Sunakim Alias Afif, Koboi Ganas Jebolan Jalin Jantho

Kompas.com - 17/01/2016, 18:57 WIB
Foto ini dirilis oleh agensi berita China Xinhua, seorang pria tak dikenal dengan senjata, terduga pelaku, terlihat setelah ledakan menghantam kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016. Serangkaian ledakan menewaskan sejumlah orang, terjadi baku tembak antara polisi dan beberapa orang yang diduga pelaku. AP / VERI SANOVRIFoto ini dirilis oleh agensi berita China Xinhua, seorang pria tak dikenal dengan senjata, terduga pelaku, terlihat setelah ledakan menghantam kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016. Serangkaian ledakan menewaskan sejumlah orang, terjadi baku tembak antara polisi dan beberapa orang yang diduga pelaku.
EditorTri Wahono

Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti membenarkan salah satu pelaku bom di Jalan MH Thamrin adalah Sunakim alias Afif. Pemuda berkaus dan bertopi hitam itu menjadi pelaku pertama yang dikenali secara luas.

Massa yang berkerumun di kawasan Thamrin tidak menduga pemuda dengan kaus bertulis Tiesto, DJ terkenal asal Belanda, itu teroris berdarah. Sebelum beraksi, pria yang pernah tinggal di Karawang, Jawa Barat, itu memang berada di tengah massa. Semua terkejut saat ia mulai menembaki polisi-polisi yang tengah melawan rekan-rekan Afif.

Bersama empat rekannya, Afif memang akhirnya tewas dalam insiden hampir empat jam itu. Kawasan Thamrin menjadi ranah aksi terakhir pria yang bertahun-tahun terlibat jaringan terorisme itu.

Keterlibatan Afif di jaringan terorisme resmi tercatat antara lain pada 1 Maret 2010. Ia salah satu dari puluhan orang yang ditangkap secara terpisah karena terlibat pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh Besar. Dalam hutan di kaki bukit Jalin, Afif bersama puluhan orang lain berlatih perang.

Mereka berlatih menembak, menyerbu, bertahan dari serangan musuh. Pria dari sejumlah daerah di Indonesia itu juga belajar merakit bom. Instruktur mereka antara lain Yusuf dan Mahfud yang ditahan di LP Nusakambangan. Pelatih lain, Enceng Kurnia alias Arham, tewas ditembak pada 2010 di Aceh Besar.

Di tempat pelatihan itu, polisi menemukan berbagai jenis senjata dan perlengkapannya serta aneka jenis bom. Polisi juga menemukan berbagai dokumen yang antara lain berisi rencana penyerangan terhadap para polisi.

Rencana itu baru benar-benar diwujudkan pada 2013. Sejumlah polisi tewas ditembak di Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan.

Setelah reda beberapa saat, kelompok itu memungkasi aksi mereka dengan menembak Bripka Sukardi di depan kantor KPK di kawasan Kuningan, Jakarta, pada 10 September 2013.

Semua penembakan dilakukan pada malam hari dan jalanan sudah relatif sepi.

Kelompok pimpinan Nurul Hidayat itu akhirnya ditumpas di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, pada 31 Desember 2013. Kepala Biro Penerangan Polri, kala itu, Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar memastikan kelompok Hidayat berafiliasi dengan Amat Untung alias Abu Roban dan Badri, anggota kelompok Indra Kusuma alias Abu Umar.

Mereka tergabung dalam Mujahidin Indonesia Barat, kelompok yang didirikan alumni Jalin Jantho. Kelompok itu memilih Garut, Jawa Barat, sebagai tempat deklarasi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X