Mentan Sebut Konsumsi Beras Turun karena Masyarakat Makan Mie Instan

Kompas.com - 20/03/2015, 16:47 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman, diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). TRIBUN NEWS / DANY PERMANA TRIBUN / DANY PERMANAMenteri Pertanian Amran Sulaiman, diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). TRIBUN NEWS / DANY PERMANA
Penulis Icha Rastika
|
EditorFidel Ali Permana


JAKARTA, KOMPAS.com
- Menteri Pertanian Amran Sulaiman menilai penurunan angka konsumsi beras dikarenakan adanya pergeseran pola konsumsi. Masyarakat saat ini tidak hanya tergantung pada beras namun juga bahan makanan pokok lainnya seperti mie instan.

"Karena sekarang konsumsinya bukan cuma beras saja, tetapi ada Indomie," kata Amran di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Jumat (20/3/2015).

Menurut Badan Pusat Statistik, angka konsumsi beras saat ini kurang lebih 124 Kilogram per kapita per tahun. Angka ini berkurang dibandingkan dengan November tahun lalu yang nilainya 114 Kilogram per kapita per tahun.

"Ya kan sekarang juga ada sagu, cemilan itu juga berpengaruh," sambung Amran.


Hari ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama dengan para menteri terkait melakukan verifikasi ulang data konsumsi beras. Kalla membandingkan data konsumsi beras yang dirilis BPS, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, konsumsi rumah tangga dan rumah makan, serta survei sosial ekonomi nasional. Dari hasil verifikasi tersebut disimpulkan bahwa angka konsumsi beras per kapita 114 Kilogram per tahun, atau 28 juta ton per tahun untuk skala nasional.

Angka ini sesuai dengan data yang dirilis BPS. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago menyampaikan bahwa pemerintah optimistis segera mencapai target swasembada beras dalam waktu dengan asumsi kebutuhan beras nasional 28 juta ton per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menyampaikan, pemerintah akan menghitung ulang target produksi beras nasional dengan mengacu pada hasil verifikasi kebutuhan beras nasional tersebut.

"Kalau kemudian kita ekstra polasi, berarti produksi kita yang harus kita revisi kembali, berapa produksi yang sebenarnya. Itu dikaitkan dengan luas lahan dan hilangnya lahan akibat dari banyak penggunaan untuk kepentingan yang lain," tutur Sofyan.

"Oleh sebab itu, kalau konsumsi sudah jelas maka kita perlu kalkulasi kembali tentang tingkat produksi," sambung dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X