Kompas.com - 07/10/2015, 14:39 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, KOMPAS.com – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri memeriksa seorang saksi bernama Hadiyanto terkait kasus dugaan korupsi penjualan kondensat, Rabu (7/10/2015). Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Pencucian Uang Bareskrim Polri Kombes (Pol) Golkar Pangarso mengatakan, Hadiyanto memenuhi panggilan pemeriksaan pada hari ini.

“Dia sudah datang dan lagi diperiksa,” ujar Golkar, di Kompleks Mabes Polri, Rabu siang.

Pemeriksaan terhadap Hadiyanto, saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan itu merupakan yang ketiga kalinya. Terakhir, Hadiyanto diperiksa pada Senin (5/10/2015) lalu.

Dikonfirmasi secara terpisah, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Bambang Waskito mengatakan, Hadiyanto diperiksa bukan sebagai Sekjen Kemenkeu, melainkan sebagai pemegang saham mayoritas di PT TPPI.

“Dia juga sekaligus sebagai komisaris di perusahaan tersebut. Maka dari itu keterangan dia sangat kita butuhkan,” ujar Bambang.

Bambang enggan mengungkapkan materi pemeriksaan. Secara umum, penyidik akan menanyakan soal proses penjualan kondensat sejak tahun 2009 hingga 2011 yang diduga merugikan negara senilai Rp 2 triliun.

PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang bergerak di bidang petrokimia itu diduga melakukan korupsi dalam penjualan kondensat bagian negara tahun 2009 hingga 2011. Kasus ini juga diduga melibatkan BP Migas dan Kementerian ESDM.

Penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan Honggo Wendratmo, pendiri dan bekas pemilik PT TPPI sebagai tersangka. Selain itu, dalam kasus ini penyidik telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono dan mantan Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Raden Priyono.

Penyidik Bareskrim mengklaim menemukan sejumlah dugaan tindak pidana, yakni penunjukan langsung PT TPPI oleh BP Migas untuk menjual kondensat. Penyidik juga menemukan bahwa meskipun kontrak kerja sama BP Migas dengan PT TPPI ditandatangani pada Maret 2009, tetapi PT TPPI sudah menerima kondensat dari BP Migas sejak Januari 2009 untuk dijual. PT TPPI juga diduga tidak menyerahkan hasil penjualan kondensat ke kas negara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.