Kompas.com - 12/07/2015, 17:15 WIB
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Menteri Sekretaris Negara Pratikno (tengah) dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto (kiri) sebelum dimulainya rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (7/7). Rapat tersebut membahas percepatan realisasi program bantuan untuk rakyat terkait bantuan sosial dan permodalan. KOMPAS/WISNU WIDIANTOROPresiden Joko Widodo berbincang dengan Menteri Sekretaris Negara Pratikno (tengah) dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto (kiri) sebelum dimulainya rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (7/7). Rapat tersebut membahas percepatan realisasi program bantuan untuk rakyat terkait bantuan sosial dan permodalan.
EditorSandro Gatra

Oleh: ANDY RIZA HIDAYAT

KOMPAS - Presiden Joko Widodo tidak berbeda dengan warga negara lain. Dia membutuhkan teman bicara. Saat menghadapi persoalan serius kenegaraan, siapa yang diajak berbincang oleh Presiden? Begitu pun ketika situasi sedang santai, siapa sebenarnya teman ngobrol Presiden?

Selain pejabat formal, seperti menteri, yang karena tugasnya harus menjalin komunikasi dengan Presiden, Jokowi juga menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah kalangan. Komunikasi itu dibangun untuk mencari pandangan lain terhadap suatu persoalan.

Orang pertama yang layak disebut sebagai sosok yang selama ini menjalin komunikasi intensif dengan Jokowi adalah Anggit Noegroho (50) yang kini menjabat sebagai sekretaris pribadi (sespri) Presiden.

Mantan jurnalis ini sudah menjadi teman Presiden sejak 2004 ketika Jokowi masih menjadi pengusaha mebel di Solo, Jawa Tengah. Awal pertemuan dengan Jokowi diawali dengan dering telepon Anggit yang saat itu membuka jasa sebagai konsultan komunikasi.

Pertemanan mereka kemudian berlanjut, seiring dengan karier politik Jokowi yang terus menanjak, mulai dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga kini menduduki kursi Presiden.

Kedekatan keduanya bisa bertahan lama, menurut Anggit, karena Jokowi tidak mudah percaya dengan orang lain. Anggit sadar, posisinya saat ini menjadi simpul masuk lobi dari banyak kepentingan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika Presiden dihadapkan pada persoalan atau beberapa pilihan, sebagian pihak berkepentingan melobi Anggit agar Presiden mengambil langkah menurut versi mereka. Mereka yang mendekati Anggit bisa datang dari partai politik, organisasi kemasyarakatan, dan utusan negara sahabat.

"Saya tidak mau jadi pintu lobi. Saya menjaga jarak yang sama dengan mereka semua," kata Anggit.

Di Kompleks Istana Kepresidenan, Anggit memiliki ruang yang berada di gedung perkantoran sisi timur Istana Negara. Rencana kunjungan Presiden ke sejumlah daerah ada di ruangan ini. Laporan awal tim pendahulu juga ada di ruang ini. Data pembanding di luar lembaga formal juga mengalir dari ruang tim sespri tersebut.

"Bapak (Jokowi) perlu data pembanding. Kami selalu mencari sendiri dengan tim kecil. Dengan demikian, Bapak memiliki bahan saat rapat kabinet," kata Anggit.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.