Mereka Tertular "Virus" Mengawal Suara Rakyat

Kompas.com - 16/07/2014, 16:24 WIB
Warga Manggarai, Jakarta Selatan, yang melihat hasil penghitungan suara di TPS 022, bersorak kegirangan setelah capres pilihannya berhasil unggul di TPS tersebut, Rabu (9/7/2014). KOMPAS / TOTOK WIJAYANTOWarga Manggarai, Jakarta Selatan, yang melihat hasil penghitungan suara di TPS 022, bersorak kegirangan setelah capres pilihannya berhasil unggul di TPS tersebut, Rabu (9/7/2014).
EditorLaksono Hari Wiwoho


KOMPAS.com — Riuh rendah pemilu presiden kali ini membawa nuansa baru pada iklim berdemokrasi di Indonesia. Antusiasme warga tak hanya terlihat pada kemauan mereka memberikan suara. Kemauan untuk mengawal suara dari kecurangan juga mengemuka, tak terkecuali bagi penggemar grup musik Slank.

Siapa yang berani menyangkal kebesaran nama grup rock Slank di Indonesia. Penggemarnya banyak dan fanatik. Ketika idolanya memberikan suara kepada salah satu kandidat, penggemarnya pun bergerak. Sistem organisasi hingga tingkat desa memungkinkan hal itu terjadi.

Dede (25), warga Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, adalah penggemar berat Slank sejak tahun 2001. Tahun itu adalah tahun kala Bimbim, Kaka, Abdee, Ridho, dan Ivan mengeluarkan album berjudul Virus. "Sejak itu saya ketularan virus Slank," kata lulusan SMA itu sambil terbahak.

Senin (14/7/2014) lalu, saat mentari terik bersinar, Dede mendatangi kantor Kecamatan Cisaat, mengenakan kaus hitam, celana jins ketat berwarna hitam, dan sandal jepit. Ada tas kecil yang terkalung di badannya. Di dalam tas itu, ia membawa buku catatan dan juga formulir kosong.

Formulirnya berkop Slank Fans Club Sukabumi (SFCS). Kolom di bawahnya bertuliskan nama dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden, jumlah suara sah, serta jumlah suara tidak sah. Isian itu serupa dengan berita acara di lembar formulir C1 keluaran Komisi Pemilihan Umum di tingkat kelurahan.

Dede menemui Sekretaris Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Cisaat Yanti Budiningsih. Dede, sesuai keterangan Yanti, mencatat seluruh data yang diperlukannya. Data itu akan ia laporkan kepada ketua organisasinya. Dede juga mendatangi kantor Kecamatan Kadudampit, sekitar 8 kilometer dari Cisaat, menunggang skuter matic pribadinya untuk mencari data yang sama.

Dede mengaku rela melakoni kegiatan yang ia sebut tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya itu. Mencatat dan membandingkan data hasil rekapitulasi suara pemilu baru dilakukannya kali ini. "Supaya suara saya tidak dicurangi oleh negara," ujar dia.

Sehari-hari Dede adalah pemuda yang gemar nongkrong setiap akhir pekan. Ia tidak punya pekerjaan tetap. Rutinitasnya adalah menjaga toko kecil yang menjual kaus Slank di dekat rumahnya. Ia berpartisipasi aktif dalam pemilu kali ini karena dipengaruhi sikap politik grup band idolanya itu.

"Slank ikut dalam Konser Dua Jari di Jakarta. Ya, mereka mendukung Jokowi (Joko Widodo). Namun, tidak ada arahan untuk ikut mencoblos Jokowi. Kami dibebaskan bersikap," kata dia.

Pengalaman pertama

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X