Kompas.com - 25/08/2014, 14:47 WIB
Warga antre untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres 2014 di Desa Bojong Koneng, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/7/2014). Antusiasme warga dalam pilpres terlihat, salah satunya saat mereka sudah antre menunggu dibukanya tempat pemungutan suara. KOMPAS / WAWAN H PRABOWOWarga antre untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres 2014 di Desa Bojong Koneng, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/7/2014). Antusiasme warga dalam pilpres terlihat, salah satunya saat mereka sudah antre menunggu dibukanya tempat pemungutan suara.
EditorLaksono Hari Wiwoho


Oleh: R William Liddle

KOMPAS.com - Dalam sejarah demokrasi Indonesia, baru pada Pemilu Presiden 2014 ada calon presiden yang menakutkan banyak orang.

Kenyataan tersebut mendorong berbagai pihak bersikap lebih waspada dan bertindak lebih tegas agar capres itu tak memenangi pilpres secara tak patut. Akibatnya adalah lembaga-lembaga demokrasi, baik formal maupun informal, makin kukuh dan responsif kepada kemauan masyarakat.

Lembaga formal yang saya maksudkan tentu terutama Komisi Pemilihan Umum (KPU). International Foundation for Electoral Systems (IFES), yang sejak awal Reformasi memantau dari dekat pelaksanaan pemilu- pemilu di Indonesia, menyimpulkan bahwa Pilpres 2014 adalah yang terbaik dari segi pendaftaran pemilih dan pengorganisasian hari pemilu sendiri. Juga terpuji: keputusan KPU membuat proses rekapitulasi transparan dari awal supaya bisa diikuti semua orang.

Selain KPU, polisi, tentara, dan Presiden SBY ikut berjasa. Menjelang akhir proses rekapitulasi, relawan capres Prabowo Subianto mulai memobilisasi kekuatan demi "pengamanan" pengumuman hasil pilpres.

Dalih berbau Orde Baru itu dijawab langsung tiga ribuan polisi, termasuk pasukan berkuda, yang disuruh mengelilingi kantor KPU. Panglima TNI menetapkan kondisi siaga tinggi. Secara tidak langsung Presiden SBY mengajak "semua pihak" (baca: Prabowo) agar menghormati hasil pilpres.

Cemerlang realistis

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Aktor informal yang memainkan peran terdiri atas dua kelompok, masyarakat madani dan tokoh politik. Sumbangan kedua- duanya patut diberi penghargaan paling tinggi. Mereka bertindak atas sebuah visi yang cemerlang sekaligus realistis. Lagi pula, mereka menyampaikan visi itu secara polos dan rasional.

Dalam konteks itu, saya tentu tidak mau meremehkan peran pemerintah. Namun, pada akhirnya pejabat pemerintah hanya memenuhi tugas, sementara perbuatan aktor swasta berdasarkan sesuatu yang lebih dalam dan terpikirkan sendiri.

Kebangkitan masyarakat madani sudah lama kentara, terutama setiap kali kewibawaan Komisi Pemberantasan Korupsi terancam oleh pejabat dan politisi yang berkepentingan sempit dan pribadi. Dalam Pilpres 2014, kasusnya banyak, termasuk pembelaan terhadap kredibilitas hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, kecaman terhadap media massa yang melanggar kode etik, dan munculnya kawalpemilu.org yang mengawasi rekapitulasi.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 17 Oktober: Tambah 747, Total Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.237.758

UPDATE 17 Oktober: Tambah 747, Total Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.237.758

Nasional
Jokpro Jabar Deklarasikan Dukungan untuk Jokowi-Prabowo 2024

Jokpro Jabar Deklarasikan Dukungan untuk Jokowi-Prabowo 2024

Nasional
Pemerintah Ubah Hari Libur Nasional, Antisipasi Terjadinya Lonjakan Kasus Covid-19

Pemerintah Ubah Hari Libur Nasional, Antisipasi Terjadinya Lonjakan Kasus Covid-19

Nasional
Ma'ruf: Pemerintah  Mempercepat Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem

Ma'ruf: Pemerintah Mempercepat Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem

Nasional
Tampung Aspirasi, Muhaimin Gelar Lomba Video 'Lapor Cak Imin Aja!'

Tampung Aspirasi, Muhaimin Gelar Lomba Video "Lapor Cak Imin Aja!"

Nasional
UNJ Disebut Akan Ubah Aturan demi Beri Gelar untuk Ma'ruf Amin dan Erick Thohir

UNJ Disebut Akan Ubah Aturan demi Beri Gelar untuk Ma'ruf Amin dan Erick Thohir

Nasional
Menilik Sejarah Terbentuknya Korps Paskhas TNI AU...

Menilik Sejarah Terbentuknya Korps Paskhas TNI AU...

Nasional
KPK Akan Dalami Uang Rp 1,5 Miliar yang Diamankan dari Dodi Alex Noerdin

KPK Akan Dalami Uang Rp 1,5 Miliar yang Diamankan dari Dodi Alex Noerdin

Nasional
Sukses Uji Penyelaman, KRI Cakra-401 Dinilai Penuhi Indikator Kelayakan Operasi

Sukses Uji Penyelaman, KRI Cakra-401 Dinilai Penuhi Indikator Kelayakan Operasi

Nasional
Dodi Reza Alex Noerdin Diduga Rekayasa Proyek, KPK Sebut Fee 10 Persen

Dodi Reza Alex Noerdin Diduga Rekayasa Proyek, KPK Sebut Fee 10 Persen

Nasional
Sedang Perbaikan, Kapal Selam KRI Cakra-401 Sukses Jalani Uji Penyelaman

Sedang Perbaikan, Kapal Selam KRI Cakra-401 Sukses Jalani Uji Penyelaman

Nasional
Dodi Alex Noerdin Jadi Tersangka, OTT yang Sita Miliaran Rupiah di Tas dan Kantong Plastik...

Dodi Alex Noerdin Jadi Tersangka, OTT yang Sita Miliaran Rupiah di Tas dan Kantong Plastik...

Nasional
Hormati Hukum, Partai Golkar Prihatin Kasus Korupsi Menjerat Dodi Alex Noerdin

Hormati Hukum, Partai Golkar Prihatin Kasus Korupsi Menjerat Dodi Alex Noerdin

Nasional
[POPULER NASIONAL] Jokowi Malu Buka Investasi Tak Direspons | Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin Jadi Tersangka KPK

[POPULER NASIONAL] Jokowi Malu Buka Investasi Tak Direspons | Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin Jadi Tersangka KPK

Nasional
Dirgahayu Korps Paskhas TNI AU, Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana

Dirgahayu Korps Paskhas TNI AU, Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.