Kompas.com - 03/11/2014, 14:32 WIB
Putri Taufiq Kiemas, Puan Maharani, tak mampu menahan tangis saat jenazah ayahnya akan dilepas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, untuk dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (9/6/2013). KOMPAS.com/SABRINA ASRILPutri Taufiq Kiemas, Puan Maharani, tak mampu menahan tangis saat jenazah ayahnya akan dilepas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, untuk dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (9/6/2013).
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai seorang politisi, Puan Maharani bermimpi dapat mewarisi bakat almarhum ayahnya, Taufiq Kiemas. Sosok Taufiq dikenal egaliter dan mahir dalam lobi politik. Namun, Puan tahu diri, kemampuan Taufiq itu lahir dari kerja panjang dalam waktu yang bukan sehari-dua hari.

"Banyak orang akhirnya mengakui cara lobi Pak Taufiq yang egaliter, merangkul semua warna, membuat politik lentur dan fleksibel, tetapi berprinsip. Belum ada yang menggantikannya," tutur Puan, dalam wawancara khusus KompasTV bersama Kompas.com dan Tribunnews, di Kantor Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, Jumat (31/10/2014).

DANY PERMANA Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas menyampaikan pandangannya saat menjadi pembicara utama dalam acara pertemuan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Sabtu (25/5/2013). Kegiatan tersebut dilangsungkan untuk memperingati hari ulang tahun FSAB ke-10. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
"Saya coba apa yang dilakukan Pak Taufiq, tapi hanya akan dapat terbukti dengan waktu," lanjut Puan. "Butuh waktu yang tidak cepat dan tidak gampang. Saya coba jadi jembatan (komunikasi politik), tapi waktu yang akan mengatur akan terjadi atau tidak. Saya pelan-pelan akan jalani."

Puan mengaku saat ini dia tengah berproses untuk menyusuri jejak sang ayah. Menjadi ketua fraksi di DPR, jabatan yang dia ampu selama menjadi anggota DPR periode 2009-2014, menurut dia telah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman. Namun, lagi-lagi dia mengatakan masih butuh banyak waktu untuk bisa mengejar kelihaian almarhum Taufiq Kiemas.

Sebagai hasil dari Pemilu Legislatif 2014, Puan kembali menjadi anggota DPR periode 2014-2019, sebelum kemudian ditunjuk menjadi menteri oleh Presiden Joko Widodo. Dia tak menampik dalam periode singkatnya di DPR ini telah gagal membawa kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi pimpinan DPR periode ini.

Meski demikian, Puan membantah kegagalan itu karena tak ada upaya lobi darinya maupun dari fraksinya di DPR. "(Kegagalan itu) karena perubahan Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang tak lagi otomatis menempatkan partai pemenang pemilu sebagai ketua DPR," ujar dia. "Itu yang perlu saya luruskan," ujar dia.

"Gemblengan" keluarga politik

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dalam sesi wawancara di Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (31/10/2014).
Sebelum dilantik menjadi Menteri Koordinator Pembangungan Manusia dan Kebudayaan, Puan juga adalah Ketua Bidang Politik DPP PDI-P, yang dipercaya pula oleh partainya menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014. Hasilnya, Puan membawa PDI-P menjadi pemenang Pileg 2014 dan mengantarkan Joko Widodo ke kursi RI 1.

"Saya banyak mendapatkan gemblengan dari kedua orangtua saya, bagaimana saya bisa beradaptasi di lingkungan itu. Alhamdulillah saya (juga) berada di kabinet pemerintahan dengan bekal dari orangtua saya," ungkapnya.

Dalam sebuah kesempatan yang berbeda, Puan sempat mengatakan bahwa ia beserta kedua orangtuanya merupakan tandem politik yang telah bersinergi dalam waktu lama.

Almarhum Taufiq adalah mantan Ketua MPR yang getol menyosialisasikan empat pilar kebangsaan, sedangkan ibunya adalah Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI dan saat ini masih menjabat Ketua Umum PDI-P.

Dalam keluarganya, Puan mengaku sebagai anak yang sangat disayangi Taufiq. Sebagai orangtua, Taufiq menurut dia sangat frontal dalam menunjukkan rasa sayang kepadanya.
Hal ini  berbanding terbalik dengan Megawati yang lebih tenang dan pandai menahan emosi. Bagi Puan, Taufiq dan Megawati ibarat dua sayap yang melindunginya.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BKN Akui Antiradikalisme Jadi Salah Satu Aspek TWK Pegawai KPK

BKN Akui Antiradikalisme Jadi Salah Satu Aspek TWK Pegawai KPK

Nasional
Kemenag Pelajari Implikasi Putusan MA Terkait Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam Sekolah

Kemenag Pelajari Implikasi Putusan MA Terkait Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam Sekolah

Nasional
ICW Nilai Jokowi Perlu Turun Tangan Terkait Polemik Alih Status Pegawai KPK

ICW Nilai Jokowi Perlu Turun Tangan Terkait Polemik Alih Status Pegawai KPK

Nasional
BKN: Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Berbeda dengan TWK CPNS

BKN: Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Berbeda dengan TWK CPNS

Nasional
UPDATE 8 Mei: 8,58 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 13,28 Juta Dosis Pertama

UPDATE 8 Mei: 8,58 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 13,28 Juta Dosis Pertama

Nasional
UPDATE 8 Mei: 6.130 Kasus Baru Tersebar di 31 Provinsi, Jabar Tertinggi Capai 2.209

UPDATE 8 Mei: 6.130 Kasus Baru Tersebar di 31 Provinsi, Jabar Tertinggi Capai 2.209

Nasional
UPDATE 8 Mei: Ada 99.003 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 8 Mei: Ada 99.003 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 8 Mei: 74.547 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 8 Mei: 74.547 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
UPDATE 8 Mei: Tambah 179, Total Pasien Covid-19 Meninggal Capai 46.842

UPDATE 8 Mei: Tambah 179, Total Pasien Covid-19 Meninggal Capai 46.842

Nasional
UPDATE 8 Mei: Tambah 5.494, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.563.917

UPDATE 8 Mei: Tambah 5.494, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.563.917

Nasional
UPDATE 8 Mei: Ada 86.552 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 8 Mei: Ada 86.552 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Buka Peluang Usung Kader pada Pilpres 2024, PAN Tetap Akan Realistis

Buka Peluang Usung Kader pada Pilpres 2024, PAN Tetap Akan Realistis

Nasional
UPDATE 8 Mei: Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 1.709.762, Bertambah 6.130

UPDATE 8 Mei: Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 1.709.762, Bertambah 6.130

Nasional
Bamsoet: Apakah Diskusi Bisa Hentikan Kebrutalan KKB di Papua?

Bamsoet: Apakah Diskusi Bisa Hentikan Kebrutalan KKB di Papua?

Nasional
Abraham Samad Duga TWK Bertujuan Singkirkan 75 Pegawai KPK

Abraham Samad Duga TWK Bertujuan Singkirkan 75 Pegawai KPK

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X