Usai "Reshuffle", Politik Diyakini Stabil dan Tak Gaduh

Kompas.com - 27/07/2016, 21:25 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro saat menghadiri diskusi yang diselenggarakan MMD Initiative, di Matraman, Jakarta Pusat, Rabu (30/3/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo telah mengumumkan nama-nama hasil perombakan atau reshuffle kabinet, Rabu (27/7/2016).

Perombakan yang menyasar 12 kursi menteri itu diyakini tidak akan mengganggu stabilitas politik, terutama dari partai politik pendukung pemerintahan.

“Kayaknya tidak. Karena dia (Jokowi) mengakomodasi (parpol pendukung),” kata pengamat politik LIPI Siti Zuhro saat dihubungi, Rabu.

Reshuffle jilid kedua ini diketahui dilakukan setelah PAN dan Golkar merapat ke pemerintahan Jokowi. Dua partai itu sebelumnya bergabung dengan Koalisi Merah Putih, kumpulan partai yang menyatakan diri sebagai penyeimbang pemerintah. 

Kedua parpol itu akhirnya mendapat kursi menteri, setelah jatah kursi Hanura dipangkas. Hanura sebelumnya menempati dua kursi yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi dan Menteri Perindustrian Saleh Husin.

Kini, Yuddy diganti politisi PAN, Asman Abnur. Sementara Saleh diganti oleh politisi Golkar, Airlangga Hartarto.

“Hanura memang dapat dua, tapi mereka diganti oleh bos-nya (Wiranto). Jadi menko lagi,” kata Siti.

Sementara, jatah kursi menteri PKB dan Nasdem juga tidak berkurang. Kursi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, yang sebelumnya dijabat Ferry Mursyildan Baldan digantikan oleh Sofyan Jalil.

Meski diganti, partai yang dipimpin Surya Paloh itu tetap dapat menempatkan kadernya untuk posisi lain, yaitu Menteri Perdagangan. Jabatan yang sebelumnya diduduki Thomas Lembong itu, kini dijabat oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilu Nasdem, Enggartiasto Lukita.

Sementara itu, kursi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang sebelumnya dijabat Marwan Ja’far, kini dijabat oleh Eko Putro Sanjoyo. Eko diketahui merupakan Bendahara Umum PKB.

“Motifasi reshuffle kali ini berbeda dengan motifasi sebelumnya. Ada yang diganti dan digeser. Artinya, memang ini untuk mengakomodasi kekuatan politik yang sudah mendukung dan sudah bergabung,” ujarnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorKrisiandi
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X