Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Etnik Tionghoa dan Kiprahnya di TNI

Kompas.com - 07/12/2014, 17:27 WIB
KOMPAS.com - Pemerintahan Orde Baru menghasilkan segregasi masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang terpecah dan saling curiga. Salah satu dampak kebijakan politik Orba yang memecah-belah rakyat adalah hilangnya peran warga Tionghoa dalam dunia militer di dalam Tentara Nasional Indonesia.

Mayor Jenderal Gede Sumertha dari Universitas Pertahanan dalam bedah buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran, Sejak Nusantara Sampai Indonesia terbitan Penerbit Buku Kompas di Gedong Joeang 45, Jakarta, Kamis (4/12), menegaskan, sejatinya dalam tubuh angkatan perang Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak ada diskriminasi, apalagi perbedaan secara rasial, termasuk terhadap etnik Tionghoa.

”Waktu saya Taruna Akabri, pengasuh saya berpangkat kapten bernama Hendra Cahyana, seorang Tionghoa. Beliau dijuluki Acong. Semua anak asuh (Taruna) beliau rata-rata jadi jenderal,” kata Sumertha yang lama berkiprah di misi PBB dan merintis Pusat Misi Pemelihara Perdamaian di Sentul, Bogor.

Dia pun mengaku pernah memiliki bawahan seorang kolonel dari TNI AU yang seorang Tionghoa asal Kalimantan Barat dan kemudian menjadi Atase Pertahanan RI untuk Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada era tahun 2000-an. Selain memiliki loyalitas, dedikasi, dan integritas, menurut Sumertha, bawahannya bahkan terlibat dalam tim intelijen khusus.

Pengamat militer Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jaleswari Pramodhawardani, yang tampil sebagai pembicara menegaskan, buku tersebut tidak bicara melulu soal Tionghoa ataupun membesarkan salah satu kelompok masyarakat.

”Pesan yang terpenting adalah adanya pengabaian, amnesia sejarah, serta masih ada pembedaan dan diskriminasi di masyarakat Indonesia secara luas. Yang menjadi korban adalah keutuhan dan kebangsaan Indonesia yang diperjuangkan bersama,” kata Jaleswari.

Pada acara tersebut hadir seorang perwira Pasukan Khas TNI AU, pemuda Tionghoa asal Jambi bernama Hendra Khoo. Kakeknya juga personel militer Indonesia di masa silam.

Berbagai peran

Buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran yang diterbitkan dengan inisiatif Eddie Lembong, pendiri Yayasan Nation Building (Nabil) lebih dari tiga tahun silam, mengungkap fakta sejarah peran etnik Tionghoa dalam pembentukan kebangsaan Indonesia dalam kurun waktu abad ke-11 Masehi di Bali; semasa Zheng He; serangan Jepara ke Malaka; perang koalisi Mataram-Tionghoa melawan VOC (1740-1743) yang dihilangkan dari buku sejarah nasional semasa Orba; dan Perang Kongsi Tionghoa melawan Hindia-Belanda di Kalimantan Barat.

Buku tersebut juga mengungkap peran pemuda Tionghoa pada abad ke-20 dalam konflik internasional, seperti Perang Saudara Spanyol, Perang Sino-Japan, dan peran laskar-laskar Tionghoa dalam Perang Kemerdekaan RI di berbagai pertempuran, seperti Pertempuran 10 November 1945, pertempuran Palagan Ambarawa melawan Inggris-Belanda, perebutan Irian Barat (Trikora), Operasi Ganyang Malaysia (Dwikora), dan Operasi Seroja Timor Timur.

Asisten Intelijen Kodam Jaya Kolonel (Inf) Sony Widjaja yang mewakili Pangdam Jaya Mayjen Agus Utomo mengakui, diskriminasi, termasuk stereotip, terhadap etnik Tionghoa harus diperangi bersama.

