Sirkuit Perubahan Pilihan Pemilih

Kompas.com - 11/04/2014, 14:56 WIB
Hasil pembobotan Hitung Cepat Kompas, 9 April 2014. KOMPASHasil pembobotan Hitung Cepat Kompas, 9 April 2014.
EditorLaksono Hari Wiwoho


KOMPAS.com - Sejumlah hasil hitung cepat Pemilu Legislatif 2014 menguatkan gambaran perilaku pemilih yang sebelumnya disingkap lembaga survei. Hal itu terjadi dalam membaca kemenangan PDI-P, Golkar, dan Gerindra sebagai partai politik papan atas serta menyingkap potensi terpuruknya Partai Demokrat.

Beberapa hasil hitung cepat juga menguatkan gambaran sejumlah survei sebelum pemilu tentang ketatnya persaingan partai-partai politik di papan tengah serta perolehan suara PBB dan PKPI yang sangat minim.

Di balik kemiripan hasil survei yang dilakukan beberapa bulan menjelang pemilu, menarik diamati implikasi praktis ataupun teoretis politik yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Pertanyaannya, apakah pilihan pemilih sudah terbentuk jauh sebelum pencoblosan? Apakah kampanye, produksi isu negatif, penegasan calon presiden, ”puisi” berbalas puisi, ataupun survei berbalas survei tak mampu menggoyahkan pilihan?

Membandingkan dua hasil survei longitudinal Kompas dengan responden yang sama, baik survei yang dilakukan sebelum pencoblosan maupun setelah pencoblosan, teridentifikasi ada dinamika perubahan pilihan.


Sekitar sepertiga pemilih (36,9 persen) mengubah pilihan pada seminggu hingga sesaat sebelum hari pencoblosan. Jika diidentifikasi, inilah kelompok para pemilih mengambang (swing voters) pemilu, kalangan yang mudah beralih dukungan dengan orientasi politik kepartaian cenderung bersifat pragmatis.

Sekalipun signifikan jumlahnya, dinamika pemilih mengambang kali ini masih belum mampu mengusik konfigurasi pilihan parpol yang sudah terbentuk sebelumnya. Dinamika politik yang berlangsung saat ini bukanlah "topan badai" yang mampu meluluhlantakkan peta penguasaan parpol.

Potret perubahan pilihan yang terekam lebih cenderung layaknya sebuah sirkuit, berputar, dengan sebaran dukungan yang bersifat acak. Setiap parpol pun mampu meraih dukungan pemilih secara proporsional. Kondisi demikian menunjukkan, sirkulasi pergerakan kalangan pemilih mengambang tidak tersedot kepada satu atau sekelompok kecil parpol.

Konfigurasi suara

Kendati tidak mengubah drastis konfigurasi penguasaan suara, jika ditelisik lebih jauh, terdapat perbedaan ”neraca sirkulasi” pemilih setiap parpol. Terdapat sekelompok parpol yang diuntungkan lantaran sirkulasi dukungan pemilih yang hilang tergantikan dengan lebih banyak lagi para pemilih baru. Ini antara lain dialami Nasdem, yang selama dua bulan terakhir cukup signifikan meraih peningkatan dukungan.

Jumlah pendukung Gerindra, PKS, Demokrat, PAN, Golkar, dan PKB sejak dua bulan sebelum pencoblosan tergolong tetap. Tampaknya, beragam manuver politik yang dilakukan parpol selama dua bulan terakhir belum mampu menciptakan surplus dukungan yang signifikan. Aksi-aksi ofensif kampanye Gerindra, kampanye Presiden Yudhoyono, hanya berhasil menutup larinya dukungan kalangan pemilih mengambang pada parpol ini.

Kondisi sebaliknya terjadi pada PDI-P. Di antara sejumlah parpol lain, proporsi perubahan pilihan PDI-P sebenarnya relatif kecil. Dari responden yang mengaku memilih PDI-P pada survei Februari 2014 lalu, sebanyak 71 persen mengaku tidak mengubah pilihannya. Sementara sebanyak 29 persen yang lain meninggalkan parpol ini.

Namun, sepanjang dua bulan terakhir, hilangnya dukungan kaum pemilih mengambang PDI-P tidak terbalaskan sepenuhnya oleh kedatangan pendukung baru parpol ini.

