Susi Pudjiastuti Berani karena Membaca Buku

Kompas.com - 29/04/2016, 16:37 WIB
Susi Pudjiastuti bersama para karyawan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dan PT ASI Pudjiastuti Aviation A. Bobby PrSusi Pudjiastuti bersama para karyawan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dan PT ASI Pudjiastuti Aviation
EditorWisnubrata

Sosok pimpinan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti bukan hanya menjadi incaran banyak wartawan dalam negeri. Ketika melakukan kunjungan  kerja di London, Inggris, beberapa waktu lalu awak media asing juga berlomba untuk mewancarainya.

Mereka ingin mengetahui terobosan dan kebijakan Susi dalam memerangi penangkapan ikan yang ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (illegal, unreported, and unregulated/IUU fishing).

Mereka juga ingin mendalami kebijakan Susi dalam menegakkan hukum di laut dan meledakkan kapal-kapal pencuri ikan di lautan Indonesia.

Nama menteri yang dilantik pada 29 Oktober 2014 ini selalu menjadi topik hangat di berbagai media massa dan media sosial. Berbagai kebijakannya menjadi sorotan karena dianggap berani membereskan masalah-masalah yang sebelumnya tak tersentuh.

Bagaikan seorang petarung, Susi langsung menggebrak tanpa takut dengan orang-orang kuat yang berkepentingan di sana.

Sebenarnya persoalan yang dihadapi KKP bukanlah masalah baru. Namun perempuan yang hanya memegang ijazah SMP inilah yang berani menegakkan aturan. “Itu bukan kebijakan Susi loh. Itu maunya undang-undang,” ujar Susi ketika ditanya tentang kebijakannya.

Semenjak namanya disebut sebagai pimpinan KKP, berbagai tanggapan bermunculan. Ada yang mengatakan Susi adalah sosok yang kompeten dalam membangun dunia perikanan Indonesia. Mereka melihat kemampuan Susi dalam merintis usahanya dalam bidang perikanan sudah cukup lama dan berpengalaman.

Setelah perusahaannya berkembang pesat, Susi terjun ke bisnis penerbangan. Meskipun berangkat dari sebuah kebetulan ketika menolong masyarakat di Pulau Simeleu, Aceh, yang terkena tsunami, nama Susi semakin berkibar dengan maskapai penerbangannya.

Pilihan jalur penerbangan perintis yang semula dianggap ‘gila’ menjadikan Susi Air diperhitungkan di negeri kepulauan ini. Berbagai ‘kegilaan’ ini memikat Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memberikan tanggung jawab Susi menangani KKP.

Sementara yang meragukan mengatakan Susi tidak punya pengalaman di bidang birokrasi sehingga sulit memimpin KKP. Mereka memandang sebelah mata Susi berdasar latar belakang rumah tangga, kebiasaan merokok, tato, dan sekolahnya yang tidak tamat SMA.

Setelah satu tahun berlalu, dengan sendirinya isu-isu miring itu tersingkir seiring dengan berbagai gebrakannya. Banyak orang berdecak kagum atas keberanian perempuan yang mengawali keterlibatannya dalam usaha perikanan dengan menjadi bakul ikan. Salah satunya adalah tentang pengeboman kapal-kapal yang terlibat dalam ilegal fishing.

Keberanian Susi sebenarnya bukanlah datang dengan tiba-tiba. Semenjak di bangku SMP dia sudah membaca buku-buku klasik yang bermutu. Dari situ dia menimba banyak pengetahuan dan bisa melihat keadaan Indonesia dengan kritis.

Dari situ pula dia meyadari dunia usaha Indonesia belum sincere dan fair. Dia melihat peraturan pemerintah yang ada saat itu belum menguntungkan untuk nelayan. 

Dia juga kerap mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat. “Kan goverment itu regulate, regulator. If you do not regulate with sincere, you do not regulate fairly, ya ketidakadilan tercipta di situ,” katanya dengan gamblang.

Oleh karena itu ketika mendapat kesempatan memimpin KKP, Susi langsung menggebrak untuk meluruskan yang selama itu menjadi keprihatinannya.

A. Bobby Pr. Cover Buku Untold Story Susi Pudjiastuti
Dalam wawancara dengan Tim Penulis dari Penerbit Buku Kompas (PBK) di Pangandaran, Jawa Barat, pimpinan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dan PT ASI Pudjiastuti Aviation ini menceritakan banyak hal.

Sayangnya, ketika buku akan diterbitkan, Susi menolak untuk memasukkan hasil wawancara itu dalam buku yang dipersiapkan menyambut ulang tahunnya yang ke-50.

“Pokoknya saya nggak mau. Biar orang-orang yang berkomentar tentang saya,” kata perempuan kelahiran Pangadaran, pada 15 Januari 1965 ini.

Setahun berlalu, barulah Susi mengungkapkan alasan dibalik pencopotan tulisan yang semestinya menjadi Bab III dari buku berjudul Untold Story Susi Pudjiastuti.

Dia beranggapan pada saat itu orang belum tahu siapa dia sebenarnya. Kalau dia bicara tentang dirinya sendiri, apalagi dalam buku biografi, maka akan menjadi persoalan lagi. Padahal saat itu sudah cukup banyak tanggapan kontroversi tentang dirinya yang disorot.

“Nah, kalau sekarang, orang sudah tahu apa yang saya lakukan. Jadi sekarang silahkan kalau mau dimuat,” ujar Susi dalam perbincangan di kantor KKP, Jakarta pada 11 Februari 2016.

Selain mengenai masa lalunya, dalam wawancara itu Susi juga mengungkapkan pandangannya tentang dunia usaha yang belum sincere dan fair, latar belakang menjadi menteri KKP, lingkungan hidup, Presiden Jokowi, agama, kematian, dan keluarganya.