”Ini persoalan diskriminasi yang masih ada di masyarakat dan harus dilawan untuk membangun kebangsaan Indonesia. Negara Indonesia ini diperjuangkan semua komponen bangsa, termasuk etnik Tionghoa. Sudah waktunya pemuda-pemudi Tionghoa kembali mengabdi di sektor kemiliteran,” kata Sony.

Maka, mengembalikan peran etnik Tionghoa dalam kemiliteran adalah salah satu pintu demi mengukuhkan kohesi kebangsaan Indonesia yang setara dan bersatu. (Iwan Santosa)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bertemu Prabowo, Tim Cook Yakin Kerja Sama Indonesia-Apple Makin Sukses ke Depan

Bertemu Prabowo, Tim Cook Yakin Kerja Sama Indonesia-Apple Makin Sukses ke Depan

Nasional
Gerindra Siapkan Kader Internal untuk Maju di Pilkada Sumut

Gerindra Siapkan Kader Internal untuk Maju di Pilkada Sumut

Nasional
MK Sebut 'Amicus Curiae' untuk Sengketa Pilpres Berjumlah 17 Surat, Kemungkinan Bisa Bertambah

MK Sebut "Amicus Curiae" untuk Sengketa Pilpres Berjumlah 17 Surat, Kemungkinan Bisa Bertambah

Nasional
Kuasa Hukum Prabowo-Gibran Prediksi Amicus Curae Megawati Tak Akan Dipertimbangkan MK

Kuasa Hukum Prabowo-Gibran Prediksi Amicus Curae Megawati Tak Akan Dipertimbangkan MK

Nasional
Peras Tahanan Korupsi, Mantan Karutan KPK Minta Maaf

Peras Tahanan Korupsi, Mantan Karutan KPK Minta Maaf

Nasional
Spesifikasi Kapal Patroli yang Dibeli Indonesia dari Italia, Bisa Diubah Jadi Fregat

Spesifikasi Kapal Patroli yang Dibeli Indonesia dari Italia, Bisa Diubah Jadi Fregat

Nasional
KPK Setor Rp 8,2 M ke Negara dari Kasus Eks Wali Kota Ambon

KPK Setor Rp 8,2 M ke Negara dari Kasus Eks Wali Kota Ambon

Nasional
Jokowi: Pelaku TPPU Terus Cari Cara Baru, Kita Tidak Boleh Jadul

Jokowi: Pelaku TPPU Terus Cari Cara Baru, Kita Tidak Boleh Jadul

Nasional
Gerindra: Tidak Ada Namanya Amicus Curiae Masuk Pertimbangan Hakim

Gerindra: Tidak Ada Namanya Amicus Curiae Masuk Pertimbangan Hakim

Nasional
Usai Bertemu Jokowi, CEO Apple Temui Prabowo di Kemenhan

Usai Bertemu Jokowi, CEO Apple Temui Prabowo di Kemenhan

Nasional
CEO Microsoft Kunjungi RI pada 30 April, Pemerintah Harapkan Kepastian Investasi

CEO Microsoft Kunjungi RI pada 30 April, Pemerintah Harapkan Kepastian Investasi

Nasional
Jokowi Akui Sempat Malu, Indonesia Jadi Satu-satunya Negara G20 yang Belum Gabung FATF

Jokowi Akui Sempat Malu, Indonesia Jadi Satu-satunya Negara G20 yang Belum Gabung FATF

Nasional
Gerindra Godok Kader Internal untuk Maju Pilkada DKI, Nama-nama Masih Dirahasiakan

Gerindra Godok Kader Internal untuk Maju Pilkada DKI, Nama-nama Masih Dirahasiakan

Nasional
Projo Siap Dukung Ridwan Kamil, Airin, dan Bobby Nasution di Pilkada

Projo Siap Dukung Ridwan Kamil, Airin, dan Bobby Nasution di Pilkada

Nasional
Firli Bahuri Disebut Minta Rp 50 Miliar ke Syahrul Yasin Limpo

Firli Bahuri Disebut Minta Rp 50 Miliar ke Syahrul Yasin Limpo

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com