Dilema Pembangunan di Lumbung Pangan

Kompas.com - 03/04/2014, 17:51 WIB
Petani Desa Bumirejo, Kecamatan Guntur, Demak, mentraktor tanaman padi yang mati akibat serangan hama tikus, Rabu (13/11/2013) KOMPAS.com/ARI WIDODOPetani Desa Bumirejo, Kecamatan Guntur, Demak, mentraktor tanaman padi yang mati akibat serangan hama tikus, Rabu (13/11/2013)
EditorLaksono Hari Wiwoho

Oleh Dedi Muhtadi


KOMPAS.com
- Ada yang unik saat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menggelar rapat tahunan Musyawarah Perencanaan Pembangunan 2014. Tidak hanya rapat atau rembukan, Bappeda juga menggelar Karawang Development Expo Tahun 2014 di Kantor Pemerintah Kabupaten Karawang.

Selama ini, kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) terkesan monoton dan seremonial. Maka, pada tahun ini, digelar pameran pembangunan sebagai sarana promosi, edukasi, dan promosi atas kinerja pemerintah daerah. Pameran selama dua hari, Rabu-Kamis (12-13/3/2014), dengan 40 stan itu, ditampilkan oleh semua satuan kerja perangkat daerah di Pemerintah Kabupaten Karawang.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karawang Samsuri S, pembangunan Karawang yang semuanya tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), sebagai acuan, diharapkan terus dilakukan sesuai target. Selama ini, katanya, pembangunan di beberapa bidang sudah banyak dirasakan oleh masyarakat. "Pembangunan selama ini berlangsung sehat, ideal, dan berwawasan lingkungan," ujar Bupati Karawang Ade Swara.

Kegiatan ini diharapkan meningkatkan pasar produk lokal di tengah upaya meningkatkan perekonomian berbasis sumber daya lokal. Selain itu, hal tersebut menjadi sarana informasi yang luas bagi masyarakat terhadap pencapaian keberhasilan pembangunan selama ini.

Investasi asing

Penataan ruang di Karawang menjadi krusial sebab kabupaten yang merupakan lumbung padi nasional ini tengah diburu investasi asing, terutama Jepang. Selain membangun industri otomotif dan elektronik, Jepang juga berniat membantu membangun bandara internasional dan pelabuhan laut di Cilamaya, pantai utara Karawang.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Jabar, Karawang menempati urutan ketiga terbesar investasi atau memiliki porsi 43 persen dari total investasi di Jabar. Target Jabar adalah 16 persen dari investasi nasional sebesar Rp 390 triliun. Investor terbesar berasal dari Jepang, terutama di bidang industri logam dan mesin.

Bagi Pemerintah Indonesia, pembangunan bandara ini sekaligus untuk mengurangi beban Bandara Soekarno-Hatta yang kini sudah kelebihan kapasitas. Namun, bagi Karawang, hal itu menjadi dilematis, karena Karawang harus mempertahankan lumbung padi seluas 94.311 hektar sawah dengan produksi 1,435 juta ton gabah kering panen.

Sebagian besar sawah itu terletak di Karawang utara yang diairi dari Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Tiap tahun, lumbung padi itu menyusut 200 hektar karena beralih fungsi, terutama menjadi lahan tembok dan beton.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Aspri Eks Menpora Imam Nahrawi Dieksekusi ke Lapas Sukamiskin

Aspri Eks Menpora Imam Nahrawi Dieksekusi ke Lapas Sukamiskin

Nasional
Penyidik Kesulitan Usut Dugaan Investasi Bodong Kampung Kurma Group, Polri: Datanya Ambaradul

Penyidik Kesulitan Usut Dugaan Investasi Bodong Kampung Kurma Group, Polri: Datanya Ambaradul

Nasional
Covid-19 Masih Ada, Dokter Ingatkan Masyarakat Terapkan Germas untuk Jaga Vitalitas Tubuh

Covid-19 Masih Ada, Dokter Ingatkan Masyarakat Terapkan Germas untuk Jaga Vitalitas Tubuh

Nasional
Pakar Ingatkan Ancaman Penularan Covid-19 dari Klaster Keluarga di Jakarta

Pakar Ingatkan Ancaman Penularan Covid-19 dari Klaster Keluarga di Jakarta

Nasional
Satgas Covid-19: Datangnya Vaksin Bukan Berarti Pandemi Langsung Berakhir

Satgas Covid-19: Datangnya Vaksin Bukan Berarti Pandemi Langsung Berakhir

Nasional
KPK Amankan Uang Rp 425 Juta Saat OTT Wali Kota Cimahi

KPK Amankan Uang Rp 425 Juta Saat OTT Wali Kota Cimahi

Nasional
Sudah Terima Surat Mundur Edhy Prabowo, Sekjen Gerindra: Diteruskan ke Prabowo

Sudah Terima Surat Mundur Edhy Prabowo, Sekjen Gerindra: Diteruskan ke Prabowo

Nasional
Anita Kolopaking Akui Salah Artikan Permintaan Dokumen dari Djoko Tjandra

Anita Kolopaking Akui Salah Artikan Permintaan Dokumen dari Djoko Tjandra

Nasional
Sekjen Gerindra: Upaya Bantuan Hukum untuk Edhy Prabowo Harus Dihormati

Sekjen Gerindra: Upaya Bantuan Hukum untuk Edhy Prabowo Harus Dihormati

Nasional
Ketua DPR Minta Penyelenggara Pilkada 2020 Lebih Masif Sosialisasikan Protokol Kesehatan

Ketua DPR Minta Penyelenggara Pilkada 2020 Lebih Masif Sosialisasikan Protokol Kesehatan

Nasional
Epidemiolog Prediksi Penambahan Kasus Covid-19 Dalam Jumlah Tinggi Bisa Berlangsung Lama

Epidemiolog Prediksi Penambahan Kasus Covid-19 Dalam Jumlah Tinggi Bisa Berlangsung Lama

Nasional
Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Gerindra Minta Maaf ke Jokowi-Ma'ruf Amin

Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Gerindra Minta Maaf ke Jokowi-Ma'ruf Amin

Nasional
Fraksi Demokrat Minta Pemprov DKI Perbaiki Sasaran Penerima Jakwifi

Fraksi Demokrat Minta Pemprov DKI Perbaiki Sasaran Penerima Jakwifi

Nasional
JPU Kembalikan Berkas Perkara 6 Tersangka Kasus Kebakaran Gedung Kejagung ke Bareskrim

JPU Kembalikan Berkas Perkara 6 Tersangka Kasus Kebakaran Gedung Kejagung ke Bareskrim

Nasional
Terjaring OTT KPK, PDI-P Berhentikan Wali Kota Cimahi Tidak Hormat

Terjaring OTT KPK, PDI-P Berhentikan Wali Kota Cimahi Tidak Hormat

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X