Haris Azhar: Publikasi Informasi Freddy adalah Pilihan Terakhir

Kompas.com - 09/08/2016, 20:49 WIB
Koordinator Kontras Haris Azhar di Jentera, Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/4/2016). KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRAKoordinator Kontras Haris Azhar di Jentera, Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/4/2016).
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar mengatakan tindakannya mempublikasi informasi dari Freddy Budiman, bandar narkoba yang telah dieksekusi, merupakan langkah terakhir yang dapat dilakukan.

Haris mendapatkan informasi dari Freddy adanya keterlibatan penegak hukum dalam peredaran narkoba yang dilakukannya.

"Saya merilis ke publik sebagai pilihan terakhir. Karena saya tahu ada kekuatan publik yang bisa mengontrol negara juga," kata Haris di Kantor Konsorsium Pembaruan Agraria, Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Haris menuturkan sebelum mempublikasi informasi dari Freddy, ia telah membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Selain komunikasi, ia juga berupaya memverifikasi informasi tersebut.

(Baca: 130 Pengacara Siap Bela Haris Azhar)

Ketika tidak mendapatkan respon dari komunikasi yang dilakukan, Haris mengatakan menunggu detik terakhir saat nama Feeddy sudah masuk dalam daftar eksekusi mati.

"Detik terakhir itu, ketika namanya masuk dalam daftar dan jadwal eksekusinya sudah keluar. Itu waktu yang paling tepat. Karena kalau tidak begitu, pemerintah tidak aware," ucap Haris.

Haris memilih tidak memberitahu informasi tersrbut kepada Mabes Polri. Keputusan eksekusi, lanjut Haris, berada di tangan Kejaksaan.

"Selasa sore saya kasih kabar ke Johan Budi. Karena yang ngomongin eksekusi dan yang mendaftarkan ke sana adalah Kejaksaan. Makanya saya ngomong ke Presiden. Apalagi presiden diasumsikan dapat laporan terus menerus terkait laporan perkembangan dari kejaksaan terkait eksekusi," ujar Haris.

(Baca: Ada Petugas BNN Protes Kamera CCTV Dipasang di Sel Freddy Budiman)

Setelah tidak mendapatkan perkembangan dari Presiden Jokowi melalui Johan Budi, Haris memutuskan untuk mempublikasikan informasi dari Freddy kepada publik. Satu jam kemudian, Kepala Bagian Humas BNN, Slamet Pribadi menghubungi Haris.

Menurutnya, jika terdapat kemauan dan keberanian, eksekusi mati Freddy bisa dicegah dalam rangka menggali informasi lebih jauh.

"Menggali informasi dari Freddy kan bukan berarti menghilangkan hukuman mati baginya. Jadi jangan salah kaprah juga," tutur Haris.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Sebaran Pasien Positif Covid-19 di 30 Provinsi per 29 Maret

Ini Sebaran Pasien Positif Covid-19 di 30 Provinsi per 29 Maret

Nasional
Rumah Sakit Diprioritaskan bagi Pasien Covid-19 yang Tak Mungkin Isolasi Mandiri

Rumah Sakit Diprioritaskan bagi Pasien Covid-19 yang Tak Mungkin Isolasi Mandiri

Nasional
Yurianto: Pemeriksaan Covid-19 Sudah Dilakukan terhadap Lebih dari 6.500 Orang

Yurianto: Pemeriksaan Covid-19 Sudah Dilakukan terhadap Lebih dari 6.500 Orang

Nasional
Sulawesi Barat Catat Kasus Perdana, Total 30 Provinsi dengan Pasien Covid-19

Sulawesi Barat Catat Kasus Perdana, Total 30 Provinsi dengan Pasien Covid-19

Nasional
UPDATE: Pasien Covid-19 yang Meninggal Jadi 114 Orang

UPDATE: Pasien Covid-19 yang Meninggal Jadi 114 Orang

Nasional
UPDATE 29 Maret: 64 Pasien Covid-19 Dinyatakan Sembuh

UPDATE 29 Maret: 64 Pasien Covid-19 Dinyatakan Sembuh

Nasional
Psikolog soal Psikosomatis Saat Pandemi Covid-19: Bisa Jadi Sesak Itu karena Cemas

Psikolog soal Psikosomatis Saat Pandemi Covid-19: Bisa Jadi Sesak Itu karena Cemas

Nasional
UPDATE: Bertambah 130, Kini Ada 1.285 Kasus Covid-19 di Indonesia

UPDATE: Bertambah 130, Kini Ada 1.285 Kasus Covid-19 di Indonesia

Nasional
Bareskrim Polri Panggil Rocky Gerung terkait Laporan Politikus PDI-P Henry Yosodiningrat

Bareskrim Polri Panggil Rocky Gerung terkait Laporan Politikus PDI-P Henry Yosodiningrat

Nasional
BNPB Rekrut 5.816 Relawan Percepatan Penanganan Corona

BNPB Rekrut 5.816 Relawan Percepatan Penanganan Corona

Nasional
Tingkatkan Imunitas Hadapi Covid-19, Berjemur Cukup 15 Menit Saja

Tingkatkan Imunitas Hadapi Covid-19, Berjemur Cukup 15 Menit Saja

Nasional
Dijadwal Beroperasi Senin, Pembangunan RS Darurat Covid-19 Pulau Galang Tinggal 9 Persen

Dijadwal Beroperasi Senin, Pembangunan RS Darurat Covid-19 Pulau Galang Tinggal 9 Persen

Nasional
Anak-anak Berpotensi Jadi Carrier Covid-19, Lansia Harus Hati-hati ketika Kontak dengan Cucunya

Anak-anak Berpotensi Jadi Carrier Covid-19, Lansia Harus Hati-hati ketika Kontak dengan Cucunya

Nasional
AHY Intruksikan Kader Partai Demokrat Minimalisasi Mudik Lebaran

AHY Intruksikan Kader Partai Demokrat Minimalisasi Mudik Lebaran

Nasional
Per 29 Maret, RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Tangani 387 Pasien

Per 29 Maret, RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Tangani 387 Pasien

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X