Kompas.com - 24/03/2014, 15:54 WIB
Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra merayakan hari ulang tahun ke-6 dengan menggelar kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/3/2014). Rahmat Fiansyah/Kompas.comDewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra merayakan hari ulang tahun ke-6 dengan menggelar kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/3/2014).
Penulis Febrian
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bakti, menilai kegiatan kampanye pemilu legislatif (pileg) selama satu pekan lalu terlalu banyak menampilkan calon presiden sebagai juru kampanye. Menurutnya, hal itu justru mengurangi ruang bagi calon anggota legislatif untuk tampil di hadapan publik.

Ikrar mengatakan, saat ini partai politik peserta pemilu banyak memanfaatkan tokoh-tokoh elite partai untuk menjadi vote getter. Tokoh-tokoh penting itu dianggap memiliki posisi, kemampuan, kharisma, maupun kualitas lebih baik sehingga diharapkan dapat menjadi kekuatan mendulang dukungan massa.

"Seharusnya pada kampanye pemilu legislatif, yang banyak tampil itu adalah caleg. Ini malah tokoh-tokoh petinggi partai, bahkan capresnya yang sudah tampil ke depan duluan," kata Ikrar saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/3/2014).

Ia menilai bahwa kecilnya kesempatan mempromosikan diri ini dapat memicu kecurangan para caleg, antara lain munculnya politik uang. Kemungkinan itu bisa saja terjadi karena caleg khawatir tidak dapat meraup suara lebih banyak karena tidak tampil di hadapan banyak orang.

Ia menambahkan, sebaiknya para tokoh elite partai menahan diri tampil di awal kampanye dan memberi kesempatan besar bagi calon legislatif untuk mendekatkan diri dengan calon pemilihnya.

Guru Besar Universitas Indonesia tersebut mengatakan, sebaiknya para kontestan pemilu legislatif 2014 lebih banyak tampil di media untuk menyampaikan visi dan programnya kepada masyarakat. Menurutnya, sudah tidak zamannya lagi untuk kampanye di lapangan dengan mengerahkan massa sebanyak-banyaknya. Nyatanya, kampanye di lapangan masih marak dilakukan dan diramaikan oleh tokoh-tokoh elite partai.

"Jadi dalam proses demokrasi saya sarankan, harusnya caleg juga harus proaktif. Jangan malah mengambil jalan pintas dengan bagi-bagi duit," kata Ikrar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Tersangka Kasus Suap, Hakim Itong Isnaeni Diberhentikan Sementara

Jadi Tersangka Kasus Suap, Hakim Itong Isnaeni Diberhentikan Sementara

Nasional
KPK Amankan Uang Rp 140 Juta dalam OTT di PN Surabaya, Tanda Jadi untuk Hakim Itong Urus Perkara

KPK Amankan Uang Rp 140 Juta dalam OTT di PN Surabaya, Tanda Jadi untuk Hakim Itong Urus Perkara

Nasional
Hakim PN Surabaya 'Ngamuk' Saat KPK Umumkan Tersangka: Ini Omong Kosong!

Hakim PN Surabaya "Ngamuk" Saat KPK Umumkan Tersangka: Ini Omong Kosong!

Nasional
Hakim Itong, Panitera dan Pengacara yang Terjaring OTT di PN Surabaya Jadi Tersangka

Hakim Itong, Panitera dan Pengacara yang Terjaring OTT di PN Surabaya Jadi Tersangka

Nasional
RI Kecam Aksi Israel Gusur Permukiman Warga Palestina di Sheikh Jarah

RI Kecam Aksi Israel Gusur Permukiman Warga Palestina di Sheikh Jarah

Nasional
Satgas: Kasus Covid-19 dari Berbagai Varian di Indonesia Masih Terkendali

Satgas: Kasus Covid-19 dari Berbagai Varian di Indonesia Masih Terkendali

Nasional
KPK Sayangkan Rahmat Effendi Lakukan Pertemuan Daring di Luar Ketentuan

KPK Sayangkan Rahmat Effendi Lakukan Pertemuan Daring di Luar Ketentuan

Nasional
Kemenlu: RI Butuh Informasi Lebih Lengkap Untuk Kirim Bantuan ke Tonga

Kemenlu: RI Butuh Informasi Lebih Lengkap Untuk Kirim Bantuan ke Tonga

Nasional
Kemenkes: Kasus Covid-19 Varian Omicron Tembus 1.078

Kemenkes: Kasus Covid-19 Varian Omicron Tembus 1.078

Nasional
Hakim PN Surabaya yang Ditangkap, Itong Isnaeni Hidayat, Tiba di Gedung KPK

Hakim PN Surabaya yang Ditangkap, Itong Isnaeni Hidayat, Tiba di Gedung KPK

Nasional
Satgas: Kasus Covid-19 Naik 5 Kali Lipat dalam 3 Pekan

Satgas: Kasus Covid-19 Naik 5 Kali Lipat dalam 3 Pekan

Nasional
Kemenlu: Indonesia Bakal Kedatangan Vaksin dari Jerman dan China

Kemenlu: Indonesia Bakal Kedatangan Vaksin dari Jerman dan China

Nasional
Tahun 2022, Kementerian KP Fokus Genjot Peluang Investasi di Sektor Perikanan

Tahun 2022, Kementerian KP Fokus Genjot Peluang Investasi di Sektor Perikanan

Nasional
Sempat Kabur, Kakak Bupati Langkat Akhirnya Tiba di Gedung Merah Putih

Sempat Kabur, Kakak Bupati Langkat Akhirnya Tiba di Gedung Merah Putih

Nasional
Kemenlu Minta Malaysia Tindak Tegas Majikan yang Pekerjakan PMI Ilegal

Kemenlu Minta Malaysia Tindak Tegas Majikan yang Pekerjakan PMI Ilegal

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.