Sampai di sini, PDI-P mengalami defisit neraca dukungan massa mengambang. Penobatan Joko Widodo (Jokowi) kurang berefek terhadap peningkatan suara parpol. Bahkan, kecenderungan penurunan mulai tampak. Hanya saja, terhadap total dukungan pemilih PDI-P sendiri, peran Jokowi masih tergolong besar. Dari hasil survei, hampir 45 persen pendukung parpol itu berasal dari pendukung Jokowi.

Di sisi lain, kedua hasil survei tersebut juga menggambarkan pola yang tidak selalu sama antara pilihan parpol dan pilihan calon presiden. Tidak semua dukungan terhadap sosok Jokowi, Prabowo, ataupun Aburizal Bakrie sebagai presiden bertumpu pada parpol pendukungnya masing-masing. Begitu pun peta perubahan dukungan calon presiden di antara kalangan pemilih mengambang, yang berdasarkan hasil survei setelah pemilu masih belum mampu menggoyahkan konfigurasi dukungan terhadap Jokowi, Prabowo, dan Aburizal Bakrie. (Bestian Nainggolan/Litbang Kompas)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KPK Lelang 3 Mobil Rampasan dari Koruptor, Apa Saja?

KPK Lelang 3 Mobil Rampasan dari Koruptor, Apa Saja?

Nasional
Litbang Kompas: 54,3 Persen Responden Tak Tahu Sensus Penduduk 2020

Litbang Kompas: 54,3 Persen Responden Tak Tahu Sensus Penduduk 2020

Nasional
Kontras: Penetapan Peristiwa Paniai Sebagai Pelanggaran HAM Berat Sudah Tepat

Kontras: Penetapan Peristiwa Paniai Sebagai Pelanggaran HAM Berat Sudah Tepat

Nasional
Kasus RJ Lino, KPK Panggil Mantan Direktur Operasional Pelindo II

Kasus RJ Lino, KPK Panggil Mantan Direktur Operasional Pelindo II

Nasional
Sensus Penduduk Online Dimulai, Simak Tata Caranya

Sensus Penduduk Online Dimulai, Simak Tata Caranya

Nasional
Survei Litbang Kompas: 51,5 Persen Warga Pilih Didatangi Petugas Sensus Penduduk

Survei Litbang Kompas: 51,5 Persen Warga Pilih Didatangi Petugas Sensus Penduduk

Nasional
Survei Litbang Kompas: 60,9 Persen Masyarakat Tidak Tahu Sensus Penduduk pada Februari 2020

Survei Litbang Kompas: 60,9 Persen Masyarakat Tidak Tahu Sensus Penduduk pada Februari 2020

Nasional
Dukcapil: Seluruh Layanan Administrasi Kependudukan Gratis, Laporkan jika Ada Pungli

Dukcapil: Seluruh Layanan Administrasi Kependudukan Gratis, Laporkan jika Ada Pungli

Nasional
Serikat Pekerja: Buat Apa Investor kalau Nasib Rakyat Semakin Sulit?

Serikat Pekerja: Buat Apa Investor kalau Nasib Rakyat Semakin Sulit?

Nasional
Jokowi Diminta Bentuk Komite Kepresidenan Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM

Jokowi Diminta Bentuk Komite Kepresidenan Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM

Nasional
Kabinet Jokowi-Ma'ruf Dinilai Tak Punya Program Terpadu Tangani Intoleransi

Kabinet Jokowi-Ma'ruf Dinilai Tak Punya Program Terpadu Tangani Intoleransi

Nasional
MAKI Gelar Sayembara Mencari Harun Masiku dan Nurhadi Berhadiah iPhone 11

MAKI Gelar Sayembara Mencari Harun Masiku dan Nurhadi Berhadiah iPhone 11

Nasional
Jokowi Diminta Jawab Janji Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM dan Intoleransi

Jokowi Diminta Jawab Janji Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM dan Intoleransi

Nasional
Setara: Tak Ada Harapan atas Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM di Era Jokowi

Setara: Tak Ada Harapan atas Penuntasan Kasus Pelanggaran HAM di Era Jokowi

Nasional
Usai Sukses Observasi, Pemerintah Akan Perbaiki Bandara di Natuna

Usai Sukses Observasi, Pemerintah Akan Perbaiki Bandara di Natuna

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X