Kompas.com - 24/02/2014, 12:45 WIB
Suasana turunnya lahar hujan yang terjadi di sekitar Desa Pandansari, Ngantang, Malang, Jawa Timur, Selasa (18/2/2014). KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Suasana turunnya lahar hujan yang terjadi di sekitar Desa Pandansari, Ngantang, Malang, Jawa Timur, Selasa (18/2/2014).
Penulis Ary Wibowo
|
EditorPalupi Annisa Auliani

KOMPAS.com — Kamis, 13 Februari 2014, ketika Gunung Kelud sedang memorakporandakan dan melumpuhkan segalanya, saya teringat dengan berbagai sejarah panjang Kota Kediri di Jawa Timur. Ada cerita, mulai dari Kerajaan Singosari, hingga kutukan keris Mpu Gandring yang mencabut nyawa Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Anusapati, dan Tohjaya.

Sejarah Kediri punya begitu banyak periodisasi dengan cerita masing-masing. Terlalu banyak yang diceritakan, apalagi dikaitkan dengan bencana letusan Gunung Kelud itu. Namun, sekelebat ingatan membawa saya pada ucapan salah satu dosen dalam sebuah perkuliahan. "Sejarah itu berulang, dan sejarah dibuat untuk memproyeksikan masa depan yang lebih baik."

Ucapan dosen tersebut membuat saya tertegun. Selain letusan Gunung Kelud, saya langsung teringat dengan sejumlah bencana lain di Indonesia, dari tsunami Aceh, letusan Gunung Merapi di Yogyakarta pada 2010, dan Gunung Sinabung yang sekarang masih bergejolak. Buku Worldview: The History of a Concept karya David K Naugle pun segera saya rengkuh.

Immanuel Kant, yang dikutip pada halaman 58 buku Naugle itu, mengatakan bahwa memperluas istilah persepsi wawasan dunia seseorang bukan hanya dari pemahaman pancaindra seseorang terhadap hukum alam semata, tetapi juga berhubungan dengan ketegorisasi pengalaman moralnya.

Ketamakan

Dengan begitu, menurut Kant, sejarah adalah perantara interaksi antara alam dan hukumnya yang tidak terduga, dan juga merupakan perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar dan rasional. Jika melalaikan interaksi itu, maka manusia akan "dibarbarkan" oleh alam.

Maka dari itu, saya pun menimang-nimang kondisi bangsa Indonesia hari ini, manusia yang menghuni alam bernama Indonesia. Ada begitu banyak masalah moral. Setiap manusia seolah ingin memiliki segala-galanya. Perbuatan manusia tak lagi menggunakan rasio, tetapi juga kelicikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebut saja, maraknya kasus korupsi. "Kalau hakim korup, banyak. Tapi, Ketua Mahkamah (Konstitusi) ditangkap tangan, di dunia ini sepertinya baru terjadi di Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto, setelah Akil Mochtar tertangkap tangan dengan dugaan suap.

Ada pula kasus dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Banten Atut Chosiyah dan anggota keluarganya. Kasus Atut bahkan seolah menegaskan ucapan dosen saya dalam salah satu kuliahnya dulu. Sejarah adalah pengulangan. Hal ini menarik kembali catatan lama, jauh ke abad ke-15, pada era kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa.

Kala berkuasa, Sultan Ageng menuntut teguh iman para penguasa di bawah kekuasaannya untuk tak mudah terpikat bujuk rayu dan pemberian hadiah dari VOC. Merle Calvin Ricklefs dalam karyanya A History of Modern Indonesia Since C. 1200 (1981), menyebutkan, Sultan Ageng tampak menyadari betul niat VOC memonopoli ekonomi di Banten. Taktik divide et impera alias pecah belah VOC hanya dapat terjadi saat ikatan moral mulai longgar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Statuta UI Dinilai Cacat, Anggota Parpol Bisa Masuk MWA hingga Kewenangan Dewan Guru Besar Dikerdilkan

Statuta UI Dinilai Cacat, Anggota Parpol Bisa Masuk MWA hingga Kewenangan Dewan Guru Besar Dikerdilkan

Nasional
Pimpinan DPR: Jangan Sampai Ada Penimbunan Obat Terapi Covid-19

Pimpinan DPR: Jangan Sampai Ada Penimbunan Obat Terapi Covid-19

Nasional
Wapres: 14.385 Insan Pers Telah Divaksinasi Dosis Kedua

Wapres: 14.385 Insan Pers Telah Divaksinasi Dosis Kedua

Nasional
Ribuan Orang Meninggal Saat Isolasi Mandiri, Tanggung Jawab Negara Dinanti

Ribuan Orang Meninggal Saat Isolasi Mandiri, Tanggung Jawab Negara Dinanti

Nasional
UPDATE 24 Juli: Sebaran 45.416 Kasus Baru Covid-19, Paling Tinggi DKI Jakarta

UPDATE 24 Juli: Sebaran 45.416 Kasus Baru Covid-19, Paling Tinggi DKI Jakarta

Nasional
UPDATE 24 Juli: 17.475.996 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

UPDATE 24 Juli: 17.475.996 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Nasional
UPDATE 24 Juli: Sebanyak 252.696 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate Harian 25,24 Persen

UPDATE 24 Juli: Sebanyak 252.696 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate Harian 25,24 Persen

Nasional
Sebanyak 39.767 Pasien Covid-19 Sembuh dalam Sehari, Tertinggi Selama Pandemi

Sebanyak 39.767 Pasien Covid-19 Sembuh dalam Sehari, Tertinggi Selama Pandemi

Nasional
UPDATE 24 Juli: Ada 264.578 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 24 Juli: Ada 264.578 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 24 Juli: Ada 574.135 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 24 Juli: Ada 574.135 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 24 Juli: Bertambah 39.767, Jumlah Pasien Covid-19 yang Sembuh Mencapai 2.471.678

UPDATE 24 Juli: Bertambah 39.767, Jumlah Pasien Covid-19 yang Sembuh Mencapai 2.471.678

Nasional
UPDATE 24 Juli: Tambah 1.415, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Kini 82.013

UPDATE 24 Juli: Tambah 1.415, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Kini 82.013

Nasional
UPDATE 24 Juli: Bertambah 45.416, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini Capai 3.127.826 Orang

UPDATE 24 Juli: Bertambah 45.416, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini Capai 3.127.826 Orang

Nasional
BEM UI: PP 75/2021 tentang Statuta UI Harus Dicabut, Banyak Pasal Bermasalah

BEM UI: PP 75/2021 tentang Statuta UI Harus Dicabut, Banyak Pasal Bermasalah

Nasional
Ular Sanca 2 Meter Ditemukan di Ventilasi Kamar Mandi Rumah Warga di Pamulang

Ular Sanca 2 Meter Ditemukan di Ventilasi Kamar Mandi Rumah Warga di Pamulang

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X