Najwa Shihab: Sosok Gibran dan Kaesang Bikin Penasaran...

Kompas.com - 25/02/2016, 07:01 WIB
Melody 'JKT48' bersama putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, tampil sebagai tamu dalam program bincang-bincang Mata Najwa edisi Rabu (24/2/2016). Dok.MATA NAJWAMelody 'JKT48' bersama putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, tampil sebagai tamu dalam program bincang-bincang Mata Najwa edisi Rabu (24/2/2016).
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, KOMPAS.com - Dua putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, menjadi bintang tamu pada tayangan Mata Najwa, yang dipandu Najwa Shihab dan ditayangkan di Metro TV, pada Rabu (24/2/2016).

Apa yang membuat Najwa tertarik menghadirkan dua putra Presiden ini?

Saat dihubungi Kompas.com, Rabu, Najwa mengatakan, Gibran dan Kaesang merupakan sosok yang membuat publik penasaran dengan aktivitasnya masing-masing.

Gibran, putra sulung Jokowi, dikenal dengan usaha martabaknya. Sementara, putra bungsu, Kaesang, selama ini eksis di media sosial.

"Yang satu aktif di sosial media. Yang satu lagi punya bisnis martabak. Ini membuat orang-orang penasaran," kata Najwa.

Ia pun mengaku tertarik mengungkap keseharian dua jagoan Jokowi ini. 

Ingin sekeluarga, minus Jokowi

Dimulai sekitar akhir Januari 2016, Najwa dan krunya melobi Kaesang dan Gibran untuk tampil di Mata Najwa.

Berbagai cara dilakukan. Mulai dari menemui mereka langsung di gerai martabak milik Gibran, Markobar, hingga melobi Sekretaris Jokowi, Anggit Nugroho.

Awalnya, Najwa dan tim menginginkan tak hanya Gibran dan Kaesang yang tampil, tetapi juga Ibu Negara Iriana Widodo dan putrinya, Kahiyang Ayu.

Namun, waktu shooting tak cocok dengan jadwal kegiatan Iriana dan Kahiyang. Iriana harus ikut mendampingi Jokowi melakukan kunjungan kerja. Sementara, Kahiyang menjalani kuliah pasca sarjananya.

Gayung bersambut. Tidak ada penolakan dari Kaesang dan Gibran.

Justru pertanyaan-pertanyaan penasaran yang keluar dari keduanya, soal apa yang akan ditampilkan pada acara tersebut.

"Mereka intinya tertarik, bukan langsung menolak. Mungkin karena mereka juga sering nonton Mata Najwa ya. Mereka malah penasaran, mereka mau ditampilkan seperti apa sih," ujar Najwa.

Najwa lalu mengirimkan konsep acara kepada keduanya. Mereka pun setuju.
Takut ditanya politik

Dalam proses pengajuan konsep itu, Kaesang dan Gibran mengaku takut ditanya soal hal-hal yang serius, seperti politik.

Keduanya mengaku, benar-benar tidak pernah berbicara politik dengan sang ayah.

"Saya yakinkan ke mereka bahwa angle acara ini bukan hal yang serius. Hanya keseharian keluarga presiden itu saja," ujar Najwa.

Acara itu direkam pada tanggal 8 Februari 2016. Proses perekaman juga berjalan lancar.

"Ada Paspampres. Tapi enggak ribet sama sekali. Malah yang ribet itu harus bagiin ratusan pieces Markobar ke para penonton daripada urusan protokolnya," ujar Najwa.

Untuk acara itu, Mata Najwa membeli 60 kotak Markobar untuk dibagikan kepada penonton di studio.

Najwa mengaku baru mengenal sosok Kaesang dan Gibran. Menurut dia, kedua kakak beradik itu sosok yang sederhana dan apa adanya.

"Apa adanya dan sangat sederhana. Itu kesan yang saya tangkap dari mereka berdua," ujar Najwa.

Episode yang menampilkan Kaesang dan Gibran, menurut Najwa, mendapatkan respons positif dari publik.

