Kompas.com - 02/02/2016, 15:54 WIB
Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia Utang Ranuwijaya. Fabian Januarius KuwadoKetua Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia Utang Ranuwijaya.
|
EditorSabrina Asril
JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) rencananya akan segera mengeluarkan fatwa terkait polemik organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Utang Ranuwijaya.

"Mudah-mudahan secepatnya. Saya sudah diundang pimpinan besok rapat Komisi Fatwa MUI. Siang ini kalau Mahful datang, kami akan lakukan proses klarifikasi. Jadi, kemungkinan besar besok siang konferensi pers mengenai fatwa," ujar Utang Ranuwijaya ketika ditemui di kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (2/2/2016).

Utang mengungkapkan, dia telah menyampaikan rekomendasi hasil pengkajian terkait Gafatar ke Komisi Fatwa MUI.

Kajian dilakukan untuk menjawab dua pertanyaan mendasar terkait Gafatar. Pertama, apakah apakah ada kaitannya antara Gafatar dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang sudah dinyatakan MUI sesat sebelumnya.

(Baca: MUI Temukan Ada Paham Sesat di Gafatar)

Kedua, apakah semua kegiatan yang dilakukan Gafatar menyimpang dari ajaran agama atau tidak. Komisi Pengkajian mengkaji berdasarkan dokumen hingga pemberitaan media massa terkait Gafatar. Rencananya, hari ini MUI juga meminta klarifikasi dari mantan pengurus Gafatar.

Namun, dari hasil kajian sementara, MUI menemukan adanya paham sesat yang berkembang di organisasi tersebut.

"Kami menyimpulkan dua pertanyaan tadi terpenuhi. Dalam kegiatan keagamaannya, masuk dalam 10 kriteria kegiatan sesat. Itu baru kesimpulan, yang menentukan sesat atau tidak itu nanti Komisi Fatwa," ujar Utang Ranuwijaya.

(Baca: Jubir Gafatar: Kami Sudah Bubar, Tak Akan Penuhi Undangan MUI)

Dia pun menambahkan bahwa meskipun secara formal Gafatar mengaku sebagai organisasi sosial, Utang menemukan kegiatan keagamaan terselubung yang bisa dikatakan sesat.

"Jadi, biasanya organisasi sesat itu di permukaan menunjukkan kalau dirinya netral dan resmi, tetapi di belakang mereka melakukan kegiatan terselubung yang meresahkan. Itu berdasarkan data-data di lapangan mereka melakukan kegiatan seperti itu," katanya.

(Baca: Menag: Gafatar Terindikasi Kuat Lakukan Makar)

Kegiatan keagamaan yang dimaksud, menurut dia, adalah pernyataan diri anggota Gafatar sebagai penganut Millah Abraham.

"Seperti yang saya sampaikan tadi, mereka menyatakan diri sebagai penganut Millah Abraham. Berarti mereka penganut suatu paham keagamaan. Sangat beralasan bagi kami untuk mengeluarkan fatwa," ujarnya. (Baca: Jubir Gafatar: Kami Sudah Bubar, Tak Akan Penuhi Undangan MUI)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Megawati Itu Jenaka dan Membentak

Megawati Itu Jenaka dan Membentak

Nasional
Ketua DPP Golkar Bantah Isu Anies Baswedan Merapat untuk 2024

Ketua DPP Golkar Bantah Isu Anies Baswedan Merapat untuk 2024

Nasional
Tak Jadi Pangkostrad, Agus Subiyanto dan Nyoman Cantiasa Tetap Dapat Jabatan Letjen

Tak Jadi Pangkostrad, Agus Subiyanto dan Nyoman Cantiasa Tetap Dapat Jabatan Letjen

Nasional
Kemenag: Total 4.674 Jemaah Berangkat Umrah Sejak Januari

Kemenag: Total 4.674 Jemaah Berangkat Umrah Sejak Januari

Nasional
Tak Hanya Pasien Lansia dan Komorbid, Risiko Fatalitas Varian Omicron Juga Mengancam Anak-anak

Tak Hanya Pasien Lansia dan Komorbid, Risiko Fatalitas Varian Omicron Juga Mengancam Anak-anak

Nasional
UPDATE 23 Januari: 251.907 Spesimen Diperiksa, Positivity Rate PCR 9,22 Persen

UPDATE 23 Januari: 251.907 Spesimen Diperiksa, Positivity Rate PCR 9,22 Persen

Nasional
Golkar Janji Tak Akan Usung Capres Selain Airlangga di Pilpres 2024

Golkar Janji Tak Akan Usung Capres Selain Airlangga di Pilpres 2024

Nasional
Cerita Pramono Anung tentang Megawati: Pernah Akan Pecat Kader yang Mau Interupsi Pidato SBY

Cerita Pramono Anung tentang Megawati: Pernah Akan Pecat Kader yang Mau Interupsi Pidato SBY

Nasional
Golkar Akan Kerahkan Organisasi Sayap untuk Promosikan Airlangga

Golkar Akan Kerahkan Organisasi Sayap untuk Promosikan Airlangga

Nasional
UPDATE 23 Januari: 18.891 Pasien Covid-19 di Indonesia Masih Jalani Isolasi

UPDATE 23 Januari: 18.891 Pasien Covid-19 di Indonesia Masih Jalani Isolasi

Nasional
Saling Sindir Anies-Giring, Pengamat: Politik Itu soal Perkelahian, Menegasi dan Membantah

Saling Sindir Anies-Giring, Pengamat: Politik Itu soal Perkelahian, Menegasi dan Membantah

Nasional
Guntur Soekarnoputra Ungkap Masa Kecil Megawati: Jago Main Bola

Guntur Soekarnoputra Ungkap Masa Kecil Megawati: Jago Main Bola

Nasional
UPDATE 23 Januari: 2.925 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 27 Provinsi

UPDATE 23 Januari: 2.925 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 27 Provinsi

Nasional
UPDATE 23 Januari: 124.080.794 Orang Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua

UPDATE 23 Januari: 124.080.794 Orang Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua

Nasional
UPDATE 23 Januari: Bertambah 14, Kasus Kematian Covid-19 Jadi 144.220 Jiwa

UPDATE 23 Januari: Bertambah 14, Kasus Kematian Covid-19 Jadi 144.220 Jiwa

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.