LSI: Masa Tenang Penentu Kemenangan Jokowi-JK

Kompas.com - 09/07/2014, 20:34 WIB
Dua peneliti Lingkaran Survei Indonesia Ade Mulyana (kiri) dan Ardian Sopa memaparkan hasil hitung cepat di Kantor LSI, Jakarta, Rabu (9/7/2014). Berdasarkan hitung cepat itu, Jokowi-JK mendapat 53,37 persen dan Prabowo Hatta mendapat 46,63 persen. KOMPAS.COM/RAHMAT FIANSYAHDua peneliti Lingkaran Survei Indonesia Ade Mulyana (kiri) dan Ardian Sopa memaparkan hasil hitung cepat di Kantor LSI, Jakarta, Rabu (9/7/2014). Berdasarkan hitung cepat itu, Jokowi-JK mendapat 53,37 persen dan Prabowo Hatta mendapat 46,63 persen.
|
EditorFidel Ali Permana

JAKARTA, KOMPAS.com
- Hasil hitung cepat (quick count) Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menempatkan Joko Widodo-Jusuf Kalla di atas Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Peneliti LSI, Ardian Sopa mengatakan, ada tiga faktor penentu kemenangan Jokowi-JK yang terjadi di detik-detik akhir menjelang pemilu presiden.

Ardian menjelaskan, faktor pertama yang menentukan adalah pergerakan pemilih mengambang (swing voters) yang lebih banyak memilih Jokowi-JK. Hal ini, kata dia, terlihat ketika selisih kedua pasangan semakin melebar dari 3,6 persen pada awal Juli menjadi 6,74 persen pada saat pencoblosan.

"Pada awal Juli 2014, angka swing voters masih 8 persen. Swing voters lebih banyak diambil oleh Jokowi-JK sehingga marjin kemenangan semakin membesar," kata Ardian di Kantor LSI, Jakarta, Rabu (9/7/2014).

Ardian juga mengungkapkan alasan pemilih mengambang memilih Jokowi-JK. Menurut analisis dia, pemilih mengambang, cenderung memilih capres yang memiliki pemberitaan yang positif selama tiga hari terakhir pada masa tenang.

Faktor kedua yang menentukan adalah faktor golongan putih (golput). Ardian mengatakan, capres yang menang adalah capres yang mampu meminimalisir jumlah golput diantara pemilih yang awalnya memilih dia.

"Angka golput lebih banyak terjadi pada pasangan Prabowo-Hatta," ucap dia.

Faktor terakhir adalah pergerakan di masa tenang yang tak terekam oleh survei. Dia menilai, pergerakan kader, timses, relawan di masa tenang lebih banyak menambah dukungan kepada Jokowi-JK.

"Masa tenang ini masa-masa yang menentukan dalam pemilu," tandas dia.

Berdasarkan catatan LSI, pada bulan September 2013, selisih antara Jokowi dan Prabowo mencapai 39,20 persen. Ardian mengatakan, selisih antara keduanya terus menyempit, termasuk pada bulan Mei 2014 sekitar 12,67 persen.

"Pada awal Juni 2014, selisihnya terus menyempit menjadi 6,3 persen. Puncaknya ketika akhir Juni 2014, selisihnya hanya 0,5 persen. Hampir menyusul Jokowi," ujar dia.

Meski demikian, Ardian mengatakan, pada awal Juli 2014, selisih antara Jokowi dan Prabowo kembali menjauh menjadi 3,6 persen. Kini selisih antara keduanya semakin menjauh dalam pilpres menjadi 6,47 persen.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X