Polri: Tahun Depan Kasus Novel Kedaluwarsa, Makanya Diproses

Kompas.com - 27/02/2015, 09:41 WIB
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan (berbaju putih), di dampingi juru bicara KPK, Johan Budi SP, berdiskusi dengan media yang diselenggarakan KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (26/3/2013). Diskusi yang disampaikan oleh Novel  mengangkat tema"Peningkatan Kapasitas Media dalam Pemberantasan Korupsi" dan juga memaparkan proses penyelidikan hingga penuntutan yang dilakukan oleh KPK.
KOMPAS/ALIF ICHWANPenyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan (berbaju putih), di dampingi juru bicara KPK, Johan Budi SP, berdiskusi dengan media yang diselenggarakan KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (26/3/2013). Diskusi yang disampaikan oleh Novel mengangkat tema"Peningkatan Kapasitas Media dalam Pemberantasan Korupsi" dan juga memaparkan proses penyelidikan hingga penuntutan yang dilakukan oleh KPK.
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian tetap melanjutkan penyidikan kasus Novel Baswedan, salah satu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Polisi bersikeras mengusut kasus itu saat ini untuk menghindari kadaluarsanya kasus tuduhan penganiayaan yang menjerat Novel.

"Tahun depan, 2016, kasus tersebut sudah kedaluwarsa. Jadi kalau dibiarkan tak lagi bisa diproses. Makanya kami buka itu kembali dan memprosesnya, demi penegakan hukum," ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny Frangki Sompie di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Kamis (26/2/2015) malam.

"Apalagi pelapor yang korban penganiayaan itu masih menuntut. Itu berarti hak asasinya dia. Polisi hanya memberikan pelayanan agar hak asasi korban terlayani," tambah Ronny.

Ronny menegaskan, dibukanya kembali kasus Novel tahun 2004, bukan bentuk kriminalisasi terhadap KPK. Ronny juga menepis isu yang berkembang bahwa pengusutan kasus Novel untuk menghalang-halangi penanganan kasus tindak pidana korupsi di KPK. (baca: Ada Kegiatan Lain, Novel Baswedan Tak Penuhi Panggilan Bareskrim)

Menurut dia, hal itu semata demi penegakan hukum. Berkas perkara Novel telah lengkap. Bahkan, penyidik tak perlu lagi memeriksa Novel. Namun, Ronny mengaku lupa saat ditanyakan sejarah kasus Novel.

Korban permainan

Pakar hukum pidana Universitas Andalas, Ismansyah melihat ada kejanggalan terhadap dibukanya kembali kasus lama Novel Baswedan oleh Polri. Dia melihat Novel adalah korban permainan pihak-pihak tertentu saja.

"Kasihan Novel Baswedan, dia hanya menjadi korban permainan hukum dari kelompok kepentingan di dalam institusi hukum itu sendiri," ujar dia saat dihubungi Kompas.com, Kamis.

Hal itu, lanjut Ismansyah, merujuk sejarah kasus yang menjerat Novel 2004 silam. Ketika itu, Novel baru empat hari menjadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bengkulu. Suatu hari, anggotanya menganiaya tersangka pencuri sarang burung walet.

Saat itu Novel tidak ada di tempat kejadian perkara. Namun, belakangan, dia disalahkan lantaran dianggap bertanggungjawab atas perilaku anak buahnya. Namun, beredar juga kabar bahwa persoalan itu telah selesai karena korban atau keluarganya tidak menuntut. (baca: Koalisi Masyarakat Sipil Minta Bareskrim Hentikan Perkara BW, AS, dan Novel)

 

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X