Ini Alasan Setyardi Sebarkan "Obor Rakyat" ke Pesantren

Kompas.com - 14/06/2014, 14:37 WIB
Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Dima Akhyar, menunjukkan tabloid obor rakyat yang beredar di sejumlah pesantren, Rabu (11/6/2014) KOMPAS.com/ Ahmad WinarnoKetua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Dima Akhyar, menunjukkan tabloid obor rakyat yang beredar di sejumlah pesantren, Rabu (11/6/2014)
|
EditorFarid Assifa

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemimpin Redaksi Tabloid Obor Rakyat Setyardi Budiono mengungkapkan alasan tabloid buatannya itu dibagikan ke kalangan santri-santri di wilayah Jawa. Menurut Setyardi, kalangan santri dinilai kurang melek informasi sehingga dibutuhkan asupan informasi mengenai sosok calon presiden yang akan datang melalui medianya itu.

"Penetrasi internet hanya 30 persen berdasarkan data dari APJI (Asosisi Penyedia Jasa Internet). Banyak pesantren, mereka termasuk kelompok masyarakat yang perlu dibantu buka akses informasi," ujar Setyardi dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (14/6/2014).

Menurut mantan jurnalis itu, selain pesantren, ada juga tempat lain yang menjadi tempat persebaran tabloid Obor Rakyat, tetapi tidak diungkap ke media massa. Saat ditanyakan kembali mengenai titik penyebaran Obor Rakyat, Setyardi tak menjawabnya.

Dia hanya mengatakan bahwa tabloid itu memang sengaja tidak disebarkan ke kalangan akademisi, misalnya kampus. Pasalnya, dia menganggap kalangan itu sudah memiliki akses informasi yang cukup.

"Kalau saya bagikan ke kampus, mereka sudah tahu bahwa mayoritas caleg PDI-P non-Muslim, bus karatan sudah tahu. Jadi useless buat saya," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, sebuah tabloid atas nama Obor Rakyat beredar di sejumlah pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Isi itu tabloid berupa hujatan terhadap Jokowi-JK, tanpa menyebut narasumber dan penulis berita.

Dalam edisi kedua dari tabloid itu, berita utamanya tentang "1001 Topeng Pencitraan". Di dalamnya masih berisi hujatan terhadap Jokowi.

Kasus ini sudah dilaporkan tim Jokowi-JK ke Badan Pengawas Pemilu. Badan Intelijen Negara (BIN) juga turun mengusut peredaran tabloid tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X