Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/12/2014, 12:28 WIB
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com - Kurikulum 2013 (K-13) seperti lahir untuk menuai kontroversi. Perdebatan muncul dari dua sisi, saat diterapkan dan saat dicabut penerapannya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, menginstruksikan semua sekolah untuk meninggalkan K-13 dan kembali menggunakan Kurikulum 2006 (kurikulum tingkat satuan pendidikan/KTSP). Alasannya, penerapan K-13 dianggap tergesa-gesa, tanpa ada persiapan yang matang, dan tanpa pertimbangan yang terukur.

Instruksi Anies itu berlaku untuk semua sekolah, kecuali 6.221 sekolah yang telah menerapkan K-13 lebih dari tiga semester. Di sekolah-sekolah itu, K-13 masih bisa dilanjutkan sambil menunggu hasil evaluasi.

"Tidak ditemukan penjelasan Kurikulum 2006 diubah dengan Kurikulum 2013. Kajiannya mana? Dokumennya mana? Mana buktinya kalau Kurikulum 2006 lemah sehingga perlu diubah?" kata Anies.

Menurut Anies, K-13 diterapkan saat guru belum siap sepenuhnya. Ketidaksiapan guru berasal dari karut-marutnya distribusi buku panduan dan tidak efektifnya pelatihan. Padahal, kata Anies, guru adalah kunci utama menyukseskan penerapan kurikulum tersebut. Ia berpendapat, akan lebih baik memfokuskan pelatihan guru sebelum benar-benar K-13 diterapkan.

"Kurikulum berubah tidak otomatis kualitas pendidikan meningkat. Tapi kalau kualitas guru meningkat, kualitas pendidikannya pasti meningkat, itu kuncinya," ujar Anies.

Kebijakan Anies itu menuai kritik keras dari mantan Mendikbud, Mohammad Nuh. Nuh menilai instruksi Anies untuk kembali pada KTSP adalah langkah mundur karena K-13 secara substansi dinilainya tidak ada masalah. Nuh menjelaskan, bukti K-2013 tidak ada masalah secara substansi adalah dengan tetap diberlakukannya pada 6.221 sekolah. Jika ada masalah, kata dia, maka tentu tidak akan dipakai sama sekali.

"Kalau ada masalah teknis, mestinya dicarikan solusi perbaikannya, bukan balik ke belakang sebab KTSP secara substansi ada kekurangan dan secara teknis juga perlu penyiapan lagi," kata Nuh.

Nuh mengungkapkan, Kemdikbud sudah menguji kompetensi 1,3 juta guru untuk mengevaluasi penguasaan terhadap KTSP pada tahun 2012. Hasilnya, nilai rata-rata adalah 45, padahal KTSP sudah enam tahun berlaku. Nuh menambahkan, KTSP juga memiliki masalah, di antaranya pelajaran sejarah untuk SMK tidak ada, jam pelajaran Bahasa Inggris lebih banyak dua kali lipat daripada Bahasa Indonesia, tidak adanya mata pelajaran yang mendorong analisa data (survei TIMMS/PISA), dan sebagainya.

Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) mendukung langkah pemerintah melakukan perbaikan mendasar pada K-13. Dengan syarat, revisi harus mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak dan dilakukan menyeluruh dengan meliputi aspek asumsi, argumentasi, substansi, korelasi, sinkronisasi serta implementasinya.

Ketua Umum PB PGRI Sulistiyo mengatakan, berdasarkan laporan yang masuk, masalah dalam K-2013 muncul karena kerangka pikir yang sukar dipahami, metode pembelajaran yang direkomendasikan sulit diterapkan, desain pelatihan guru tidak efektif, dan evaluasi yang sangat membebani. Di luar itu, masih ada kesiapan guru dan buku siswa yang kedodoran sehingga ia anggap melahirkan 'malapetaka' bagi kebanyakan sekolah.

Berdasarkan rapat pleno PB PGRI, kata Sulistiyo, pemerintah diminta untuk tidak menghentikan K-2013 di tengah tahun ajaran, seperti pada saat ini. PGRI menganggap waktu paling tepat menghentikan penerapan kurikulum itu adalah di semester ganjil, atau saat masuk tahun ajaran 2015/2016. Penghentian K-13 di tengah tahun ajaran sangat mengganggu guru dan murid yang menjalaninya. Jika penghentiannya dilakukan di tahun ajaran baru, maka hal itu dianggap lebih bijaksana karena memberi keleluasaan sekolah menuntaskan satu tahun ajaran.

"Dari surat yang masuk ke sekolah, tidak terungkap ada pertimbangan istimewa yang disampaikan menteri. Maka kami usulkan, penghentian Kurikulum 2013 dilakukan di tahun ajaran baru 2015/2016," kata Sulistiyo, Kamis (11/12/2014).

Selanjutnya, PGRI juga meminta Anies mencari formula yang tepat untuk mengatasi dualisme selama masih ada ribuan sekolah yang menggunakan K-13. Sulistiyo yakin revisi K-13 akan berlangsung lama, dan khawatir timbul kesenjangan atau terkesan diskriminatif karena sekolah yang masih menggunakan K-13 didominasi oleh sekolah eks RSBI (sekolah unggulan).

