.

China juga setali tiga uang dengan Amerika dan Rusia. Sejak tak lagi menamai diri dengan Negeri Tirai Bambu, negara-bangsa tua ini pun mulai melirik kue ekonomi yang bisa mereka rebut. Xi Jinping tak benarbenar serius meneruskan kiprah komunisme di negara ini. Nama Mao Tse Tung (Zedong) sudah tinggal kenangan.

China lebih serius masuk ke pusaran pengendali dunia melalui pengelolaan kapitalisme tingkat akut. Tak seperti Amerika dan Rusia, nafsu imperialis-kolonialis China lebih tersamar melalui dukungan tersembunyi pada Suriah, Iran, dan Indonesia—dengan mengajak mereka ke dalam Blok Selatan. Blok besar yang selama ini luput dan tak bisa diduduki Amerika dan Rusia.

Jadi, wajah dunia seperti yang dulu dikutuki Sukarno, tak pernah berubah sama sekali. Demokrasi, komunis, sosialis, liberalis, hanya utopia semu yang digantang sebagai adicita (ideology). Dunia sama sekali tak membutuhkan adicita itu sebagai panduan kemakmuran-kesejahteraan manusia.

Namun jika ditilik lebih menjeluk, siapakah pemimpin dunia kita yang dengan berani menyuarakan perkara itu selain Hugo Chavez dan Mahmoud Ahmadinejad? Bagaimana dengan presiden Indonesia? Ah, nampaknya kita hanya sedang berenang di air yang keruh.

             

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kiprah Keturunan Tionghoa dalam Sumpah Pemuda...

Kiprah Keturunan Tionghoa dalam Sumpah Pemuda...

Nasional
Pasca-putusan MK soal Pemutusan Akses Internet, Hak Memperoleh Infomasi Dinilai Makin Terancam

Pasca-putusan MK soal Pemutusan Akses Internet, Hak Memperoleh Infomasi Dinilai Makin Terancam

Nasional
FUIB Temui Komisi III DPR, Bahas Kasus 6 Laskar FPI hingga Penangkapan Munarman

FUIB Temui Komisi III DPR, Bahas Kasus 6 Laskar FPI hingga Penangkapan Munarman

Nasional
Soal Capres 2024, Paloh: Masih Digodok di Internal, Perlu Lobi-lobi

Soal Capres 2024, Paloh: Masih Digodok di Internal, Perlu Lobi-lobi

Nasional
Wapres: Pemerintah Dorong Penelitian Bahan Baku Substitusi Produk Halal

Wapres: Pemerintah Dorong Penelitian Bahan Baku Substitusi Produk Halal

Nasional
MK Tolak Permohonan Uji Formil UU tentang Kebijakan Keuangan Negara Dalam Penanganan Pandemi

MK Tolak Permohonan Uji Formil UU tentang Kebijakan Keuangan Negara Dalam Penanganan Pandemi

Nasional
Arus Perubahan Kian Cepat, Panglima TNI: Soliditas TNI-Polri Sangat Penting

Arus Perubahan Kian Cepat, Panglima TNI: Soliditas TNI-Polri Sangat Penting

Nasional
Dengan Ketentuan Terbaru, Liburan ke Bali 2 Malam Bisa Pakai 1 Tes PCR

Dengan Ketentuan Terbaru, Liburan ke Bali 2 Malam Bisa Pakai 1 Tes PCR

Nasional
Maknai Ikrar Sumpah Pemuda, Gus Muhaimin Tekankan Generasi Muda Harus Kreatif dan Inovatif

Maknai Ikrar Sumpah Pemuda, Gus Muhaimin Tekankan Generasi Muda Harus Kreatif dan Inovatif

Nasional
Peraturan PCR 3x24 Jam Sebelum Naik Pesawat Hanya Berlaku 27 Oktober-1 November, Ini Penjelasannya

Peraturan PCR 3x24 Jam Sebelum Naik Pesawat Hanya Berlaku 27 Oktober-1 November, Ini Penjelasannya

Nasional
Wapres Akui Pemerintah Masih Hadapi Masalah Soal Penyiapan SDM Ekonomi Syariah

Wapres Akui Pemerintah Masih Hadapi Masalah Soal Penyiapan SDM Ekonomi Syariah

Nasional
PCR sebagai Syarat Perjalanan Belum Berlaku untuk Semua Moda Transportasi

PCR sebagai Syarat Perjalanan Belum Berlaku untuk Semua Moda Transportasi

Nasional
Presiden Jokowi Ingin Rivalitas di Asia Timur Diakhiri

Presiden Jokowi Ingin Rivalitas di Asia Timur Diakhiri

Nasional
Soal Isu Perombakan Kabinet, Surya Paloh: Enggak Terlalu Penting, untuk Apa 'Reshuffle'?

Soal Isu Perombakan Kabinet, Surya Paloh: Enggak Terlalu Penting, untuk Apa "Reshuffle"?

Nasional
Ketua MPR: Kita Tidak Maju kalau Setiap Pergantian Pimpinan Nasional Terjadi Perubahan Haluan

Ketua MPR: Kita Tidak Maju kalau Setiap Pergantian Pimpinan Nasional Terjadi Perubahan Haluan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.