Ada Persoalan dengan Hary Tanoesoedibjo, Syarwan Hamid Mundur dari Perindo

Kompas.com - 17/11/2015, 15:43 WIB
Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Perindo Syarwan Hamid saat ditemui di acara Pelantikan Pengurus DPP  serta Organisasi Sayap Partai Perindo di Kantor DPP Perindo, Jakarta, Kamis (8/10/2015). KOMPAS.com/Nabilla TashandraKetua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Perindo Syarwan Hamid saat ditemui di acara Pelantikan Pengurus DPP serta Organisasi Sayap Partai Perindo di Kantor DPP Perindo, Jakarta, Kamis (8/10/2015).
|
EditorHeru Margianto

PEKANBARU, KOMPAS.com — Mantan Menteri Dalam Negeri era Presiden BJ Habibie, Letnan Jenderal (Purn) Syarwan Hamid menyatakan mundur dari Partai Persatuan Indonesia pimpinan Hary Tanoesoedibjo.

Syarwan baru bergabung dalam Partai Persatuan Indonesia (Perindo) sebagai Ketua Dewan Penasihat pada 8 Oktober lalu, atau hanya berjalan selama 41 hari.

"Ada persoalan yang mengganggu antara saya dan dia (Hary). Masalah itu sebenarnya sepele. Namun, saya tidak diberi ruang untuk menyelesaikannya. Berulang kali saya mencoba bertemu untuk menyelesaikan, ajudannya selalu menjawab kalau dia tidak punya waktu. Saya merasa dia tidak memiliki etika dan tata krama sebagai orang Timur," ujar Syarwan Hamid dalam pertemuan dengan wartawan di Gedung Lembaga Adat Melayu Riau, di Pekanbaru, Selasa (17/11/2015).

Syarwan mengungkapkan, persoalan bermula saat acara partai di Manokwari, beberapa pekan lalu. Masalah timbul dalam sebuah acara makan siang di kediaman Wakil Gubernur Papua Barat di Manokwari.

Hary berpindah posisi duduk, tidak berdekatan dengan Syarwan yang makan semeja dengan Wagub. Syarwan merasa ada yang tidak pas, dan ia ingin membicarakannya dengan Hary. Hary menolak dan mengatakan bahwa hal itu dapat disampaikan di pesawat saja.

Pembicaraan di pesawat batal. Sesampainya di Jakarta, Syarwan berkali-kali mencoba menghubungi Hary untuk membahas persoalan.

Lagi-lagi, tidak ada waktu yang disediakan Hary. Terakhir, Syarwan kembali menyatakan ingin bertemu dengan membawa berkas berisi lima poin saran untuk perkembangan partai. Namun, Hary kembali tidak dapat ditemui.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya tidak dapat menerima sikap seperti itu. Semestinya, ada perilaku dan tata krama Timur menghormati orang yang lebih tua, apalagi saya sudah menganggapnya sebagai anak. Saya tidak tahu apa alasannya tidak memberi peluang untuk bicara. Saya masuk ke partai bukan karena menginginkan jabatan politik. Saya hanya ingin membagi pengalaman kepada orang-orang muda," kata Syarwan.

Kecewa

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al Azhar, yang mendampingi Syarwan dalam pertemuan, mengungkapkan, Syarwan tidak layak diperlakukan tidak hormat oleh siapa pun, termasuk pemimpin partai seperti Hary Tanoesoedibjo.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

YLKI Minta Syarat Wajib Tes PCR untuk Naik Pesawat Dibatalkan, Ini Respons Kemenkes

YLKI Minta Syarat Wajib Tes PCR untuk Naik Pesawat Dibatalkan, Ini Respons Kemenkes

Nasional
Kemenag Hadiah untuk NU, Sekjen PBNU: Dengan Segala Hormat, Menag Kurang Bijaksana...

Kemenag Hadiah untuk NU, Sekjen PBNU: Dengan Segala Hormat, Menag Kurang Bijaksana...

Nasional
KSAU: AUKUS Dapat Tingkatkan Ketegangan Militer dan Lomba Senjata Nuklir di Kawasan

KSAU: AUKUS Dapat Tingkatkan Ketegangan Militer dan Lomba Senjata Nuklir di Kawasan

Nasional
Ketua Komisi VIII DPR Minta Menag Hindari Pernyataan yang Kontraproduktif dan Bikin Gaduh

Ketua Komisi VIII DPR Minta Menag Hindari Pernyataan yang Kontraproduktif dan Bikin Gaduh

Nasional
Kontras Desak Menteri Yaqut Minta Maaf Atas Pernyataan Kemenag Hadiah Negara untuk NU

Kontras Desak Menteri Yaqut Minta Maaf Atas Pernyataan Kemenag Hadiah Negara untuk NU

Nasional
Menag Yaqut Tegaskan Kemenag Bukan hanya untuk NU

Menag Yaqut Tegaskan Kemenag Bukan hanya untuk NU

Nasional
Jokowi Teken PP, KPK Kini Bisa Lelang Benda Sitaan Sejak Kasus dalam Penyidikan

Jokowi Teken PP, KPK Kini Bisa Lelang Benda Sitaan Sejak Kasus dalam Penyidikan

Nasional
Survei Elektabiltas Capres 2024, Ganjar Urutan Pertama Diikuti Prabowo dan Anies Baswedan

Survei Elektabiltas Capres 2024, Ganjar Urutan Pertama Diikuti Prabowo dan Anies Baswedan

Nasional
Survei Poltracking: 67,4 Persen Responden Puas terhadap kinerja Jokowi-Ma’ruf

Survei Poltracking: 67,4 Persen Responden Puas terhadap kinerja Jokowi-Ma’ruf

Nasional
Tanggapi Pernyataan Menag Yaqut, Pimpinan DPR: Kemenag untuk Semua Agama

Tanggapi Pernyataan Menag Yaqut, Pimpinan DPR: Kemenag untuk Semua Agama

Nasional
Waketum Gerindra: Seharusnya Menteri Agama Mengayomi Semua Golongan

Waketum Gerindra: Seharusnya Menteri Agama Mengayomi Semua Golongan

Nasional
Kasetwapres Jadi Dubes Prancis, Jubir: Wapres Sudah Siapkan Pelaksana Tugas

Kasetwapres Jadi Dubes Prancis, Jubir: Wapres Sudah Siapkan Pelaksana Tugas

Nasional
Siapakah Gubernur yang Bakal Jadi Capres 2024?

Siapakah Gubernur yang Bakal Jadi Capres 2024?

Nasional
Profil Ivan Yustiavandana, Kepala PPATK yang Baru Dilantik Jokowi

Profil Ivan Yustiavandana, Kepala PPATK yang Baru Dilantik Jokowi

Nasional
Kasus Suap Infrastruktur di Musi Banyuasin, KPK Panggil Istri Dodi Alex Noerdin sebagai Saksi

Kasus Suap Infrastruktur di Musi Banyuasin, KPK Panggil Istri Dodi Alex Noerdin sebagai Saksi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.