Akbar Faizal Simpulkan Ada Upaya Ambil Keuntungan dari Pertemuan dengan Bos Freeport

Kompas.com - 03/12/2015, 15:51 WIB
Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan, Akbar Faizal saat mendengar keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said dalam sidang terbuka Mahkamah Kehormatan Dewan di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (2/12/2015). KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOAnggota Mahkamah Kehormatan Dewan, Akbar Faizal saat mendengar keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said dalam sidang terbuka Mahkamah Kehormatan Dewan di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (2/12/2015).
|
EditorSabrina Asril
JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) asal Fraksi Partai Nasdem, Akbar Faisal mengungkapkan kesimpulan sementara yang didapatnya dari kesaksikan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin adalah ada upaya mencari keuntungan yang dilakukan sekelompok orang.

"Kenyataannya (Maroef) tidak diuntungkan tuh. Dia malah menanyakan, mana perpanjangannya segala macam. Negara dibuat seperti milik kelompok sendiri. Sedih saya," tutur Akbar di sela sidang MKD, Kompleks Parlemen, Kamis (3/12/2015).

Sebelumnya, Maroef sudah membenarkan bahwa rekaman yang diperdengarkan kemarin, Rabu (2/12/2015) di sidang MKD adalah benar rekaman yang dibuatnya saat bertemu dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto dan pengusaha Riza Chalid.

 
Dengan pengakuan Maroef itu, maka MKD tidak akan memutar kembali rekaman percakapan itu. (Baca: Maroef: Jim Bob Bilang Silakan Beri Saham, Kalau Mau Penjarakan Saya)
 
Apalagi, rekaman percakapan juga sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung yang sedang mengusut ranah pidana kasus ini.
 
Di dalam rekaman percakapan itu, Maroef mengaku sudah ada pembicaraan yang tidak etis yang dilakukan Setya dan Riza. (Baca: Presdir Freeport Heran Kenapa Setya Novanto Ajak Riza Chalid, Bukan Komisi VII)
 
Salah satunya adalah soal permintaan saham untuk Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Setya dan Riza juga berusaha meyakinkan Maroef bahwa kontrak Freeport Indonesia akan dilanjutkan pemerintah. (Baca: Sikapi Isi Rekaman, JK Sebut Tragis, Congkak, dan Ada Upaya Rugikan Negara)
 
Mereka mengungkapkan kedekatan Setya dengan Luhut Binsar Pandjaitan yang dianggap mampu mempengaruhi keputusan Jokowi.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.