Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/06/2015, 15:18 WIB
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS
- Hari Senin (8/6/2015), sejumlah kalangan memperingati haul dua tahun wafatnya mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas.

Pada Senin malam, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan jajaran DPP PDI-P menyelenggarakan serangkaian acara di rumah Taufiq-Megawati di Jalan Teuku Umar, kawasan Menteng, Jakarta. Dimulai dari shalat Maghrib berjemaah, pembacaan Surat Yasin bersama yang dipimpin tokoh Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, tausiah oleh tokoh Muhammadiyah Malik Fajar, acara itu kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta ditutup oleh sambutan Presiden Joko Widodo.

Seknas Jokowi yang dipimpin Muhammad Yamin, tokoh yang dekat dengan Taufiq, Senin lalu juga mengadakan dua acara. Pertama, pada pagi harinya, salah satu kelompok relawan yang mendukung kampanye Jokowi-Kalla pada Pemilihan Presiden 2014 ini berziarah ke makam Taufiq di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Siang harinya, mereka menggelar diskusi mengenai kualitas ketokohan Taufiq.

Kiranya perlu dicatat dua kerja terpenting yang dilakukan Taufiq. Pertama, menyusun sekaligus mengampanyekan apa yang dinamakan dengan "empat pilar kebangsaan" (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD 1945). Kerja Taufiq ini terbilang berhasil, terlebih saat bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai bentuk ancaman terhadap keempat pilar tersebut, di antaranya radikalisme.

Kedua, prakarsa Taufiq ikut membidani terbentuknya Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Melalui forum ini, Taufiq mempertemukan para keluarga yang pernah merasakan penderitaan akibat konflik politik nasional. Salah satunya adalah merangkul dan merekonsiliasi dua pihak keluarga yang terlibat peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Oleh para sahabat, Taufiq dipandang sebagai tokoh nasional yang pandai bergaul dengan berbagai kalangan dan tingkatan masyarakat. Ia sosok "ringan tangan" membantu siapa saja tanpa berharap pamrih, terkadang malah terkesan mudah diperdaya mereka yang kurang bertanggung jawab.

Mungkin karena wataknya yang easy going membuat Taufiq dipandang sebagai tokoh yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan politik. Hal ini terutama terlihat saat dia menjabat Ketua MPR. Dalam hal ini, sampai saat ini masih sulit mencari tokoh pengganti yang tingkatannya sama dengan Taufiq.

Setelah Taufiq meninggalkan dunia yang fana ini, muncul pertanyaan: siapa gerangan yang akan mampu berperan menjadi kawan seperjuangan, sahabat, teman diskusi, dan sekaligus juga "the devil's advocate" bagi Megawati? Pertanyaan ini penting karena PDI-P sedang mengalami regenerasi yang harus berjalan mulus pada saat Presiden Jokowi, kader "Moncong Putih", sedang memimpin negeri ini.

Jawaban atas pertanyaan itu: tidak ada yang sekaliber Taufiq. Namun, sejauh ini Megawati ternyata mampu mengelola partai sehingga merebut suara terbanyak pada Pemilu Legislatif 2014 dan memenangi Pemilu Presiden 2014. Tentu setelah kemenangan itu sempat terjadi riak di sana-sini, yang secara perlahan bisa dikelola dengan baik.

Wajah baru

Acara haul di Jalan Teuku Umar lagi-lagi membuktikan, Megawati masih menjadi tokoh yang powerful, yang disegani kawan dan lawan. Mantan Wakil Presiden Boediono pun menyempatkan hadir dan dengan tekun mengikuti acara berdampingan dengan Jusuf Kalla. Wapres sempat bergurau tentang ketokohan Taufiq sebagai pemersatu, yang disimbolkan oleh kehadiran Hasyim Muzadi dan Malik Fajar.

Hadir pula hampir semua ketua umum partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat: Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, dan Ketua Umum PKPI Sutiyoso. Selain Ketua MPR, ikut hadir juga Ketua DPR Setya Novanto dan Ketua DPD Irman Gusman. Anggota DPR dari Partai Golkar yang juga putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hediati, tampak akrab duduk bersebelahan dengan putri satu-satunya pasangan Taufiq-Megawati, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Tamu lainnya antara lain sejumlah menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly.

Selain wajah-wajah yang selama ini "langganan" ke Jalan Teuku Umar, tampak juga wajah-wajah baru seperti Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, serta Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Dan, tentu saja perombakan kabinet topik paling menarik yang diobrolkan para hadirin setelah usainya acara sekitar pukul 20.30. Apalagi kehadiran (juga ketidakhadiran) sejumlah menteri menimbulkan aneka tafsir. Apa pun yang akan terjadi, wajah dan gestur Jokowi yang berkemeja batik coklat malam itu tampak segar dan santai. Nah, Anda pembaca silakan tebak sendiri.

