Suciwati Setelah Munir Berpulang... - Kompas.com

Suciwati Setelah Munir Berpulang...

Kompas.com - 01/12/2014, 14:53 WIB
Kompas Cetak Ilustrasi


KOMPAS.com - PADA 7 September 2004, pegiat hak asasi manusia, Munir Said Thalib, mengembuskan napas terakhir setelah diracun dalam penerbangan GA-974 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Amsterdam, Belanda. Sejak saat itu pula, Suciwati (46), sang istri, berusaha membesarkan dan menghidupi kedua anak mereka seorang diri.

Menjadi orangtua tunggal bagi Soultan Alif Allende dan Diva Suukyi Larasati tentu menjadi hal yang tidak terbayangkan sebelumnya bagi Suciwati. Di tengah tanggung jawabnya itu,
dia juga terus berjuang mengungkap dalang pembunuh suaminya yang sampai sekarang belum juga terungkap hingga tuntas.

Sistem hukum yang ia nilai masih busuk itu baru berhasil memenjarakan Pollycarpus Budihari Priyanto. Itu pun sang terpidana mendapat bonus remisi lebih dari 50 bulan dari yang semestinya hukuman 14 tahun penjara sebagaimana vonis terakhir peninjauan kembali (PK) ketiga.

Alif, yang lahir 12 Oktober 1998, kini beranjak remaja. Ia menjadi siswa sekolah menengah di sebuah pesantren di Malang, Jawa Timur. Sementara Diva, yang lahir 18 Juli 2004, masih duduk di bangku kelas V SD. Ketidakhadiran figur seorang ayah selama 10 tahun terakhir tidak membuat keduanya lemah. Perhatian dan pendidikan yang diberikan Suciwati membuat mereka tumbuh menjadi pribadi mandiri.

Suciwati, yang sejak 2011 menetap di Batu, Jawa Timur, beberapa hari terakhir dikabarkan tengah menempati rumah sewa yang baru di daerah Soekarno-Hatta, Kota Malang. Langkah tersebut dilakukan untuk mendekatkan diri dengan anak-anak. Maklum, jarak sekolah ke rumahnya di Batu cukup jauh. Adapun rumah Suciwati yang selama ini ditempati di Ngaglik, Batu, menurut rencana hendak dijual.

Sementara itu, rumah di Jalan Bukit Berbunga Nomor 2, juga masih di Batu, yang dibeli bersama Munir setelah mereka menikah pada 1996 telah difungsikan sebagai Museum Omah Munir. Museum yang berdiri 8 Desember 2013 itu menjadi media untuk menghadirkan sosok Munir kepada publik. Lewat museum itu publik diingatkan, di Indonesia pernah hadir sosok bernama Munir dengan segala daya juangnya di bidang HAM dan sampai sekarang kasus pembunuhannya belum terungkap hingga tuntas.

Rumah yang menjadi tempat tinggal Suci saat Diva baru lahir itu kini menjadi media belajar HAM bagi semua orang. Selain menampilkan berbagai display tentang figur dan perjuangan Munir, museum itu juga dilengkapi dengan kafe dan toko suvenir. Hasil penjualan barang dan minuman dipakai untuk biaya operasional museum serta membayar karyawan.

Kompas/Priyombodo Istri mendiang pejuang hak asasi manusia Munir, Suciwati menyampaikan sambutannya dalam acara konser musik unutk kemanusiaan Tribute To Munir di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Kamis (18/9/2008).


Tangguh

”Kami salut dengan Suci. Dia orang yang tangguh menghadapi permasalahan. Dia orang gigih dan kuat, tidak pernah mengeluh saat menghadapi persoalan,” tutur Mufid (55), salah seorang kakak kandung Munir.

Menurut Mufid, selama ini Suciwati menghidupi sendiri anak-anaknya. Keluarga yang lain hanya mendukung sambil sesekali memberikan dukungan, salah satunya mengajarkan bagaimana cara berdagang. Dua tahun lalu Suciwati pernah membuka toko oleh-oleh dan suvenir di rumah toko (ruko) miliknya di daerah Karangploso, Malang.

Toko oleh-oleh itu diharapkan bisa menjadi sumber pemasukan ekonomi bagi keluarga. Namun, usaha itu rupanya tidak bertahan lama, hanya sekitar satu tahun. Kini, ruko itu disewakan kepada salah satu bank swasta.

”Karena (jiwa Suciwati) dasarnya memang bukan orang dagang. Ada orang mau sewa (ruko), ya, dihitung-hitung (keuntungannya) maka disewakan,” ucap Mufid.

Mengenai sosok Suciwati yang tangguh dibenarkan oleh teman dekatnya, Salma Safitri, Direktur Omah Munir. Salma, yang telah mengenal sosok Munir dan Suciwati, menuturkan, temannya itu tidak hanya gigih di dunia aktivis, tetapi juga dalam mengurus keluarga. Sebagai ibu, Suciwati juga demokratis terhadap Alif dan Diva. Jika keduanya melakukan kesalahan, ia akan menunjukkan kepada mereka berdua letak kesalahannya itu.

”Dia (Suciwati) membagi pekerjaan sama rata kepada anak-anaknya. Misalnya, Alif bertugas mencuci piring dan membuat teh jika ada tamu. Diva bertugas membenahi rumah. Sementara Suciwati memasak. Dengan demikian, saat Suciwati sedang ada pekerjaan di luar kota, anak-anak mereka bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik,” kata Salma.

Selain dunia aktivis dan menjadi Ketua Pengurus Omah Munir, menurut Salma, Suciwati yang pernah mendapat penghargaan The Right Livelihood dari Swedia dan penghargaan An Honourable Mention of the 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize juga memiliki kesibukan di dunia pendidikan. Beberapa waktu lalu, Suciwati bersama teman-temannya mendirikan sekolah taman kanak-kanak di Malang. (WER)


EditorSandro Gatra

Close Ads X