Kompas.com - 27/11/2015, 09:04 WIB
Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri didampingi mantan Kepala BIN AM Hendropriyono (kiri) plt Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristoanto (dua kanan), dan Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (kanan) menghadiri International Conference on Terrorism & ISIS di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2015). Keberadaan ISIS mulai mengancam Indonesia dengan ditangkapnya 5 terduga anggota ISIS oleh Detasemen Khusus Anti-Teror Mabes Polri di wilayah Jabodetabek Sabtu 21 Maret lalu. TRIBUNNEWS/DANY PERMANAPresiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri didampingi mantan Kepala BIN AM Hendropriyono (kiri) plt Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristoanto (dua kanan), dan Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (kanan) menghadiri International Conference on Terrorism & ISIS di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2015). Keberadaan ISIS mulai mengancam Indonesia dengan ditangkapnya 5 terduga anggota ISIS oleh Detasemen Khusus Anti-Teror Mabes Polri di wilayah Jabodetabek Sabtu 21 Maret lalu.
Penulis Ihsanuddin
|
EditorSandro Gatra

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri hanya tertawa saat ditanya mengenai pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyeret Ketua DPR Setya Novanto.

Ditemui seusai pentas ketoprak Bangun Majapahit di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (26/11/2015), Megawati berkomentar banyak saat ditanya mengenai pentas yang digelar oleh PDI-P itu.

Menurut Megawati, banyak pesan moral yang bisa diambil dalam berdirinya Kerajaan Majapahit. (Baca: Terkait Kasus Pencatutan Nama, Jokowi Minta MKD Jangan Diintervensi)

"Ini kan karena masalah betul-betul sejarah bangsa sehingga memang seperti itu bagaimana perbuatan politik terus berjalan, yang menunjukkan pertempuran kebaikan dan keburukan," kata Megawati.

Presiden ke-5 RI ini mengatakan, kondisi perpolitikan saat ini juga pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi pada zaman Kerajaan Majapahit.

Ada pertempuran antara kepentingan-kepentingan yang baik dan yang buruk. (Baca: Benarkah Ada Upaya Menyuap MKD Rp 27 Miliar dalam Kasus Setya Novanto?)

"Tetapi, tentunya yang menang adalah kebaikan," kata Megawati.

Selanjutnya, saat ditanya soal kasus Setya Novanto yang sedang berproses di Mahkamah Kehormatan Dewan, Megawati tak mau lagi berkomentar. (Baca: F-Golkar Ikut Ganti Semua Anggotanya di MKD)

Megawati yang sebelumnya sempat bertegur sapa dengan Setya Novanto dalam acara pentas Bangun Majapahit hanya tertawa mendengar pertanyaan yang diajukan dan langsung meninggalkan wartawan.

"Sudah ya, cukup ya, ini kan kita bicara soal kebudayaan," kata Sekjen DPP PDI-P Hasto Kristiyanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkes Sebut Kapasitas WGS untuk Deteksi Omicron di RI Hanya Mampu Uji 2.000 Spesimen Sebulan

Menkes Sebut Kapasitas WGS untuk Deteksi Omicron di RI Hanya Mampu Uji 2.000 Spesimen Sebulan

Nasional
Prabowo Dukung Upaya Kemandirian Nasional dalam Merawat Alutsista

Prabowo Dukung Upaya Kemandirian Nasional dalam Merawat Alutsista

Nasional
Kuasa Hukum Sebut Edy Mulyadi Dapat Teror Buntut Pernyataan yang Menyinggung Warga Kalimantan

Kuasa Hukum Sebut Edy Mulyadi Dapat Teror Buntut Pernyataan yang Menyinggung Warga Kalimantan

Nasional
Pukat UGM Sebut Pernyataan Jaksa Agung Bisa Menumbuhkan Korupsi Kecil-kecilan

Pukat UGM Sebut Pernyataan Jaksa Agung Bisa Menumbuhkan Korupsi Kecil-kecilan

Nasional
Begini Gejala Ringan, Sedang, dan Berat Pasien Omicron

Begini Gejala Ringan, Sedang, dan Berat Pasien Omicron

Nasional
Nama Ahok Masuk Bursa Pimpin IKN, PKS Ingatkan Jokowi Hal-hal Ini

Nama Ahok Masuk Bursa Pimpin IKN, PKS Ingatkan Jokowi Hal-hal Ini

Nasional
PDI-P Lebih Pertimbangkan Ahok Pimpin IKN, Hasto: Bu Risma Memenuhi Kualifikasi, tapi...

PDI-P Lebih Pertimbangkan Ahok Pimpin IKN, Hasto: Bu Risma Memenuhi Kualifikasi, tapi...

Nasional
Marak Spekulan Tanah di IKN, Pemerintah Siapkan PP Pertanahan

Marak Spekulan Tanah di IKN, Pemerintah Siapkan PP Pertanahan

Nasional
Singapura Bisa Latihan Militer di Langit Indonesia, Effendi Simbolon: Kenapa Dikasih?

Singapura Bisa Latihan Militer di Langit Indonesia, Effendi Simbolon: Kenapa Dikasih?

Nasional
PTM 100 Persen Masih Berjalan, PGRI: Tak Ada Artinya kalau Keselamatan Anak dan Guru Terancam

PTM 100 Persen Masih Berjalan, PGRI: Tak Ada Artinya kalau Keselamatan Anak dan Guru Terancam

Nasional
Ruang Udara Kecil Jadi Pertimbangan, Singapura Juga Boleh Latihan di Langit RI Saat Era Soeharto

Ruang Udara Kecil Jadi Pertimbangan, Singapura Juga Boleh Latihan di Langit RI Saat Era Soeharto

Nasional
Kabareskrim: Panggilan Kedua untuk Edy Mulyadi Akan Disertai Perintah Membawa

Kabareskrim: Panggilan Kedua untuk Edy Mulyadi Akan Disertai Perintah Membawa

Nasional
Kebakaran Landa Permukiman di Sawah Besar, 240 Jiwa Mengungsi

Kebakaran Landa Permukiman di Sawah Besar, 240 Jiwa Mengungsi

Nasional
Kasus Covid-19 Naik, Ketua IDAI: Ruang Perawatan Khusus Anak di RS Dibuka Lagi

Kasus Covid-19 Naik, Ketua IDAI: Ruang Perawatan Khusus Anak di RS Dibuka Lagi

Nasional
Saat Eks Dirjen Kemendagri Diduga Minta 'Uang Pelicin' agar Dana PEN Kolaka Timur Bisa Cair...

Saat Eks Dirjen Kemendagri Diduga Minta "Uang Pelicin" agar Dana PEN Kolaka Timur Bisa Cair...

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.