Anies Baswedan: Proses Politik Mahal, Sumber Korupsi dan Menurunkan Kualitas Demokrasi

Kompas.com - 06/02/2014, 07:17 WIB
Anies Rasyid Baswedan dalam sesi wawancara saat berkunjung ke kantor redaksi Kompas.com, Palmerah, Jakarta, Rabu (29/1/2014). Anies Rasyid Baswedan merupakan salah satu peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.  KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Anies Rasyid Baswedan dalam sesi wawancara saat berkunjung ke kantor redaksi Kompas.com, Palmerah, Jakarta, Rabu (29/1/2014). Anies Rasyid Baswedan merupakan salah satu peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
BANDUNG, KOMPAS.com — Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan berpendapat, proses politik merupakan salah satu sumber terjadinya korupsi di Indonesia. Berpolitik, kata Anies, mahal karena banyak uang harus dikeluarkan dalam proses politik. Dia pun berpendapat, kondisi ini menurunkan kualitas demokrasi di Tanah Air.

“Saya ingin mendorong kualitas demokrasi kita meningkat. Demokrasi kita terpuruk karena mobilisasi rupiah besar-besaran dalam proses politik. Proses politik ini sumber dari berbagai macam praktik korupsi karena proses politik kita amat mahal,” kata Anies, dalam debat kandidat Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat di Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/2/2014) malam.

Anies mengatakan, salah satu cara untuk mendorong demokrasi adalah mengajak masyarakat turun tangan mengatasi masalah di Indonesia. “Kami memulai dengan gerakan yang namanya turun tangan. Semua relawannya nol rupiah. Aktivitas yang dikerjakan yang berangkat dari hati, dan itu dikerjakan secara serius. Ini adalah usaha untuk meningkatkan kualitas politik kita,” terangnya.

Menurut pendiri gerakan Indonesia Mengajar ini, proses politik harus dikerjakan secara gotong royong. Pemimpin, lanjut Anies, tidak mungkin dapat menyelesaikan masalah seorang diri.

“Kalau proses politik dikerjakan sebagai gotong royong yang merupakan inti dari Pancasila kita, maka kita bisa mendorong kualitas demokrasi kita menjadi lebih baik,” kata dia.

Sebelumnya, Anies mengatakan, jika dia terpilih menjadi calon presiden dari Partai Demokrat untuk Pemilu Presiden 2014, maka dia akan menawarkan gaya kepemimpinan seperti cara bermain angklung. Laiknya bermain angklung, kata dia, bila semua pemain bergerak seirama, maka akan memperoleh harmoni yang indah. "Dengan demikian, kerja secara bergotong royong akan membuahkan hasil yang diinginkan."



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Intoleransi, Mendikbud Akan Keluarkan SE dan Buka 'Hotline' Pengaduan

Cegah Intoleransi, Mendikbud Akan Keluarkan SE dan Buka "Hotline" Pengaduan

Nasional
Kemenhan Buka Pendaftaran Komponen Cadangan setelah Terbit Peraturan Menteri

Kemenhan Buka Pendaftaran Komponen Cadangan setelah Terbit Peraturan Menteri

Nasional
Kemenkes Berharap WNI di Luar Negeri Mendapat Vaksin Covid-19 dari Pemerintah Setempat

Kemenkes Berharap WNI di Luar Negeri Mendapat Vaksin Covid-19 dari Pemerintah Setempat

Nasional
Pemerintah Akan Tindak Tegas Praktik Intoleransi di Sekolah

Pemerintah Akan Tindak Tegas Praktik Intoleransi di Sekolah

Nasional
Jumlah Vaksin Terbatas, Pemerintah Tak Prioritaskan Penyintas Covid-19 dalam Vaksinasi

Jumlah Vaksin Terbatas, Pemerintah Tak Prioritaskan Penyintas Covid-19 dalam Vaksinasi

Nasional
Nadiem: Sekolah Tak Boleh Wajibkan Siswa Berseragam Model Pakaian Agama Tertentu

Nadiem: Sekolah Tak Boleh Wajibkan Siswa Berseragam Model Pakaian Agama Tertentu

Nasional
Rizieq Shihab Dilaporkan soal Lahan Pesantren di Megamendung, FPI: Kami Punya Bukti

Rizieq Shihab Dilaporkan soal Lahan Pesantren di Megamendung, FPI: Kami Punya Bukti

Nasional
UPDATE: Sebaran 11.788 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.512 Kasus

UPDATE: Sebaran 11.788 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.512 Kasus

Nasional
UPDATE 24 Januari: Ada 80.114 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

UPDATE 24 Januari: Ada 80.114 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 24 Januari: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Mencapai 162.617

UPDATE 24 Januari: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Mencapai 162.617

Nasional
UPDATE: Bertambah 48.002, Total 8.754.507 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

UPDATE: Bertambah 48.002, Total 8.754.507 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 24 Januari: Bertambah 171, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Kini 27.835

UPDATE 24 Januari: Bertambah 171, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Kini 27.835

Nasional
UPDATE 24 Januari: Bertambah 7.751, Pasien Sembuh dari Covid-19 Kini 798.810

UPDATE 24 Januari: Bertambah 7.751, Pasien Sembuh dari Covid-19 Kini 798.810

Nasional
UPDATE: Bertambah 11.788, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 989.262

UPDATE: Bertambah 11.788, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 989.262

Nasional
Kematian Anggota FPI Dilaporkan ke Komite Antipenyiksaan Internasional

Kematian Anggota FPI Dilaporkan ke Komite Antipenyiksaan Internasional

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X