Kompas.com - 04/08/2015, 17:41 WIB
Gubernur nonaktif Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho (memakai baju tahanan) usai diperiksa penyidik KPK, di Jakarta Selatan, Senin (3/8/2015). Gatot dan istri keduanya, Evy Susanti ditahan terkait kasus dugaan suap terhadap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara di Kota Medan. TRIBUNNEWS/HERUDINGubernur nonaktif Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho (memakai baju tahanan) usai diperiksa penyidik KPK, di Jakarta Selatan, Senin (3/8/2015). Gatot dan istri keduanya, Evy Susanti ditahan terkait kasus dugaan suap terhadap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara di Kota Medan.
|
EditorCaroline Damanik

KUTA, KOMPAS.com
— Plt Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki mengatakan bahwa penahanan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti, adalah sah karena KPK sudah memiliki alat bukti yang cukup.

"Alat bukti yang dikumpulkan oleh penyelidik sudah cukup. Mereka (KPK) sudah melakukan gelar perkara dengan keempat pimpinan, kebetulan waktu itu saya tidak ada. Dengan empat pimpinan sudah cukup, keterangan sudah cukup dan fakta-fakta pemeriksaan sudah cukup, tinggal dilakukan penahanan. Itu sah," kata Ruki di Kuta, Badung, Bali, Selasa (4/8/2015).

Menurut Ruki, KPK memiliki pertimbangan kuat untuk menahan Gatot dan istri yang terlibat dalam kasus dugaan penyuapan hakim PTUN Medan dan pengacaranya saat menangani kasus dana bantuan sosial.

"Alasan penyidik melakukan penahanan itu ada obyektif dan ada subyektif. Yang paling penting dari penahanan tersangka itu adalah jangan sampai perkara ini menjadi kabur dan alat-alat bukti yang kami perlukan tidak ada lagi," ujarnya.

Ruki menegaskan bahwa KPK bekerja sesuai prosedur dan tidak sembarangan dalam menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hakim Kabulkan Permohonan Justice Collaborator Suharjito, Penyuap Edhy Prabowo

Hakim Kabulkan Permohonan Justice Collaborator Suharjito, Penyuap Edhy Prabowo

Nasional
Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Periksa Kerabat Benny Tjokro sebagai Saksi

Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Periksa Kerabat Benny Tjokro sebagai Saksi

Nasional
UPDATE: Total 4.329 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri, Tambah 19 di Qatar

UPDATE: Total 4.329 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri, Tambah 19 di Qatar

Nasional
Suharjito, Penyuap Eks Menteri KKP Edhy Prabowo, Divonis 2 Tahun Penjara

Suharjito, Penyuap Eks Menteri KKP Edhy Prabowo, Divonis 2 Tahun Penjara

Nasional
Penny Lukito, Kepala BPOM Pilihan Jokowi yang Ditemani Keberanian dan Modal Pendidikan

Penny Lukito, Kepala BPOM Pilihan Jokowi yang Ditemani Keberanian dan Modal Pendidikan

Nasional
Pemerasan oleh Oknum Penyidik Dinilai Bikin KPK Kini Berada di Ambang Batas Kepercayaan Publik

Pemerasan oleh Oknum Penyidik Dinilai Bikin KPK Kini Berada di Ambang Batas Kepercayaan Publik

Nasional
Kedalaman Maksimal KRI Nanggala-402 500 Meter, Kadispen AL: Kalau Lebih dari Itu Cukup Fatal

Kedalaman Maksimal KRI Nanggala-402 500 Meter, Kadispen AL: Kalau Lebih dari Itu Cukup Fatal

Nasional
Sejumlah Fakta di Balik Persidangan Eks Mensos Juliari Batubara

Sejumlah Fakta di Balik Persidangan Eks Mensos Juliari Batubara

Nasional
Pencarian KRI Nanggala-402 Terus Dilakukan, TNI AL: Kami Mohon Doa agar Bisa Temukan

Pencarian KRI Nanggala-402 Terus Dilakukan, TNI AL: Kami Mohon Doa agar Bisa Temukan

Nasional
TNI AL Pastikan Stok Oksigen Aman bagi 53 Personel Kapal Selam KRI Nanggala-402

TNI AL Pastikan Stok Oksigen Aman bagi 53 Personel Kapal Selam KRI Nanggala-402

Nasional
Mengenal Kapal Selam KRI Nanggala-402: Pabrikan Jerman 1979, Dijuluki Monster Bawah Laut

Mengenal Kapal Selam KRI Nanggala-402: Pabrikan Jerman 1979, Dijuluki Monster Bawah Laut

Nasional
Menhan-BPJS Kesehatan Sepakat Perpanjang Program Jaminan Kesehatan

Menhan-BPJS Kesehatan Sepakat Perpanjang Program Jaminan Kesehatan

Nasional
Perayaan Hari Kartini di PDI-P, Saat Kiky Saputri Ajak Perempuan Tak Takut Bermimpi

Perayaan Hari Kartini di PDI-P, Saat Kiky Saputri Ajak Perempuan Tak Takut Bermimpi

Nasional
Penambahan 5.720 Kasus Covid-19, Varian Baru B.1.617 Belum Terdeteksi di Indonesia

Penambahan 5.720 Kasus Covid-19, Varian Baru B.1.617 Belum Terdeteksi di Indonesia

Nasional
Polisi Penyidik KPK Peras Wali Kota Tanjungbalai, Minta Rp 1,5 Miliar hingga Penilaian Citra yang Memburuk

Polisi Penyidik KPK Peras Wali Kota Tanjungbalai, Minta Rp 1,5 Miliar hingga Penilaian Citra yang Memburuk

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X