Sebuah fakta tak terbantahkan, suka ataupun tidak, rumah Taufiq-Megawati di Jalan Teuku Umar mungkin menjadi "tempat tujuan politik" yang paling sering dikunjungi tokoh-tokoh nasional beberapa tahun belakangan ini. Sudah terlalu banyak suka dan duka politik yang terjadi di rumah itu. (Budiarto Shambazy)

* Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juni 2015, di halaman 5 dengan judul "Suka-Duka Politik di Jalan Teuku Umar".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua LPSK Optimistis Amicus Curiae Akan Ilhami Hakim Jatuhkan Vonis Ringan untuk Bharada E

Ketua LPSK Optimistis Amicus Curiae Akan Ilhami Hakim Jatuhkan Vonis Ringan untuk Bharada E

Nasional
Muncul Usul Gubernur Dipilih DPRD dan Presiden, Wapres: Biar Saja Berkembang

Muncul Usul Gubernur Dipilih DPRD dan Presiden, Wapres: Biar Saja Berkembang

Nasional
Demokrat: Banyak Tokoh dan Pemimpin yang Cemas jika Anies Jadi Presiden

Demokrat: Banyak Tokoh dan Pemimpin yang Cemas jika Anies Jadi Presiden

Nasional
Komisi I Minta TNI Bebaskan Pilot Susi Air yang Dibawa KKB

Komisi I Minta TNI Bebaskan Pilot Susi Air yang Dibawa KKB

Nasional
Wapres Ma'ruf Tinjau Smelter Freeport di Gresik, Disebut sebagai Terbesar di Dunia

Wapres Ma'ruf Tinjau Smelter Freeport di Gresik, Disebut sebagai Terbesar di Dunia

Nasional
Pengacara Sebut KPK Periksa Tukang Cukur Langganan Lukas Enembe, Ditanya Tempat Simpan Uang

Pengacara Sebut KPK Periksa Tukang Cukur Langganan Lukas Enembe, Ditanya Tempat Simpan Uang

Nasional
PP Muhammadiyah dan 7 Organisasi Tolak RUU Kesehatan, Minta Pemerintah-DPR Tinjau Ulang

PP Muhammadiyah dan 7 Organisasi Tolak RUU Kesehatan, Minta Pemerintah-DPR Tinjau Ulang

Nasional
LPSK Ungkap Bharada E Terkejut Dengar Tuntutan Jaksa, tapi Juga Siap Hadapi Vonis

LPSK Ungkap Bharada E Terkejut Dengar Tuntutan Jaksa, tapi Juga Siap Hadapi Vonis

Nasional
Indonesia Tegaskan Lanjutkan Program Jet Tempur KF-X/IF-X untuk Kuasai Teknologi Tinggi

Indonesia Tegaskan Lanjutkan Program Jet Tempur KF-X/IF-X untuk Kuasai Teknologi Tinggi

Nasional
Perludem Sebut Dapil Tak Ditata Ulang Berpotensi Lahirkan Sengketa Peserta Pemilu 2024

Perludem Sebut Dapil Tak Ditata Ulang Berpotensi Lahirkan Sengketa Peserta Pemilu 2024

Nasional
Sejumlah LSM Kirim 'Amicus Curiae' ke Pengadilan, LPSK Merasa Lebih Pede Perjuangkan Vonis Ringan Eliezer

Sejumlah LSM Kirim "Amicus Curiae" ke Pengadilan, LPSK Merasa Lebih Pede Perjuangkan Vonis Ringan Eliezer

Nasional
Jokowi: Pemerintah Tak Akan Campur Tangan dalam Penegakan Hukum

Jokowi: Pemerintah Tak Akan Campur Tangan dalam Penegakan Hukum

Nasional
Bareskrim Ungkap Ada Pihak yang Tertutup Soal Kematian Anak Kasus Gagal Ginjal di JakartaM

Bareskrim Ungkap Ada Pihak yang Tertutup Soal Kematian Anak Kasus Gagal Ginjal di JakartaM

Nasional
PDSI Minta Pemerintah Serius Dalami Kasus Gagal Ginjal Baru

PDSI Minta Pemerintah Serius Dalami Kasus Gagal Ginjal Baru

Nasional
Sandi Angkat Bicara Soal Anies Berutang Rp 50 Miliar

Sandi Angkat Bicara Soal Anies Berutang Rp 50 Miliar

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.