Jokowi Diminta Pilih Menteri Pendidikan yang Mengerti Kebutuhan Anak

Kompas.com - 15/10/2014, 04:37 WIB
Psikolog dan pemerhati anak Seto Mulyadi hadir di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (23/5/2013). Kedatangan Seto yang akrab disapa Kak Seto ini, "untuk urusan kerja" jawab Kak Seto, selain itu juga dalam rangka memberikan bantuan konsultasi kepada tahanan KPK mengenai putra-putri mereka yang ditinggal ditinggal di rumah karena para orangtua mereka harus menghadapi proses hukum.
KOMPAS/ALIF ICHWANPsikolog dan pemerhati anak Seto Mulyadi hadir di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (23/5/2013). Kedatangan Seto yang akrab disapa Kak Seto ini, "untuk urusan kerja" jawab Kak Seto, selain itu juga dalam rangka memberikan bantuan konsultasi kepada tahanan KPK mengenai putra-putri mereka yang ditinggal ditinggal di rumah karena para orangtua mereka harus menghadapi proses hukum.
|
EditorFidel Ali Permana

JAKARTA, KOMPAS.com
- Karena maraknya kasus kekerasan, tindak asusila, dan bullying yang terjadi di dunia pendidikan belakangan ini, Seto Mulyadi meminta presiden terpilih Joko Widodo untuk memilih menteri pendidikan yang tepat. Kasus-kasus ini bisa terjadi karena sistem pendidikan yang buruk. Sehingga kasus ini juga menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Pemerintah harus pilih menteri pendidikan dengan benar, pilih yang mau mendengarkan suara anak," kata Seto, Selasa (14/10/2014). 
 
Pemilihan menteri pendidikan yang tepat diharapkannya bisa membawa perubahan bagi dunia pendidikan yang bersahabat untuk anak-anak. Dan pada akhirnya akan mengurangi terjadinya kasus-kasus yang demikian. 
 
"Kasus ini seperti fenomena gunung es. Anak-anak jangan diajar dengan kekerasan dan dijadikan seperti robot," keluhnya. 
 
Padahal, pendidikan, menurut dia, adalah hak anak bukan kewajiban. Oleh karena itu, seharusnya pendidikan lebih berorientasi pada kebutuhan anak.
 
"Misalnya kurikulum 2013, sudah diprotes tapi cuek aja jalan terus, ijazah dikawal polisi sudah kaya maling. Saya bingung, kaya nggak ngerti suara hati anak," katanya dengan nada sedikit meninggi.
 
Ditambahkan Seto, kasus-kasus tak terduga di dunia pendidikan ini merupakan harga yang harus dibayar dari ketidakjujuran tentang kualitas pendidikan di Indonesia. 
 
"Pendidikan  Indonesia tidaklah ramah anak, tidak mau mendengarkan dan mengerti suara anak-anak," tegasnya. "Sementara itu, kalau ada seperti ini, anak-anak yang selalu disalahkan." 

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.