Kompas.com - 03/05/2016, 14:07 WIB
Ketua KPAI Asrorun Ni'am Sholeh (tengah) dan komisoner KPAI lain melaporkan peretasan situs KPAI ke Bareskrim Polri, Selasa (3/5/2016). Ambaranie Nadia K.MKetua KPAI Asrorun Ni'am Sholeh (tengah) dan komisoner KPAI lain melaporkan peretasan situs KPAI ke Bareskrim Polri, Selasa (3/5/2016).
|
EditorSandro Gatra

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Ni'am Sholeh meminta para pemerkosa dan pembunuh YN (14), siswi SMP di Bengkulu dihukum maksimal.

"Pelaku tindak pidana anak apalagi terkait kejahatan seksual harus ada mekanisme pengenaan hukum yang maksimal. Kasus yang melibatkan anak di Bengkulu secara usia sudah masuk usia pertanggungjawaban hukum," ujar Asrorun di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (3/5/2016).

Asrorun mengatakan, meski dihukum, para remaja yang rata-rata berumur 16 tahun hingga 17 tahun itu tetap harus diperlakukan khusus.

Perlu dipastikan ada pendampingan hukum karena asumsinya ada pengaruh luar yang membuat mereka melakukan kejahatan. (baca: Kekerasan Seksual Meningkat, RUU PKS Didesak Segera Disahkan)

"Catatan kita bahwa pelaku tindak pidana terhadap anak apalagi terkait kejahatan seksual itu harus ada mekanisme penegakan hukum yang optimal. Dari rentang usianya, secara hukum dia bisa dipidana," kata Asrorun.

Asrorun mengatakan, kepolisian harus menginvestigasi apakah pemerkosaan dan pembunuhan itu direncanakan atau tidak. Jika memang direncanakan, kata dia, maka hukumannya bisa lebih berat lagi. (baca: #NyalaUntukYuyun, Simpati untuk Siswi SMP yang Tewas Diperkosa 14 Pemuda)

"Tambahan lagi ketika kasusnya ada didahului mabuk-mabukan itu juga pidana di dalam KUHP, cuma faktanya memang KUHP kita belum cukup memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan mabuk," kata Asrorun.

Kepolisian Resor Rejang Lebong, Bengkulu, sebelumnya meringkus 12 remaja pelaku. Mereka berinsial De (19), To (19), dan Da (17).

Ketiga warga Desa Kasie Kasubun, Padang Ulak Tanding, itu ditangkap pada Jumat (9/4/2016).

(Baca: Polisi Ringkus 12 Pemuda Perkosa Siswi SMP Berprestasi, Dua Orang Buron)

Dari pengembangan kasus tersebut, pada keesokan harinya, Sabtu (10/4/2016), giliran Su (19), Bo (20), Fa (19), Za (23), Fe (18), Al (17), Su (16), dan Er (16), semuanya warga Kasie Kasubun, ikut diringkus polisi. Dua orang pelaku masih diburu.

Jasad korban ditemukan di jurang dalam kondisi tangan dan kaki terikat. Korban diperkosa dan dianiaya saat pulang ke rumah dari sekolah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.