Kompas.com - 30/01/2015, 22:07 WIB
EditorLaksono Hari Wiwoho

Pengangkatan Prasetyo memperburuk reputasi Jokowi. Aktivis Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, dalam kicauannya di Twitter menilai, pemilihan Prasetyo merupakan titipan partai sehingga kejaksaan rawan diintervensi.

Itulah awal mengkristalnya kekesalan netizen terhadap Jokowi. Tinggal menunggu momentum buruk, Jokowi bisa kehilangan kepercayaan pada bulan berikutnya. Tepatnya bulan ketiga 17 Desember 2014-17 Januari 2015, popularitas Jokowi merosot tajam dengan jumlah percakapan hanya 773.046 dari berbagai kanal.

Kebijakan Jokowi yang memilih Budi Gunawan sebagai calon kepala Polri dianggap netizen sebagai pilihan sadar hingga semakin mengikis reputasi dan sentimen positif atas dirinya di media sosial.

Netizen marah kepada Jokowi yang dilampiaskan dengan gerakan #SaveKPK dan juga petisi daring di www.change.org/bebaskanbw.

"Dulu Jokowi adalah kita. Sekarang jika Jokowi tetap melantik tersangka korupsi sebagai Kapolri, maka Jokowi adalah mereka," kata Denny JA dengan akun @dennyJA_World.

"Ini komitmen kita untuk menarik dukungan setelah pilpres dan membentuk parlemen jalanan," kata Marzuki Mohamad, pemilik akun @killthedj yang dikutip akun @jejakpelamun. Penggiat media sosial Ulin Yusron, Denny JA, dan Marzuki "Kill the DJ" adalah beberapa contoh pendukung Jokowi yang kini mengkritik keras Jokowi.

Abdee Negara, sukarelawan konser "Salam 2 Jari", bersama rekan-rekannya memprotes Jokowi karena pengangkatan Budi Gunawan. Abdee juga mengirimkan tagar #SaveKPK dari akun @AbdeeNegara. Namun, karena dia masih sakit, gerakan memprotes situasi terakhir belum tampak signifikan dari seorang Abdee "Slank".

Rekan Abdee, Melanie Subono, dengan akun @melaniesubono, lebih dulu meluapkan kemarahan. "Menanti seorang presiden bertindak sebagai presiden. Penangkapan (Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Polri) ini adalah upaya mendelegitimasi kewenangan KPK dalam mengusut kasus Budi Gunawan," kata Melanie terkait penangkapan dan penetapan Bambang Widjojanto sebagai tersangka pada Jumat (23/1/2015) lalu.

Situasi politik saat ini mungkin jauh lebih rumit bagi Jokowi. Namun, bagi para netizen, jauh lebih mudah mengidentifikasi siapa lawan siapa kawan.

Saat pemilu presiden lalu "Jokowi adalah kita" menjadi slogan amat terkenal. Kini, agaknya Jokowi perlu lebih tegas memilih antara "mereka" dan "kita".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.