"Dari siang saja, sudah jadi trending topic. Jika ukurannya media sosial, ya sudah berhasil," ujar Najwa.

Lantas, apa bedanya keberhasilan Mata Najwa edisi 'dua anak presiden' dengan edisi-edisi sebelumnya yang juga terkadang menjadi trending topic di media sosial?

"Ya mungkin timing-nya pas. Ketika orang lagi penasaran-penasarannya, pingin tahu sosok dua orang itu. Khususnnya Kahesang ya, dia kan sama sekali belum pernah diwawancarai di talkshow seperti itu," ujar Najwa.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Partai Gerindra Gelar Kongres Luar Biasa 8 Agustus, Ini yang Akan Dibahas

Partai Gerindra Gelar Kongres Luar Biasa 8 Agustus, Ini yang Akan Dibahas

Nasional
Kasus Fetish Kain Jarik Bisa Memperjelas Definisi Hasrat Seksual di RUU PKS

Kasus Fetish Kain Jarik Bisa Memperjelas Definisi Hasrat Seksual di RUU PKS

Nasional
Pakar: Pemidanaan Korporasi Justru untuk Menyehatkan Korporasi

Pakar: Pemidanaan Korporasi Justru untuk Menyehatkan Korporasi

Nasional
Protokol Diperketat, Kini Wajib Tunjukkan Hasil Swab Saat Masuk Istana

Protokol Diperketat, Kini Wajib Tunjukkan Hasil Swab Saat Masuk Istana

Nasional
Penerapan Pasal Pencucian Uang dalam Kasus Korupsi Dinilai Masih Rendah

Penerapan Pasal Pencucian Uang dalam Kasus Korupsi Dinilai Masih Rendah

Nasional
Belum Ada Tersangka di Kasus Dugaan Korupsi Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra

Belum Ada Tersangka di Kasus Dugaan Korupsi Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra

Nasional
DPO Masuk ke Database Kependudukan, Mendagri: Lembaga Penegak Hukum Akan Terbantu

DPO Masuk ke Database Kependudukan, Mendagri: Lembaga Penegak Hukum Akan Terbantu

Nasional
Sebut Indonesia Hadapi Banyak Tantangan, Ibas Kenang Pemerintahan SBY

Sebut Indonesia Hadapi Banyak Tantangan, Ibas Kenang Pemerintahan SBY

Nasional
Doni Monardo Minta Jawa Barat Seimbangkan Prioritas Penanganan Covid-19

Doni Monardo Minta Jawa Barat Seimbangkan Prioritas Penanganan Covid-19

Nasional
Pandemi Covid-19, Fraksi Partai Demokrat Siap Kawal Isu Kesehatan dan Ekonomi

Pandemi Covid-19, Fraksi Partai Demokrat Siap Kawal Isu Kesehatan dan Ekonomi

Nasional
Sambut HUT RI, Pemerintah Gelar Lomba Bikin Video Berhadiah Rp 1 Miliar

Sambut HUT RI, Pemerintah Gelar Lomba Bikin Video Berhadiah Rp 1 Miliar

Nasional
Diduga Ada Penerimaan Hadiah oleh Penyelenggara Negara dalam Kasus Red Notice Djoko Tjandra

Diduga Ada Penerimaan Hadiah oleh Penyelenggara Negara dalam Kasus Red Notice Djoko Tjandra

Nasional
Pakar Komunikasi: Kampanye Masker Lebih Tepat untuk Kelompok yang Anggap Covid-19 Tak Bahaya

Pakar Komunikasi: Kampanye Masker Lebih Tepat untuk Kelompok yang Anggap Covid-19 Tak Bahaya

Nasional
Jokowi Sebut Pandemi Covid-19 Momentum Transformasi Pariwisata

Jokowi Sebut Pandemi Covid-19 Momentum Transformasi Pariwisata

Nasional
Bareskrim: Pembuktian Kasus Jadi Tantangan dalam Penanganan Kekerasan Seksual

Bareskrim: Pembuktian Kasus Jadi Tantangan dalam Penanganan Kekerasan Seksual

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X