Soekarno di Saumlaki, Sumber Inspirasi

Kompas.com - 27/08/2015, 17:00 WIB

KOMPAS/A PONCO ANGGORO Tarian tradisional digelar saat peresmian patung Sukarno, presiden pertama Indonesia, di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, Selasa (25/8). Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang meresmikan patung itu berharap Sukarno yang pernah mengunjungi Saumlaki tahun 1958, menjadi inspirasi bagi warga Maluku Tenggara Barat, salah satu kabupaten terluar di Indonesia.
JAKARTA, KOMPAS - Tanggal 4 November 1958, Kapal Mangkara dan Djadayat yang dikawal oleh sejumlah kapal perang merapat di Saumlaki, ibu kota Maluku Tenggara Barat, Maluku. Masyarakat pun antusias menyambutnya. Tak lain karena presiden pertama Indonesia, Soekarno, menjadi salah satu penumpang kapal.

Saat itu, Soekarno membawa serta sejumlah duta besar negara lain, seperti Duta Besar Negara Arab Persatuan, Republik Rakyat Tiongkok, Filipina, Pakistan, Turki, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Uni Soviet, Hongaria, dan Irak. Ikut pula wartawan luar negeri dari Amerika Serikat, Uni Soviet, Tiongkok, dan juga wartawan-wartawan dalam negeri.

Saumlaki seperti ingin dikenalkan kepada dunia, bahwa ibu kota Maluku Tenggara Barat ini adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia sekalipun lokasinya berada jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta dan berada di daerah terluar dari Tanah Air. Dibandingkan ke Jakarta, jarak Saumlaki lebih dekat ke Timor Leste dan Australia. Namun, dengan paradigma kemaritiman sekarang ini, Saumlaki yang terletak di Pulau Yamdena sesungguhnya adalah pintu terdepan negeri ini.

Barangkali karena posisinya yang jauh dari pusat kekuasaan, baru dua pemimpin nasional yang mengunjungi Saumlaki. Selain Soekarno pada 1958, pemimpin kedua yang mengunjungi Saumlaki adalah Wakil Presiden Boediono pada 5-6 November 2010, persis 52 tahun setelah kunjungan Soekarno.

Pada tahun 1958 itu, di hadapan masyarakat Saumlaki dan tamu asing yang dibawanya, Soekarno pun berpidato, meneguhkan kedaulatan Indonesia yang saat itu sudah 13 tahun merdeka.

"Saudara-saudara, kadang-kadang masih ada orang-orang yang memakai perkataan penyerahan kedaulatan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kita memproklamasikan kemerdekaan kita. Kemudian di dalam bentuk Republik Indonesia kita kembali dicoba oleh pihak Belanda untuk digempur. Namun usaha mereka mengalami kegagalan dan akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 mereka mengakui kedaulatan kita. Dengarkan perkataan Bapak, mengakui kedaulatan kita," ujar Soekarno dalam pidatonya.

Dia pun menyinggung soal Irian Barat (Papua) yang saat itu masih dikuasai Belanda. "Wilayah Republik Indonesia adalah seluruh kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jadi salah jikalau dikatakan bahwa kita harus mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia. Irian Barat sudah di dalam wilayah Republik Indonesia," tuturnya.

Untuk terus meneguhkan kedaulatan Indonesia, memang menjadi sangat penting saat itu. Selain Irian Barat masih dikuasai Belanda, pemberontakan berulang kali terjadi, yang merongrong kedaulatan. Maka tidak salah jika Soekarno, menurut catatan di Arsip Nasional Republik Indonesia, sering blusukan ke daerah-daerah, termasuk Maluku.

Diabadikan

Kini, walaupun sudah 56 tahun berlalu sejak Soekarno menjejakkan kaki di Saumlaki, masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat masih mengingatnya.

Namanya pun diabadikan menjadi nama ruas jalan utama di Saumlaki tempat kantor-kantor pemerintahan. Bahkan, tak hanya itu, patung Soekarno pun dibangun di sana.

Patung yang terbuat dari perunggu itu memiliki tinggi 6 meter. Patung menggambarkan Soekarno sedang mengangkat tangannya seperti kebiasaannya saat menyapa rakyat.

Lokasinya strategis, menghadap ke arah gedung Kantor Bupati Maluku Tenggara Barat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Maluku Tenggara Barat, dan bisa dilihat dari pesisir pantai karena lokasi patung di perbukitan.

Pembangunannya dimulai oleh Hidayat Galeri di Yogyakarta pada November 2013, monumen tuntas dibangun akhir tahun lalu. Dibutuhkan biaya total sekitar Rp 2,2 miliar untuk membangun patung berikut pelataran di sekitar monumen.

Monumen kemudian diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam kunjungannya ke Saumlaki, Selasa (25/8). "Kita harus tetap ingat, Bung Karno adalah Bapak Bangsa, Proklamator kita, Presiden Pertama kita. Bung Karno harus senantiasa menjadi inspirasi," ujarnya.

Diharapkan jadi inspirasi

Bupati Maluku Tenggara Barat Bitzael S Temmar mengatakan, Soekarno memang sengaja diabadikan supaya masyarakat tidak lupa bahwa Soekarno pernah datang ke Saumlaki. Di tengah kesibukannya memimpin negara, di tengah sulitnya menjangkau Saumlaki dari Jakarta karena posisinya terisolasi di ujung negeri, Soekarno tidak melupakan Saumlaki sebagai bagian penting Indonesia.

Mengabadikan Soekarno juga diharapkannya mampu menginspirasi masyarakat Maluku Tenggara Barat. Perjuangan Soekarno pantang menyerah melawan penjajah, begitu pula seha- rusnya masyarakat Maluku Tenggara Barat. Namun bukan lagi menghadapi penjajah, melainkan berjuang bersama memajukan negeri.

Inspirasi itu pula yang diharapkan Megawati Soekarnoputri, salah satu putri Soekarno, yang pesannya dibacakan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Komarudin Watubun, saat peresmian patung Soekarno.

"Hadirnya monumen Soekarno adalah wujud dari slogan beliau jasmerah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah) sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda, rakyat Saumlaki, Maluku, dan Indonesia. Sumber inspirasi ini yang harus tetap dipupuk, dirawat agar muncul Sokarno-Soekarno muda yang mampu menggemparkan dunia," tutur Megawati.

Seperti kata Bung Karno, dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, "Ambillah inspirasi dari puncak kejayaan besar di masa lalu untuk berjalan dan berjuang, membanting tulang, dan bertempur. Bangsa yang hanya duduk termenung, menggembar-gemborkan sejarah leluhurnya, akan layu dengan sendirinya, akan mengecil, akan mengerut, dan akhirnya mati". (Frans Pati Herin/A Ponco Anggoro)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Agustus 2015, di halaman 5 dengan judul "Soekarno di Saumlaki, Sumber Inspirasi".

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLaksono Hari Wiwoho
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X