Polisi Hanya Jadikan Kurir Sindikat Pembobol Uang Nasabah sebagai Saksi

Kompas.com - 16/04/2015, 17:28 WIB
Ilustrasi MashableIlustrasi
|
EditorFidel Ali Permana


JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigjen Victor Edi Simanjuntak memastikan, WNI yang dijadikan kurir oleh sindikat pembobol uang nasabah tidak akan dikenakan pasal pidana.

"Mereka tidak dipidana, mereka kami jadikan saksi saja. Mereka ini justru menjadi korban," ujar Victor kepada Kompas.com pada Kamis (16/4/2015).

Victor mengatakan, dari sekitar 56 WNI yang dijadikan kurir oleh pelaku, baru enam orang yang dimintai keterangan oleh penyidik. Keterangan dari enam orang itu menunjukan bahwa sebenarnya mereka menjadi korban penipuan pelaku.

"Pelaku merekrut kurir secara acak. Ketemu di mana, lalu ditawari kerjasama bisnis dengan cara meminta si kurir membuka rekening di Indonesia, itu saja," ujar Victor.

Pelaku yang merupakan warga negara asing berdalih tengah berbisnis di Indonesia, tetapi tidak memiliki rekening di Indonesia. Oleh sebab itu, pelaku meminta si kurir membuka rekening atas nama sendiri di bank tertentu. Rekening itu dijadikan penampungan hasil bisnis.

"Dari berapapun uang yang masuk ke rekening si kurir, si kurir mendapatkan 10 persen. Sisanya diminta dikirim ke rekening di Ukraina menggunakan Western Union dan Moneygram. Jadi WNI itu tidak tau uang yang masuk itu hasil apa," ujar Victor.

Belum tangkap pelaku

Victor mengatakan, akan memeriksa kurir-kurir lainnya. Sejauh ini, penyidik belum menangkap seorangpun pelaku. Pemeriksaan kurir diharapkan mampu mengarahkan polisi ke pelaku yang disebut-sebut berada di luar negeri tersebut.

Sebelumnya, Subdirektorat Cyber Crime Bareskrim Polri tengah mengusut kasus pencurian uang nasabah yang tengah marak terjadi di Jakarta. Berdasarkan penyelidikan sementara, pelaku menggunakan sebuah virus dengan nama 'Maleware' demi keberhasilan aksinya.

Virus itu disebarkan ke ponsel nasbah melalui iklan-iklan software internet banking palsu yang kerap muncul di sejumlah laman internet. Ketika nasabah mengunduh software palsu itu, otomatis maleware masuk ke ponsel sang nasabah. Virus itu pun memanipulasi tampilan laman internet banking, seolah-olah laman tersebut benar-benar berasal dari bank nasabah.

"Padahal tidak. Begitu virus itu masuk, pelaku yang mengendalikan. Tampilan di layar dibuat persis sama seperti program bank. Jadi, seolah-olah, si nasabah tengah berinteraksi dengan program bank, padahal ke pelaku," ujar Victor.

Begitu pelaku sudah mengendalikan program internet banking nasabah, dengan mudah dia mengetahui kode rahasia rekening nasabah. Namun, si pelaku tidak menguras rekening nasabah.

Dia hanya membelokan arah uang jika nasabah yang telah melakukan transaksi keuangan. Sejauh ini, sudah ada sekitar 300 nasabah yang menjadi korban. Adapun, total kerugian mencapai Rp 130 milyar. Dari tiga bank, ada bank yang bersedia mengganti kerugian nasabah, namun ada juga yang tidak. Penyidik bekerjasama dengan interpol untuk memburu pelaku.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PMI: Indonesia Sempat Kekurangan Pasokan Darah 70 Persen Saat Awal Pandemi

PMI: Indonesia Sempat Kekurangan Pasokan Darah 70 Persen Saat Awal Pandemi

Nasional
UPDATE 27 November: 5.828 Kasus Baru Covid-19, Indonesia Kembali Catatkan Rekor

UPDATE 27 November: 5.828 Kasus Baru Covid-19, Indonesia Kembali Catatkan Rekor

Nasional
UPDATE: Rekor 5.828 Kasus Baru, Total Ada 522.581 Kasus Covid-19 RI

UPDATE: Rekor 5.828 Kasus Baru, Total Ada 522.581 Kasus Covid-19 RI

Nasional
Indonesia Ajak Menteri dan Pejabat ASEAN Kerja Sama Atasi Pandemi

Indonesia Ajak Menteri dan Pejabat ASEAN Kerja Sama Atasi Pandemi

Nasional
Pemerintah Upayakan Ketersediaan Bus Indonesia di Arab Saudi untuk Layani Jemaah Haji dan Umrah

Pemerintah Upayakan Ketersediaan Bus Indonesia di Arab Saudi untuk Layani Jemaah Haji dan Umrah

Nasional
Angka Kematian Covid-19 di Jateng Beda hingga 1.000 Orang, Ini Penjelasan Satgas

Angka Kematian Covid-19 di Jateng Beda hingga 1.000 Orang, Ini Penjelasan Satgas

Nasional
Rapat Pengambilan Keputusan Prolegnas Prioritas 2021 Kembali Ditunda

Rapat Pengambilan Keputusan Prolegnas Prioritas 2021 Kembali Ditunda

Nasional
Komnas Perempuan Desak DPR Masukan RUU PKS ke Prolegnas 2021

Komnas Perempuan Desak DPR Masukan RUU PKS ke Prolegnas 2021

Nasional
Mencuat Kasus Dugaan Suap Ekspor Benih Lobster, KKP Dinilai Lupakan Program Prioritas Lain

Mencuat Kasus Dugaan Suap Ekspor Benih Lobster, KKP Dinilai Lupakan Program Prioritas Lain

Nasional
14 Mantan Anggota DPRD Sumut Segera Disidang

14 Mantan Anggota DPRD Sumut Segera Disidang

Nasional
Jokowi: Mulai Tahun 2021 Akan Dibangun 7 Lokasi Pembibitan

Jokowi: Mulai Tahun 2021 Akan Dibangun 7 Lokasi Pembibitan

Nasional
Wapres Minta MUI dan Tokoh Agama Bangun Kesadaran Pentingnya Vaksin Covid-19

Wapres Minta MUI dan Tokoh Agama Bangun Kesadaran Pentingnya Vaksin Covid-19

Nasional
Orang Miskin Dilarang Sakit Tak Lagi Relevan Berkat JKN-KIS

Orang Miskin Dilarang Sakit Tak Lagi Relevan Berkat JKN-KIS

BrandzView
Kekerasan terhadap Perempuan Pembela HAM Masih Kerap Terjadi

Kekerasan terhadap Perempuan Pembela HAM Masih Kerap Terjadi

Nasional
Wali Kota Cimahi Ditangkap KPK, Diduga Korupsi Terkait Pembangunan Rumah Sakit

Wali Kota Cimahi Ditangkap KPK, Diduga Korupsi Terkait Pembangunan Rumah Sakit

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X