Kompas.com - 05/07/2014, 20:47 WIB
Pasangan capres dan cawapres, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK mengucapkan salam perpisahan usai mengikuti acara debat di Jakarta Selatan, Senin (9/6/2014). Debat akan dilakukan sebanyak lima kali selama masa kampanye. TRIBUNNEWS/HERUDINPasangan capres dan cawapres, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK mengucapkan salam perpisahan usai mengikuti acara debat di Jakarta Selatan, Senin (9/6/2014). Debat akan dilakukan sebanyak lima kali selama masa kampanye.
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com
– Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor (FEM IPB) mengaku melakukan survei elektabilitas calon presiden menjelang pemungutan suara 9 Juli mendatang. Hasilnya menunjukkan elektabilitas calon presiden Prabowo Subianto menyalip Joko Widodo.

Elektabilitas Prabowo, versi FEM IPB, mencapai 47 persen dan Jokowi sebesar 42 persen. Sementara 11 persen masyarakat lainnya belum menentukan pilihan.

“Prabowo didukung mayoritas masyarakat karena dianggap memperhatikan masalah pertanian secara umum, salah satunya. Hal lainnya yang mendukung Prabowo adalah karakter tegas,” kata Peneliti FEM IPB Jono M Munandar di Jakarta, Sabtu (4/7/2014).

Berdasarkan survei ini, Jono memaparkan, Prabowo dianggap unggul dalam karakter berwawasan global (56 persen), memberikan rasa aman (61 persen), mandiri dari pengaruh asing (61 persen), cerdas (65 persen), tegas dan konsisten (70 persen).

Sementara Jokowi unggul dalam bidang karakter membangun ekonomi (58 persen), toleran (63 persen), memberdayakan pemuda dan wanita (56 persen), pengalaman memimpin (66 persen), merakyat dan sederhana (84 persen), serta jujur dan amanah (62 persen).

Namun, hasil tersebut berdasarkan survei yang hanya dilakukan di enam provinsi besar di Indonesia, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan pada 1 Mei-23 Juni 2014.

Penelitian bersifat explanatory research dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden melalui media telepon seluler. Sementara data sekunder dilalakukan melalui studi literatur dan internet. Total responden pada survei ini adalah 1.043 dengan margin of error sebesar 4 persen.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mayoritas responden yang diambil dalam survei ini adalah kalangan terdidik dengan pendikan akhir Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana mencapai 60 persen dan yang berpendidikan akhir SMA ke bawah, yakni 40 persen.

Dilihat dari pekerjaannya, mayoritas responden adalah pegawai swasta (31 persen), pelajar/mahasiswa (28 persen), wirusaha (15 persen), lainnya (10 persen), ibu rumaah tangga (9 persen), dan pegawai negeri sipil (6 persen).

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Novel Sudah Pernah Minta Hasil Asesmen TWK KPK, tapi Tidak Diberikan

Novel Sudah Pernah Minta Hasil Asesmen TWK KPK, tapi Tidak Diberikan

Nasional
Anggota DPR: Pemerintah Harusnya Pikirkan Ketersediaan Pangan Tercukupi

Anggota DPR: Pemerintah Harusnya Pikirkan Ketersediaan Pangan Tercukupi

Nasional
Akselerasi Penurunan Kemiskinan secara Inklusif, Mensos Ajak Penerima Bansos Manfaatkan SKA

Akselerasi Penurunan Kemiskinan secara Inklusif, Mensos Ajak Penerima Bansos Manfaatkan SKA

Nasional
Busyro Muqoddas: Birokrasi Indonesia adalah Produk Demokrasi Pilkada Transaksional

Busyro Muqoddas: Birokrasi Indonesia adalah Produk Demokrasi Pilkada Transaksional

Nasional
Jelang Pembukaan Wisata Bali untuk Wisman, Demer: Pelaku Pariwisata Harus Beradaptasi

Jelang Pembukaan Wisata Bali untuk Wisman, Demer: Pelaku Pariwisata Harus Beradaptasi

Nasional
Haji 2021 Terbatas untuk Warga Saudi dan Ekspatriat, Amphuri: Kita Harus Terima walau Berat

Haji 2021 Terbatas untuk Warga Saudi dan Ekspatriat, Amphuri: Kita Harus Terima walau Berat

Nasional
Kemenlu: WNI yang Bermukim di Arab Saudi Bisa Melakukan Ibadah Haji

Kemenlu: WNI yang Bermukim di Arab Saudi Bisa Melakukan Ibadah Haji

Nasional
Kemenlu Pastikan Ibadah Haji 2021 Hanya untuk Orang-orang yang Tinggal di Arab Saudi

Kemenlu Pastikan Ibadah Haji 2021 Hanya untuk Orang-orang yang Tinggal di Arab Saudi

Nasional
Menag: Saudi Umumkan Haji Hanya untuk Warganya dan Ekspatriat di Negara Itu

Menag: Saudi Umumkan Haji Hanya untuk Warganya dan Ekspatriat di Negara Itu

Nasional
PBNU: Wacana Pengenaan PPN untuk Pendidikan dan Sembako Tidak Tepat

PBNU: Wacana Pengenaan PPN untuk Pendidikan dan Sembako Tidak Tepat

Nasional
Giri Suprapdiono Sebut 3 Skenario Pelemahan KPK Melalui TWK

Giri Suprapdiono Sebut 3 Skenario Pelemahan KPK Melalui TWK

Nasional
UPDATE 12 Juni: Pemerintah Periksa 17.833.717 Spesimen Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 12 Juni: Pemerintah Periksa 17.833.717 Spesimen Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Update: Sebaran 7.465 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jakarta

Update: Sebaran 7.465 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jakarta

Nasional
UPDATE 12 Juni: Ada 106.894 Kasus Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 12 Juni: Ada 106.894 Kasus Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Update 12 Juni: Ada 108.324 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Update 12 Juni: Ada 108.324 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X