Berikut hasil wawancara yang dilakukan oleh Tim Penulis PBK Mulyawan Karim, Robertus Mahatma C., dan A. Bobby Pr:

Dari obrolan dengan para nelayan di Pangandaran, kami mendapat informasi bahwa isu lingkungan sudah lama menjadi kepedulian Anda. Salah satunya dengan menggantikan jaring nelayan yang rusak karena tanpa sengaja menangkap ikan hiu. Mengapa Anda mengganti jaring para nelayan yang rusak karena ikan hiu?

Kalau nggak diganti jaringnya mereka nggak bisa nangkap ikan lagi. Nah, kalau jaringnya kita ganti, mereka bisa nangkap ikan tetapi hiunya harus dilepas ke tengah laut. Kalau nggak gitu mereka akan ambil siripnya untuk dijual. Kadang diambil sama dagingnya. Tapi kapal-kapal di tengah laut biasanya cuman ambil siripnya, dagingnya dibuang di tengah laut.

TRIBUN NEWS / DANY PERMANA Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). TRIBUN NEWS / DANY PERMANA
Apakah banyak ikan hiu di Pangandaran?

Nggak banyak sih di sini. Kalau tempat lain banyak.

Bagaimana dengan pelarangan bagan? (Bagan adalah semacam rakit yang digunakan untuk tempat menangkap ikan di laut. Cara menangkap ikannya dengan membenamkan jaring. Ketika ikan sudah dianggap banyak berkumpul di atas jaring maka jaring di angkat. Untuk mengundang ikan-ikan digunakan cahaya dari lampu. Dengan cara ini bukan hanya ikan besar yang tertangkap tetapi juga ikan-ikan kecil). Kan nelayan sudah menginvestasikan uangnya sampai Rp 20 juta untuk membuat bagan?

Kalau masalah bagan itu bukan nelayan. Itu investor. Kalau nelayan nggak bikin bagan. Nelayan menangkap ikan di laut, bukan dengan bagan. Itu saudagar. Tidak ada nelayan bagan. Bullshit.

Mengenai pelarangan dodot?

Dodot, itu jaring kecil. Kalau nelayan pakai dodot, ikan dan udang kecil tertangkap. Semuanya habis. Lalu nggak ada lagi ikan. Lingkungan rusak. Nelayan juga yang rugi. Dulu nelayan juga pakai potas. Lingkungan jadi rusak. Tapi sudah nggak lagi. Sekarang ikan hias juga nggak ada di sini.

(Perbincangan sempat terhenti ketika salah satu rekannya datang. Susi mengeluhkan tentang wartawan yang kemarin mewancarainya tetapi pertanyaannya tidak jelas. Salah satunya tentang hubungan lobster dengan pelabuhan. Dia juga complain karena wartawan itu tidak tahu nama lengkapnya sehingga kesulitan di depan kamera padahal wawancara dilakukan secara langsung. Dia juga mengungkapkan kekecewaannya ketika fotonya sedang merokok beredar luas.)

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BKN Akui Antiradikalisme Jadi Salah Satu Aspek TWK Pegawai KPK

BKN Akui Antiradikalisme Jadi Salah Satu Aspek TWK Pegawai KPK

Nasional
Kemenag Pelajari Implikasi Putusan MA Terkait Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam Sekolah

Kemenag Pelajari Implikasi Putusan MA Terkait Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam Sekolah

Nasional
ICW Nilai Jokowi Perlu Turun Tangan Terkait Polemik Alih Status Pegawai KPK

ICW Nilai Jokowi Perlu Turun Tangan Terkait Polemik Alih Status Pegawai KPK

Nasional
BKN: Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Berbeda dengan TWK CPNS

BKN: Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Berbeda dengan TWK CPNS

Nasional
UPDATE 8 Mei: 8,58 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 13,28 Juta Dosis Pertama

UPDATE 8 Mei: 8,58 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 13,28 Juta Dosis Pertama

Nasional
UPDATE 8 Mei: 6.130 Kasus Baru Tersebar di 31 Provinsi, Jabar Tertinggi Capai 2.209

UPDATE 8 Mei: 6.130 Kasus Baru Tersebar di 31 Provinsi, Jabar Tertinggi Capai 2.209

Nasional
UPDATE 8 Mei: Ada 99.003 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 8 Mei: Ada 99.003 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 8 Mei: 74.547 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 8 Mei: 74.547 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
UPDATE 8 Mei: Tambah 179, Total Pasien Covid-19 Meninggal Capai 46.842

UPDATE 8 Mei: Tambah 179, Total Pasien Covid-19 Meninggal Capai 46.842

Nasional
UPDATE 8 Mei: Tambah 5.494, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.563.917

UPDATE 8 Mei: Tambah 5.494, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.563.917

Nasional
UPDATE 8 Mei: Ada 86.552 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 8 Mei: Ada 86.552 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Buka Peluang Usung Kader pada Pilpres 2024, PAN Tetap Akan Realistis

Buka Peluang Usung Kader pada Pilpres 2024, PAN Tetap Akan Realistis

Nasional
UPDATE 8 Mei: Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 1.709.762, Bertambah 6.130

UPDATE 8 Mei: Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 1.709.762, Bertambah 6.130

Nasional
Bamsoet: Apakah Diskusi Bisa Hentikan Kebrutalan KKB di Papua?

Bamsoet: Apakah Diskusi Bisa Hentikan Kebrutalan KKB di Papua?

Nasional
Abraham Samad Duga TWK Bertujuan Singkirkan 75 Pegawai KPK

Abraham Samad Duga TWK Bertujuan Singkirkan 75 Pegawai KPK

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X