Anggota F-Hanura Tuntut Fahri Hamzah Minta Maaf soal Sebutan Beloon

Kompas.com - 24/08/2015, 11:41 WIB
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, saat menghadiri acara buka puasa bersama di Kantor DPP Perindo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2015). KOMPAS.com/ABBA GABRILLINWakil Ketua DPR Fahri Hamzah, saat menghadiri acara buka puasa bersama di Kantor DPP Perindo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2015).
Penulis Ihsanuddin
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPR RI dari Fraksi Hanura, Inas Nasruloh Zubir, secara resmi melaporkan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, ke Mahkamah Kehormatan Dewan. Laporan itu terkait pernyataan Fahri saat wawancara di salah satu televisi swasta mengenai pembangunan tujuh proyek DPR, yang dianggap menyinggung Inas selaku anggota DPR.

Inas menyerahkan laporannya ke Sekretariat MKD, Senin (24/8/2015) pukul 10.30 WIB. "Kita minta ini segera diproses secepatnya, agar marwah DPR ini terjaga dengan baik," kata Inas saat dihubungi Kompas.com, Senin siang.

Inas merasa tersinggung oleh pernyataan Fahri tersebut. Ia meminta Fahri segera meminta maaf di media massa atas ucapannya tersebut. (Baca Anggota Fraksi Hanura Akan Adukan Fahri Hamzah soal Sebutan DPR Beloon)

Inas menganggap Fahri tidak menunjukkan sikap kenegarawanan karena hingga kini tetap santai meskipun mendapat kritik atas ucapannya tersebut. Jika Fahri sudah meminta maaf secara terbuka di media massa, Inas berjanji akan memaafkan politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut. Laporan di MKD juga akan segera dicabut.

"Harusnya kalau negarawan, gentle saja minta maaf. Kita di DPR ini kan kekeluargaan. Kalau ada orang salah, ya minta maaf. Kalau sudah minta maaf, ya kita maafkan," ucapnya.

Dalam wawancara di televisi terkait pembangunan 7 proyek DPR beberapa waktu lalu, Fahri Hamzah mengatakan, dalam tradisi demokrasi, pola pikir anggota Dewan harus diperkuat. Hal itu karena anggota parlemen dipilih rakyat bukan karena kecerdasannya, melainkan karena rakyat suka.

"Makanya, kadang-kadang banyak orang datang ke DPR ini tidak cerdas, kadang-kadang mungkin kita bilang rada-rada beloon begitu. Akan tetapi, dalam demokrasi, kita menghargai pilihan rakyat," kata Fahri.

Menurut Fahri, anggota Dewan memerlukan staf yang akan memberikan sistem pendukung, pusat kajian, ilmuan, peneliti, dan lain-lain. Hal itu memerlukan beragam fasilitas, termasuk pembangunan sejumlah proyek di DPR.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X