Dubes Jerman: Penyerangan "Charlie Hebdo" Musuh Besar Demokrasi

Kompas.com - 12/01/2015, 14:47 WIB
Penulis Icha Rastika
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar Jerman untuk Indonesia Georg Witschel mengecam penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Perancis. Menurut Witschel, penyerangan yang menewaskan 12 orang itu bukan hanya aksi pembunuhan, tetapi juga bentuk penentangan terhadap demokrasi dan kebebasan media.

"Tentu merupakan serangan teroris yang sangat buruk, ini bukan cuma terkait dengan pembunhan jurnalis tapi sudah merembet ke hal-hal lainnya. Serangan ini sama saja menentang demokrasi dan menentang kebebasan media, ini menjadi musuh besar demokrasi," kata Witschel di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Senin (12/1/2015) seusai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Ia menyebut aksi terror ini sebagai aksi menentang ajaran Islam yang pada dasarnya anti kekerasan. "Jika dalam Islam mementang kekerasan tapi malah dilakukan, sama saja dengan menentang Islam itu sendiri," sambung Witschel.

Sebelumnya, Duta Besar Mesir untuk Indonesia Bahaa Dessouki seusai menemui Wapres Jusuf Kalla, menyebutkan bahwa penyerang kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Perancis, bukan umat Muslim. Ia menepis anggapan sebagian pihak yang mengaitkan serangan itu dengan penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo.

Menurut Dessouki, Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Jika Nabi Muhammad masih hidup, kata Dessouki, ia pasti akan merangkul pembuat karikaturnya untuk kemudian diajak bicara. Dessouki menduga aksi teror ini dilakukan kelompok tertentu yang bertujuan menyudutkan Islam. Sebagai negara muslim, Mesir mengecam aksi serangan tersebut.

Serangan di kantor Charlie Hebdo, Rabu, menewaskan 12 orang, termasuk dua orang polisi. Saat polisi dan tentara antiteror mengejar dua pelaku, penembakan lain terjadi keesokan harinya di pinggiran Paris dan menewaskan seorang perempuan polisi.

Teror masih berlanjut dengan dua penyanderaan di dua tempat. Salah satunya di sebuah toko swalayan di Paris. Upaya perburuan sementara berakhir Jumat dengan tewasnya dua bersaudara Cherif dan Said Kouachi serta Amedy Coulibaly yang melakukan penyanderaan di toko swalayan. Namun, empat sandera ditemukan tewas.

Polisi kini sedang mencari Hayat Boumeddiene (26), istri Coulibaly, yang diduga sudah berada di luar Perancis sejak 2 Januari 2015. Boumeddiene diperkirakan berada di Turki atau Suriah. Dia diduga cukup mengenal Cherif dan Said karena didapati tidak kurang dari 500 percakapan pernah dilakukan antara Hayat dan istri kedua tersangka penyerangan tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mayoritas Masyarakat Ingin Calon Kepala Daerah Pelanggar Protokol Kesehatan Didiskualifikasi

Mayoritas Masyarakat Ingin Calon Kepala Daerah Pelanggar Protokol Kesehatan Didiskualifikasi

Nasional
Partai Demokrat Minta Polisi Jangan Bertindak Berlebihan Terhadap Demonstran

Partai Demokrat Minta Polisi Jangan Bertindak Berlebihan Terhadap Demonstran

Nasional
Survei IPI: Mayoritas Setuju Aparat Semena-mena Terhadap yang Berseberangan Secara Politik

Survei IPI: Mayoritas Setuju Aparat Semena-mena Terhadap yang Berseberangan Secara Politik

Nasional
FSGI Ungkap Alasan Beri Nilai 55 untuk Program PJJ Nadiem Makarim

FSGI Ungkap Alasan Beri Nilai 55 untuk Program PJJ Nadiem Makarim

Nasional
Polisi Cari Pengendali Penyelundupan Senpi ke KKB di Papua

Polisi Cari Pengendali Penyelundupan Senpi ke KKB di Papua

Nasional
Survei IPI: 73,8 Persen Setuju Masyarakat Makin Sulit Berunjuk Rasa

Survei IPI: 73,8 Persen Setuju Masyarakat Makin Sulit Berunjuk Rasa

Nasional
Disorot, Bawaslu Daerah Loloskan Mantan Koruptor meski Belum Penuhi Masa Tunggu Pidana

Disorot, Bawaslu Daerah Loloskan Mantan Koruptor meski Belum Penuhi Masa Tunggu Pidana

Nasional
FSGI: Kami Beri Nilai 100 untuk Program Penghapusan UN

FSGI: Kami Beri Nilai 100 untuk Program Penghapusan UN

Nasional
UPDATE 25 Oktober: 2 Provinsi Tak Ada Kasus Baru, DKI Tertinggi

UPDATE 25 Oktober: 2 Provinsi Tak Ada Kasus Baru, DKI Tertinggi

Nasional
Hari Dokter Nasional, Ayo Bantu Garda Terdepan Lewat Gerakan 3M

Hari Dokter Nasional, Ayo Bantu Garda Terdepan Lewat Gerakan 3M

Nasional
UPDATE 25 Oktober: 168.918 Suspek Covid-19 di Indonesia

UPDATE 25 Oktober: 168.918 Suspek Covid-19 di Indonesia

Nasional
Ini Kekurangan Bantuan Kuota Internet dari Kemendikbud Versi FSGI

Ini Kekurangan Bantuan Kuota Internet dari Kemendikbud Versi FSGI

Nasional
Survei IPI: Mayoritas Anggap Indonesia Kurang Demokratis

Survei IPI: Mayoritas Anggap Indonesia Kurang Demokratis

Nasional
UPDATE 25 Oktober: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Capai 62.649

UPDATE 25 Oktober: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Capai 62.649

Nasional
UPDATE 25 Oktober: Total Spesimen Covid-19 yang Diperiksa Capai 4.327.144

UPDATE 25 Oktober: Total Spesimen Covid-19 yang Diperiksa Capai 4.327.144

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X