Kompas.com - 27/07/2014, 08:17 WIB
EditorLaksono Hari Wiwoho

Apa hubungan khadi dengan revolusi mental? Akhir abad ke-19, sebelum Gandhi memutuskan gerakan khadi, ekonomi India merosot tajam. Pada 1800-an, India adalah negeri pengekspor tekstil ternama di Asia. Dari Kalkuttta saja, ekspor mencapai 20 juta rupee setahun. Seratus tahun kemudian, keadaan berbalik. India harus mengimpor pakaian, terutama dari Manchester senilai 660 juta rupee setahun.

Banyak pabrik tekstil lokal bangkrut. Pengangguran menjadi-jadi dan kemiskinan merebak. Seperti ditulis oleh Gandhi dalam Hind Swaraj, ”Akibat paling tragis kekuasaan Inggris saat ini adalah 20 juta lebih rakyat India terpaksa menganggur.”

Namun, Gandhi tidak langsung melarang rakyat menggunakan produk asing. ”Lebih baik kita mengirim uang ke Manchester dan menggunakan kain tipis buatan Manchester daripada menggandakan pabrik-pabrik di India. Dengan menggunakan kain dari Manchester, kita hanya menghamburkan uang, tapi memproduksi kain dari Manchester di India kita akan mempertahankan uang kita dengan bayaran darah karena moral kita diisap habis,” tulisnya dalam Hind Swaraj.

Moral menjadi pertimbangan utama kebijakan ekonomi ini sekalipun bagi sejumlah lawan politiknya, sikap ini dipandang sangat tidak tegas dan pro-penjajah. Namun, sekadar menyalahkan dan mengusir Inggris, menurut Gandhi, tidak menyelesaikan masalah. Dia mengecam tajam kolonialisme, tetapi tidak membenci orang Inggris.

”Inggris tidak merebut India; kita yang memberikannya. Mereka di India bukan karena kekuatan mereka, tetapi karena kita menahannya… Siapa yang tergiur melihat perak mereka? Siapa yang membeli barang-barang mereka? Sejarah menyaksikan, kitalah pelakunya… Kita membantu mereka.”

Dengan landasan moral itu, pada 1917 Gandhi mulai mengajak bangsanya bermental Swadeshi. Swadeshi tidak hanya berarti memenuhi kebutuhan dengan yang tersedia, tetapi sekaligus ”Kendalikanlah kebutuhan Anda.” Maka, menenun khadi menjadi simbol sekaligus praktik Swadhesi.

Gerakan menenun dan menggunakan khadi memuncak pada 1922 ketika Gandhi tampil di depan umum dalam balutan kain utuh tak berjahit. Sejak itu, Gandhi tak pernah lepas dari khadi: simbol gerakan moral dan politik—Satyagraha—dan gerakan ekonomi—Swadeshi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gandhi percaya memproduksi dan menggunakan kain tenunan tangan merupakan bagian dari pengasahan kekuatan batin untuk menggantikan peradaban Eropa dengan Satyagraha. ”Pikiran itu seperti burung yang tak pernah berhenti terbang; semakin banyak yang didapat, semakin banyak yang diinginkan. Semakin kita umbar, semakin tak terkendali nafsu kita.”

Di sini Gandhi jelas bersikeras, gerakan ekonomi dan politik tak mungkin lepas dari suatu gerakan moral, dari khadi, simbol keutamaan moralitas. Sebaliknya, khadi atau keutamaan moralitas juga bisa menjadi pernyataan politis yang sangat tajam.

Menjawab kritik karena mengenakan selembar kain saja ketika mengikuti Konferensi Meja Bundar di London, Gandhi menulis, ”Pakaian saya, ditulis surat kabar sebagai kain gombal. Dikritik, diolok-olok… Tetapi saya di sini menjalankan misi agung dan khusus. Kain gombalku adalah pakaian junjunganku, rakyat India.”

Christina M Udiani
Editor Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Konstruksi Perkara Suap di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Ini Konstruksi Perkara Suap di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Nasional
Kasus Pengadaan Lahan di Munjul, KPK Dalami Dugaan Pemberian Barang

Kasus Pengadaan Lahan di Munjul, KPK Dalami Dugaan Pemberian Barang

Nasional
OTT di Kabupaten Hulu Sungai Utara, KPK Amankan Uang Rp 345 Juta

OTT di Kabupaten Hulu Sungai Utara, KPK Amankan Uang Rp 345 Juta

Nasional
1,6 Juta Vaksin Pfizer Tiba di Indonesia, Didistribusikan ke 5 Provinsi

1,6 Juta Vaksin Pfizer Tiba di Indonesia, Didistribusikan ke 5 Provinsi

Nasional
Dinyatakan Bersalah Atas Polusi Udara di Ibu Kota, Ini Hukuman Untuk Jokowi, Menteri LHK, Mendagri hingga Menkes

Dinyatakan Bersalah Atas Polusi Udara di Ibu Kota, Ini Hukuman Untuk Jokowi, Menteri LHK, Mendagri hingga Menkes

Nasional
KPK Tahan 3 Tersangka Suap di Kabupaten Hulu Sungai Utara

KPK Tahan 3 Tersangka Suap di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Nasional
OTT di Hulu Sungai Utara, KPK Tetapkan Plt Kadis PUPRT dan 2 Pihak Swasta Tersangka

OTT di Hulu Sungai Utara, KPK Tetapkan Plt Kadis PUPRT dan 2 Pihak Swasta Tersangka

Nasional
Politik Dinasti sebagai Komorbid Demokrasi

Politik Dinasti sebagai Komorbid Demokrasi

Nasional
Komisioner Harap Jokowi Pakai Rekomendasi Komnas HAM Sikapi Persoalan TWK KPK

Komisioner Harap Jokowi Pakai Rekomendasi Komnas HAM Sikapi Persoalan TWK KPK

Nasional
KPK Tetapkan Plt Kadis PUPRT Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalsel Tersangka Suap

KPK Tetapkan Plt Kadis PUPRT Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalsel Tersangka Suap

Nasional
Alex Noerdin Tersangka, Fraksi Golkar Akan Bicarakan Nasibnya di DPR

Alex Noerdin Tersangka, Fraksi Golkar Akan Bicarakan Nasibnya di DPR

Nasional
Jokowi: Enggak Apa-apa Vaksinasi Pertama Dulu, tapi PTM Terbatas...

Jokowi: Enggak Apa-apa Vaksinasi Pertama Dulu, tapi PTM Terbatas...

Nasional
Pencairan Bansos di Kalteng Dievaluasi, Mensos Minta Pemda Perbaiki Data

Pencairan Bansos di Kalteng Dievaluasi, Mensos Minta Pemda Perbaiki Data

Nasional
Mendagri Harap Penyelenggaraan Pemilu 2024 Berjalan Presisi

Mendagri Harap Penyelenggaraan Pemilu 2024 Berjalan Presisi

Nasional
Kelakar Siswa Saat Bincang Virtual dengan Jokowi: Senang Sampai Terbawa Mimpi, Pak

Kelakar Siswa Saat Bincang Virtual dengan Jokowi: Senang Sampai Terbawa Mimpi, Pak

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.