"Kalau untuk uji coba jangan hanya di sekolah yang bagus-bagus saja, tapi harus ada sekolah kelas menengah dan kelas bawah, itu baru objektif untuk bahan pertimbangan," ujarnya.

Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Jeffry Riwu Kore, menyarankan Anies mempertimbangkan ulang dicabutnya penerapan K-13. Jeffry menilai, Anies tergesa-gesa mengeluarkan kebijakan itu. Jeffry mengungkapkan, saat menerapkan Kurikulum 2013, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyiapkannya dengan matang. Semua pertimbangan juga diakomodasi, termasuk di dalamnya pertimbangan dari parlemen.

Jeffry melanjutkan, dia tak melihat ada pertimbangan mendalam ketika Anies akan menghentikan penerapan kurikulum tersebut. Ia bahkan menduga Anies sengaja menghentikan penerapan K-13 untuk menimbulkan kesan berhasil melakukan terobosan pada awal masa jabatannya.

"Jangan-jangan karena tidak ada terobosan yang baru dari Pak Anies sehingga kebijakan Kurikulum 2013 dihentikan dan kembalikan ke Kurikulum 2006," ujar Jeffry.

Pendapat berbeda diungkapkan pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Abduhzen. Ia menganggap kebijakan Anies menghentikan K-13 masih memiliki tafsir ganda karena tidak mencakup ribuan sekolah yang telah menerapkan kurikulum itu lebih dari tiga semester. Abduhzen menyarankan, penghentiannya dilakukan secara menyeluruh pada saat masuk tahun ajaran baru. Hal itu ia yakini tak akan membingungkan guru dan murid dan bisa menepis dualisme kurikulum.

"Saya pikir penghentian Kurikulum 2013 sebaiknya menunggu setelah akhir tahun ajaran dan tegas saja bahwa secara menyeluruh sehingga tidak terjadi dualisme," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Survei Litbang “Kompas”: Suara Anies Lemah di Jateng dan Jatim

Survei Litbang “Kompas”: Suara Anies Lemah di Jateng dan Jatim

Nasional
Bacakan Eksepsi, Rafael Alun Trisambodo Minta Dibebaskan dan Dipulihkan Martabatnya

Bacakan Eksepsi, Rafael Alun Trisambodo Minta Dibebaskan dan Dipulihkan Martabatnya

Nasional
Polri Bentuk Satgas Preventif, Cegah Gangguan Keamanan Selama KTT ASEAN

Polri Bentuk Satgas Preventif, Cegah Gangguan Keamanan Selama KTT ASEAN

Nasional
Di Depan PM China, Jokowi Tekankan Realisasi Kerja Sama Konkret ASEAN-China

Di Depan PM China, Jokowi Tekankan Realisasi Kerja Sama Konkret ASEAN-China

Nasional
Buka KTT ASEAN-Korea Selatan, Jokowi Tekankan Kemitraan Transisi Energi dan Transformasi Digital

Buka KTT ASEAN-Korea Selatan, Jokowi Tekankan Kemitraan Transisi Energi dan Transformasi Digital

Nasional
AHY Kumpulkan DPD Demokrat, Cari Masukan Soal Langkah ke Depan

AHY Kumpulkan DPD Demokrat, Cari Masukan Soal Langkah ke Depan

Nasional
Survei Litbang “Kompas”: Pamor Anies di Kalangan NU Jauh di Bawah Ganjar dan Prabowo

Survei Litbang “Kompas”: Pamor Anies di Kalangan NU Jauh di Bawah Ganjar dan Prabowo

Nasional
Lukas Enembe Akan Jalani Sidang Tuntutan 13 September

Lukas Enembe Akan Jalani Sidang Tuntutan 13 September

Nasional
Jokowi Harap Perdagangan Indonesia-Bangladesh Meningkat

Jokowi Harap Perdagangan Indonesia-Bangladesh Meningkat

Nasional
Sajian Gala Dinner KTT ASEAN Angkat Tema 'Nusantara on The Forest'

Sajian Gala Dinner KTT ASEAN Angkat Tema "Nusantara on The Forest"

Nasional
PKB Pastikan Cak Imin Penuhi Panggilan KPK Besok

PKB Pastikan Cak Imin Penuhi Panggilan KPK Besok

Nasional
Suara Anies di Jateng dan Jatim Lemah, Nasdem Minta PKB Mobilisasi Nahdliyin

Suara Anies di Jateng dan Jatim Lemah, Nasdem Minta PKB Mobilisasi Nahdliyin

Nasional
 Bantah Nasdem dan Masyumi, KPK Tegaskan Pemanggilan Cak Imin Tak Terkait Politik

Bantah Nasdem dan Masyumi, KPK Tegaskan Pemanggilan Cak Imin Tak Terkait Politik

Nasional
Jejak Elektabilitas Cak Imin, Ketum PKB yang Akhirnya Dipilih Jadi Cawapres Anies

Jejak Elektabilitas Cak Imin, Ketum PKB yang Akhirnya Dipilih Jadi Cawapres Anies

Nasional
Ingatkan Lukas Enembe Sopan di Persidangan, Hakim: Sikap Saudara Ada Konsekuensinya

Ingatkan Lukas Enembe Sopan di Persidangan, Hakim: Sikap Saudara Ada Konsekuensinya

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com