Kompas.com - 17/01/2014, 20:05 WIB

Dari kiri ke kanan anggota Majelis Pertimbangan Partai Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera Arifinto, Sekjen PKS Taufik Ridho, dan Wasekjen Iwan Budi Setiawan mengumumkan peringkat suara nasional kandidat calon presiden hasil pemilihan raya (pemira) PKS dalam konferensi pers di DPP PKS, Jakarta, Minggu (29/12/2013). Hasil pemira tersebut menempatkan Hidayat Nur Wahid sebagai peringkat pertama disusul berturut-turut Anis Matta, Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, dan Nur Mahmudi Ismail. () TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Dari kiri ke kanan anggota Majelis Pertimbangan Partai Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera Arifinto, Sekjen PKS Taufik Ridho, dan Wasekjen Iwan Budi Setiawan mengumumkan peringkat suara nasional kandidat calon presiden hasil pemilihan raya (pemira) PKS dalam konferensi pers di DPP PKS, Jakarta, Minggu (29/12/2013). Hasil pemira tersebut menempatkan Hidayat Nur Wahid sebagai peringkat pertama disusul berturut-turut Anis Matta, Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, dan Nur Mahmudi Ismail. ()
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHindra Liauw

JAKARTA, KOMPAS.com – Partai Keadilan Sejahtera telah melaksanakan Pemilihan Raya (Pemira) untuk menjaring bakal calon presiden yang akan diusung partai tersebut. Kendati demikian, seluruh bakal capres hasil pemira dinilai kurang populer.

Hal itu berdasarkan hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB). Dari lima nama bakal capres hasil pemira, hanya tiga saja yang dianggap paling dikenal masyarakat. Meski demikian, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa elektabilitas ketiga bakal capres itu masih rendah.

“Tiga saja sudah rendah, apalagi lima-limanya dimasukkan,” kata peneliti PDB Didik J Rachbini saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/1/2014).

Ketiga bakal capres yang masuk di dalam survei PDB itu adalah Ahmad Heryawan, Anis Matta, dan Hidayat Nur Wahid. Sedangkan, dua lainnya yaitu Tifatul Sembiring dan Nur Mahmudi Ismail tidak masuk dalam survei.

Berdasarkan hasil survei, Didik mengatakan, tingkat elektabilitas Hidayat Nur Wahid dan Anis Matta hanya 0,4 persen. Sementara itu, elektabilitas Ahmad Heryawan hanya 0,3 persen. Didik mengatakan tak mengetahui penyebab rendahnya elektabilitas ketiganya.

Menurutnya, survei yang dilakukan PDB terhadap elektabilitas seorang capres hanya berdasarkan nama populer saja. “Saya tidak tahu kenapa tingkat elektabilitas mereka bisa serendah itu,” ujarnya.

Survei tersebut dilakukan dengan metode wawancara telepon pada 4-8 Januari 2013. Survei dilakukan terhadap 1.200 responden di 11 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Denpasar, Balikpapan, Makassar, dan Jayapura. Margin of error dalam survei tersebut ± 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penambahan 245 Kasus Baru Covid-19 dan Kenaikan di 17 Kabupaten/Kota

Penambahan 245 Kasus Baru Covid-19 dan Kenaikan di 17 Kabupaten/Kota

Nasional
Nama-nama Petahana yang Lolos Seleksi Tertulis Calon Anggota KPU-Bawaslu

Nama-nama Petahana yang Lolos Seleksi Tertulis Calon Anggota KPU-Bawaslu

Nasional
Risma Minta Tunarungu Bicara, Teman Tuli Sebut Lebih Suka Berbahasa Isyarat

Risma Minta Tunarungu Bicara, Teman Tuli Sebut Lebih Suka Berbahasa Isyarat

Nasional
Kritik Mahfud, Pakar: Tak Ada yang Membingungkan dalam Putusan MK soal UU Cipta Kerja

Kritik Mahfud, Pakar: Tak Ada yang Membingungkan dalam Putusan MK soal UU Cipta Kerja

Nasional
Prabowo Digugat Eks Ketua DPC Rp 501 Miliar, Gerindra: Santai Sajalah

Prabowo Digugat Eks Ketua DPC Rp 501 Miliar, Gerindra: Santai Sajalah

Nasional
Eks Pegawai KPK Dinilai Akan Berkontribusi Positif di Kepolisian

Eks Pegawai KPK Dinilai Akan Berkontribusi Positif di Kepolisian

Nasional
UPDATE 3 Desember: Vaksinasi Covid-19 Lansia Dosis Pertama Capai 54,41 Persen

UPDATE 3 Desember: Vaksinasi Covid-19 Lansia Dosis Pertama Capai 54,41 Persen

Nasional
Gugat Prabowo, Eks Ketua DPC Gerindra Blora Ingin Pemecatannya Dibatalkan

Gugat Prabowo, Eks Ketua DPC Gerindra Blora Ingin Pemecatannya Dibatalkan

Nasional
Raih Penghargaan Wakaf Produktif, Dompet Dhuafa Bersemangat Tingkatkan Inovasi

Raih Penghargaan Wakaf Produktif, Dompet Dhuafa Bersemangat Tingkatkan Inovasi

Nasional
Mensos Risma Diminta Berinovasi, Bukan Minta Tunarungu Bicara

Mensos Risma Diminta Berinovasi, Bukan Minta Tunarungu Bicara

Nasional
Aturan Jadi ASN Polri Terbit, MAKI Berharap Eks Pegawai KPK Segera Dilantik

Aturan Jadi ASN Polri Terbit, MAKI Berharap Eks Pegawai KPK Segera Dilantik

Nasional
Peraturan Jadi ASN Polri Terbit, Eks Pegawai KPK Tunggu Undangan Kapolri

Peraturan Jadi ASN Polri Terbit, Eks Pegawai KPK Tunggu Undangan Kapolri

Nasional
Surya Sahetapy: Teman Tuli Punya Cara Komunikasi yang Beragam

Surya Sahetapy: Teman Tuli Punya Cara Komunikasi yang Beragam

Nasional
Koalisi Penyandang Disabilitas Anti-audism Desak Mensos Risma Minta Maaf

Koalisi Penyandang Disabilitas Anti-audism Desak Mensos Risma Minta Maaf

Nasional
Risma Minta Anak Tuli Bicara, Orangtua: Sangat Menyakiti Hati Saya

Risma Minta Anak Tuli Bicara, Orangtua: Sangat Menyakiti Hati Saya

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.