Penjelasan "Jokowers" soal Panasbung - Kompas.com

Penjelasan "Jokowers" soal Panasbung

Kompas.com - 25/04/2014, 20:28 WIB
RODERICK ADRIAN MOZES Calon presiden yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi, berpose sebelum meresmikan posko media JKW4P di Jalan Cemara, Menteng, Jakarta, Kamis (3/4/2014). Jokowi diberikan mandat untuk menjadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

JAKARTA, KOMPAS.com —
Pendukung calon presiden PDI-P Joko Widodo yang menyebut dirinya Jokowi Lovers atau Jokowers membantah tudingan yang menganggap mereka pasukan cyber bayaran alias pasukan nasi bungkus (panasbung).

"Ada capres yang menuding soal panasbung kepada pendukung Jokowi secara sembrono dan tendensius. Lewat puisinya Fadli Zon melontarkan isu pasukan dunia maya dan panasbung (baca: Fadli Zon Sindir Akun Palsu dengan Puisi "Pasukan Nasi Bungkus"). Kenyataannya pendukung Jokowi bukan satu kelompok, melainkan multigerakan, baik di dunia maya maupun lewat gerakan langsung. Begitu masif dan heterogen," ujar Dadan Hamdani salah seorang Jokowers di Jakarta, Jumat (25/4/2014).

Menurut mantan Admin Group 1 Juta Facebooker Bibit Chandra ini, lahirnya Jokowers merupakan dukungan fanatik sehat karena Jokowi dianggap sosok yang pantas diteladani.

"Sejak muncul awal Januari Jokowers terdiri dari banyak page dan grup Jokowers dari Bekasi, Purwakarta, Lampung, Semarang dan Sumatera Utara," katanya.

Ponco Budi, seorang Jokowers lain mengungkapkan, di jejaring sosial Facebook ada sekitar 600-an grup pendukung Jokowi dan 100-an fans page atau page group multivarian yang mendukung Jokowi.

"Pendukung Jokowi sangat variatif. Ada Pendukung Capres Jokowi, Jokowi Capres, Cawapres Jokowi, Jokowi JK, Jokowi Ahok, dan sebagainya," katanya.

Menurut Ponco, beberapa kelompok pendukung Jokowi berasal dari inisiatif orang perorangan yang memang jatuh cinta kepada sosok Jokowi.

Namun, kata dia, tidak semua akun yang bernada pro-Jokowi betul-betul pendukung Jokowi. Hasil riset yang dilakukannya pada 21-22 April 2014 terhadap 300 akun bernada pro-Jokowi ternyata justru berisi konten-konten yang berseberangan. Akun-akun itu, misalnya, Group Jokowers, Jokowers Indonesia, Relawan Jokowi Presiden, dan Jokowi Presidenku. 

"(Akun-akun itu berseberangan) alias memihak selain Jokowi," kata Ponco.

Dengan sebuah perangkat lunak yang menurutnya andal, ponco menemukan dua pertiga akun tersebut memiliki IP (Internet Protocol) yang terkonsentrasi. Ada 7-9 IP induk.

"Riset ini sangat sederhana. Ternyata masing-masing akun menunjukkan kesamaan IP," katanya lagi.

Dengan kata lain, kata Ponco, akun Jokowi haters tersebut dikelola dan dimanajemeni di beberapa tempat secara terkonsentrasi dengan ratusan pasukan dan perangkat.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHeru Margianto

Close Ads X